Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH peristiwa baru saja terjadi, sebuah objek luar angkasa tak dikenal terekam menabrak permukaan Bulan secara langsung. Objek itu menciptakan kilatan cahaya singkat namun sangat terang yang berhasil ditangkap oleh Armagh Observatory and Planetarium di Irlandia.
Melansir laporan dari IFLScience dan video dokumentasi NASA Space News, tabrakan ini terjadi pada 12 Desember 2025 pukul 03:09 UTC. Umumnya, tabrakan bulan baru diketahui setelah meninjau rekaman berjam-jam.
Namun kali ini, pengamat atau ahli astronomi yang bertugas mengamati pergerakan pada kamera itu menyaksikannya secara live melalui layar teleskop. Kilatan cahaya tersebut berlangsung kurang dari satu detik di bagian Bulan yang sedang tidak terkena sinar matahari (sisi gelap).
Lokasi benturan diperkirakan berada di sebelah timur laut Kawah Langrenus atau kawan menonjol pada permukaan bulan. Meskipun kilatannya terlihat jelas, objek yang menabrak diperkirakan hanya berukuran beberapa sentimeter. Namun, karena melaju dengan kecepatan ekstrem sekitar 35 kilometer per detik, tabrakan tersebut menghasilkan energi panas dan cahaya yang sangat besar.
Para ahli menduga objek ini adalah bagian dari puing-puing hujan meteor Geminid. Berbeda dengan meteor di Bumi yang terbakar di atmosfer, objek di Bulan langsung menghantam permukaan karena Bulan tidak memiliki atmosfer untuk melindungi dirinya.
Peristiwa ini menambah panjang catatan sejarah "luka" di permukaan Bulan. Berdasarkan data dari NASA Science, Bulan sendiri diyakini terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu akibat tabrakan raksasa antara Bumi purba dengan objek seukuran planet Mars yang disebut Theia.
Puing-puing dari tabrakan dahsyat inilah yang kemudian menyatu menjadi Bulan yang kita lihat sekarang.
Sepanjang sejarahnya, Bulan telah mengalami berbagai tabrakan besar. Mengutip Space.com, beberapa tabrakan paling ikonik meliputi:
Memahami tabrakan seperti ini sangat penting bagi misi masa depan, terutama program Artemis milik NASA. Pengetahuan tentang seberapa sering "batuan kecil luar angkasa" menghantam Bulan membantu para pengamat atau ahli astronomi merancang habitat dan pakaian luar angkasa yang lebih kuat untuk melindungi astronot dari ancaman mikrometeoroid (partikel atau batuan kecil dari luar angkasa).
Keberhasilan merekam kejadian ini secara langsung membuktikan bahwa teknologi pemantauan luar angkasa kita semakin canggih. memungkinkan manusia melihat proses evolusi Bulan yang terus berubah akibat hantama benda langit setiap harinya .
Sumber: NASA Space News, IFLScience, NASA Science, Space.com.
Masa pensiun ISS mendekat pada 2030, namun stasiun ruang angkasa komersial penggantinya belum siap. AS hadapi risiko keamanan nasional dan persaingan ketat dengan Tiongkok.
Penentuan lintasan asteroid dilakukan melalui metode astrometri, yakni pengukuran posisi objek terhadap latar belakang bintang dari waktu ke waktu.
Teleskop Hubble NASA berhasil menangkap citra paling tajam komet antarbintang 3I/ATLAS. Objek misterius ini melaju hingga 209.000 km/jam dan berasal dari luar tata surya.
Walaupun suhu tersebut terlalu panas bagi keberadaan air cair di permukaan, planet ini menjadi subjek penelitian yang sangat berharga untuk memahami "lembah radius,"
Ilmuwan temukan potensi kacang arab sebagai sumber pangan masa depan utama di Bulan. Cek hasil penelitian NASA terkait ketahanan legum di tanah ekstrem luar angkasa.
Para astronom menyebut citra ini sebagai salah satu gambaran paling detail tentang bagaimana bintang seperti Matahari mengakhiri hidupnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved