Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM sebuah penemuan yang menantang pemahaman standar mengenai evolusi galaksi, para astronom berhasil mengidentifikasi salah satu struktur berputar paling kohesif dan terbesar di alam semesta.
Struktur ini, yang merupakan filamen materi raksasa sepanjang 50 juta tahun cahaya, berisi deretan galaksi yang tidak hanya sejajar tetapi juga berputar selaras dengan filamen induknya.
Penelitian ini, yang dipimpin oleh Lyla Jung dan Madalina Tudorache dari Universitas Oxford, dipublikasikan pada 4 Desember di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.
Filamen adalah benang dalam Jaring Kosmik (Cosmic Web), sebuah struktur skala besar yang terdiri dari materi gelap yang bercampur dengan materi biasa, membentang di seluruh alam semesta. Filamen yang ditemukan ini terletak 140 juta tahun cahaya dari Bumi dan memiliki struktur bersarang yang luar biasa.
Di intinya, terdapat deretan 14 galaksi yang kaya akan gas hidrogen (bahan bakar pembentukan bintang), membentang sepanjang 5,5 juta tahun cahaya. Deretan ini kemudian tertanam dalam filamen yang lebih besar yang merupakan rumah bagi sekitar 300 galaksi secara total.
Hal yang membuat struktur ini istimewa adalah kombinasi keselarasan dan gerak rotasi galaksi di dalamnya. Bayangkan jika setiap galaksi berputar pada porosnya sendiri, tetapi yang mengejutkan, seluruh galaksi tersebut juga berputar mengelilingi sumbu panjang filamen dengan kecepatan sekitar 110 kilometer per detik searah dengan putaran individual mereka.
"Anda bisa mengibaratkannya seperti wahana cangkir teh di taman hiburan," jelas Lyla Jung.
"Setiap galaksi seperti cangkir teh yang berputar, tetapi seluruh platformnya filamen kosmik juga berputar. Gerak ganda ini memberi kita wawasan langka tentang bagaimana galaksi mendapatkan putarannya dari struktur yang lebih besar tempat mereka berada," sambungnya.
Penemuan ini mengejutkan para astronom karena menantang model lama tentang pembentukan galaksi.
Rotasi galaksi, seperti Galaksi Bima Sakti kita, biasanya dianggap sebagai warisan dari awan gas berputar yang membentuknya miliaran tahun lalu. Namun, sejak saat itu, tabrakan dan penggabungan dengan galaksi lain seharusnya mengganggu rotasi tersebut.
Penemuan baru ini menunjukkan bahwa rotasi filamen raksasa ini jelas mendominasi bagaimana galaksi di dalamnya berputar.
Filamen tersebut mungkin menyalurkan gas hidrogen di sepanjang jalurnya, memaksa putaran galaksi dan sekaligus menyediakan bahan bakar baru untuk pembentukan bintang.
"Filamen ini adalah rekaman fosil aliran kosmik," kata Madalina Tudorache. "Filamen ini membantu kita memahami bagaimana galaksi memperoleh putarannya dan berkembang seiring waktu."
Para ilmuwan mencatat bahwa galaksi-galaksi dalam filamen ini tampak relatif muda dan berada pada tahap awal perkembangan. Hal ini menunjukkan bahwa aliran material sepanjang filamen dapat memengaruhi sifat galaksi hingga tingkat fundamental, sebuah temuan yang akan mengarah pada modifikasi penting dalam model kosmologi dan evolusi galaksi.
Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan 64 antena parabola dari teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan, dikombinasikan dengan data optik dari Dark Energy Spectroscopic Instrument dan Sloan Digital Sky Survey.
Temuan ini juga penting untuk meningkatkan akurasi survei lensa lemah di masa depan, seperti yang akan dilakukan oleh Observatorium Vera C. Rubin, yang bergantung pada pemetaan distorsi yang disebabkan oleh materi gelap dalam jaring kosmik.
Sumber: Space
Ilmuwan Jepang menciptakan simulasi superkomputer paling detail dari galaksi Bimasakti dengan 100 miliar partikel.
Sebanyak 14 galaksi yang berhenti bentuk bintang setelah Big Bang, berhasil ditemukan astronom menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb.
Pernahkah Anda bertanya mengapa orbit planet berbentuk datar seperti piringan? Simak penjelasan ilmiahnya.
Jauh di kedalaman rasi bintang Scutum, sekitar 5.100 tahun cahaya dari Bumi, bersemayam sebuah raksasa kosmik yang membuat Matahari kita tampak tak lebih dari sebutir pasir
Galaksi Bima Sakti ternyata tidak sekadar berputar di angkasa. Ia juga bergerak dinamis, seperti bergoyang.
Para ilmuwan kini semakin dekat untuk membuktikan keberadaan materi gelap, objek tidak terlihat yang diyakini membentuk lebih dari seperempat isi alam semesta.
Keistimewaannya terletak pada kadar logam yang sangat rendah, sehingga keberadaannya menantang pemahaman dasar tentang bagaimana bintang dapat terbentuk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved