Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA astronom akhirnya berhasil memecahkan misteri lama tentang bagaimana beberapa bintang tetap bersinar terang dan biru secara tidak wajar, meskipun usia mereka hampir setua alam semesta. Rahasianya ternyata cukup kelam: mereka menjadi "vampir" yang memangsa saudara bintangnya sendiri.
Bintang-bintang ini dikenal sebagai Blue Stragglers (sang pengelana biru). Selama lebih dari 70 tahun, keberadaan mereka membingungkan dunia sains karena menentang teori evolusi bintang standar. Harusnya, bintang dengan massa sebesar itu sudah lama mati dan meredup.
Dalam studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Communications, tim peneliti internasional menggunakan James Webb Space Telescope (JWST) untuk menganalisis 3.400 bintang Blue Stragglers di 48 gugus bola galaksi Bima Sakti. Hasilnya mengonfirmasi bintang-bintang ini tetap terlihat muda dengan menyedot gas dari pasangan biner mereka. "Suntikan bahan bakar" ini membuat mereka bersinar lebih panas, lebih biru, dan tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya.
Meskipun para ilmuwan sebelumnya mengira tabrakan kekerasan antar bintang adalah penyebab utama terbentuknya Blue Stragglers, data JWST menunjukkan skenario lain yang lebih halus, interaksi jangka panjang dalam sistem bintang ganda (biner).
Uniknya, penelitian ini menemukan bintang-bintang awet muda ini justru lebih jarang ditemukan di lingkungan yang sangat padat. Sebaliknya, mereka jauh lebih umum ditemukan di wilayah pinggiran gugus yang tenang dan rendah kepadatan.
"Gugus bintang yang penuh sesak bukanlah tempat yang ramah bagi kemitraan bintang," ujar salah satu penulis studi, Enrico Vesperini, astronom dari Indiana University. "Di tempat yang ruangnya sempit, sistem biner lebih mudah hancur, dan bintang-bintang kehilangan kesempatan mereka untuk tetap muda."
Di pusat gugus yang padat, gravitasi yang kacau bertindak seperti "mobil senggol" kosmik yang mencerai-berikan pasangan bintang sebelum mereka sempat bertukar gas. Akibatnya, efisiensi pembentukan dan kelangsungan hidup Blue Stragglers justru 20 kali lebih tinggi di lingkungan yang lebih tenang.
Gugus bola yang diteliti merupakan populasi bintang tertua di galaksi kita, dengan usia mencapai 12 miliar tahun, hampir mendekati usia alam semesta (13,8 miliar tahun). Karena Blue Stragglers memiliki massa yang lebih berat setelah "memangsa" pasangannya, mereka cenderung tenggelam ke pusat gugus seiring waktu melalui proses gesekan dinamis.
Pergerakan ini memberikan keuntungan bagi para ilmuwan. Mereka kini dapat menggunakan distribusi bintang-bintang ini sebagai "jam dinamis" untuk mengukur usia dan evolusi sebuah gugus bintang.
Penemuan ini menegaskan keseimbangan kosmik yang unik. Jika bintang-bintang ini terlahir dengan massa besar sejak awal, mereka akan mati jutaan tahun lalu sebagai supernova. Namun, dengan ukuran awal yang kecil dan strategi "vampir" yang tepat, mereka berhasil memperbarui masa hidup mereka. Meski harus mengonsumsi saudara mereka sendiri. (Live Science/Z-2)
Analisis data selama 200 tahun mengungkap fenomena langka. Bintang raksasa merah R Leonis mengalami percepatan denyut nadi kosmik. Simak penjelasannya.
Penelitian terbaru menggunakan data satelit TESS mengungkap bagaimana bintang yang menua menelan planet di sekitarnya. Apakah ini gambaran nasib akhir Bumi?
Dua studi terbaru mengungkap bintang pertama setelah Big Bang mungkin tidak selalu raksasa.
Temukan fakta mengejutkan tentang bintang terbesar di alam semesta seperti VY Canis Majoris, Betelgeuse, dan R136a1.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved