Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
MATAHARI kita saat ini berada di pertengahan masa hidupnya, yang berarti Bumi pun berada di titik yang sama. Namun, sebuah studi terbaru memberikan gambaran mengerikan tentang masa depan: ketika sebuah bintang kehabisan bahan bakar hidrogen, ia akan membengkak dan menelan planet-planet di sekitarnya. Meski nasib ini baru akan menimpa Bumi sekitar 5 miliar tahun lagi, para astronom telah menemukan "pratinjau" dari akhir dunia tersebut.
Menggunakan data dari satelit TESS (Transiting Exoplanet Survey Satellite), astronom Edward Bryant dari University of Warwick dan Vincent Van Eylen dari University College London membandingkan sistem bintang muda dengan bintang tua yang mendekati akhir hayatnya. Temuan mereka menunjukkan pola yang konsisten, planet-planet cenderung menghilang seiring bertambahnya usia bintang induknya.
"Kami melihat bahwa planet-planet ini menjadi semakin langka [seiring bertambahnya usia bintang]," ujar Bryant. Dengan kata lain, bintang-bintang tua menjadi "lapar" terhadap satelitnya sendiri.
Bintang yang membengkak tidak hanya menghancurkan planet melalui penelanan langsung. Saat tumbuh menjadi raksasa, bintang tersebut mengerahkan gaya pasang surut yang sangat besar. Gaya ini menyebabkan orbit planet membusuk, mengikis atmosfernya, bahkan dapat mencabik-cabik planet tersebut hingga hancur total.
Bryant menjelaskan hilangnya planet pada bintang tua bukan disebabkan kegagalan pembentukan planet di masa lalu. "Kami cukup yakin ini bukan karena efek pembentukan, karena kami tidak melihat perbedaan besar dalam massa dan [komposisi kimia] bintang-bintang ini dibandingkan dengan populasi bintang muda," tambahnya.
Dari 456.941 bintang tua yang diidentifikasi dalam data TESS, para peneliti hanya menemukan 130 planet atau kandidat planet dengan orbit dekat. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan rasio planet pada bintang muda, yang memperkuat teori bahwa gaya pasang surut menghancurkan planet-planet di sekitarnya seiring evolusi bintang.
Meski banyak sistem yang diamati memiliki planet seukuran Jupiter dengan orbit yang sangat singkat, para peneliti menegaskan massa bintang yang dipelajari sebanding dengan Matahari kita. Bintang dengan massa yang serupa akan melalui tahap kehidupan dan kematian yang sama, sehingga fenomena ini menjadi kunci untuk memahami masa depan Tata Surya.
Sabine Reffert, astronom dari Universitas Heidelberg yang tidak terlibat dalam studi ini, memuji pendekatan tersebut sebagai langkah besar dalam sains eksoplanet.
"Proses yang terjadi setelah bintang berevolusi dapat memberi tahu kita tentang interaksi antara planet dan bintang induknya. Kami belum pernah melihat perbedaan tingkat kejadian planet antara bintang muda dan raksasa sebelumnya karena kami tidak memiliki cukup banyak planet untuk melihat perbedaan ini secara statistik. Ini adalah pendekatan yang sangat menjanjikan," kata Reffert.
Masa depan Bumi memang masih sangat jauh, namun penelitian ini membantu manusia memahami bagaimana bintang dan planet berevolusi bersama. Dengan data tambahan dari misi Plato milik Badan Antariksa Eropa (ESA) yang akan meluncur pada Desember 2026, ilmuwan berharap dapat mengamati lebih detail bagaimana sebuah planet perlahan-lahan spiral menuju kehancurannya. (Space/Z-2)
Gerhana Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Penelitian terbaru mengungkap meteorit Mars Black Beauty menyimpan air purba jauh lebih banyak, memperkuat bukti Mars pernah basah dan layak huni.
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Para astronom menjelaskan bahwa gerhana Matahari bukanlah peristiwa acak, melainkan fenomena yang dapat diprediksi secara ilmiah melalui perhitungan orbit Bulan dan Bumi.
Gerhana Matahari cincin akan terjadi pada 17 Februari 2026. Fenomena ring of fire ini hanya terlihat sempurna di Antartika dan tidak dapat diamati dari Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved