Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Dunia astronomi kembali dikejutkan dengan penemuan gas nikel di sekitar komet antarbintang 3I/Atlas (sebelumnya dikenal sebagai C/2019 Q4 (Atlas)). Temuan ini diumumkan oleh para ilmuwan NASA dan European Southern Observatory (ESO), yang mengonfirmasi adanya gas nikel dalam komet yang berasal dari luar sistem tata surya kita.
Keberadaan Gas Nikel dalam Komet Antarbintang yang Menantang Pemahaman Astronomi
Meskipun nikel padat dapat ditemukan di komet, deteksi gas nikel dalam komet 3I/Atlas mengejutkan dunia ilmiah dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai pemahaman kita tentang komet dan kimia ruang angkasa.
Gas nikel dalam komet ini ditemukan jauh dari Matahari, di mana suhu seharusnya terlalu dingin untuk proses sublimasi yang biasanya terjadi pada suhu ekstrem.
Umumnya, komet mengandung logam berat dalam bentuk padat (debu atau butiran). Agar nikel padat berubah menjadi gas, suhu yang sangat ekstrem diperlukan, biasanya hanya ditemukan dekat Matahari. Namun, komet 3I/Atlas terdeteksi mengandung gas nikel meskipun berada jauh dari Matahari, di area yang sangat dingin.
Komet 3I/Atlas, sebagai objek antarbintang pertama yang terdeteksi setelah Oumuamua, menyublim jauh lebih cepat dan lebih efisien dibandingkan dengan komet dalam Tata Surya kita. Hal ini menunjukkan bahwa komposisi kimia komet ini sangat berbeda dari komet lokal yang kita amati.
Komet 3I/Atlas adalah objek antarbintang kedua yang terdeteksi, setelah Oumuamua. Penemuan gas nikel yang tidak biasa ini menambah misteri terkait objek antarbintang yang tampaknya melanggar aturan kimia dan fisika yang kita kenal di Tata Surya.
Selain gas nikel, komet 3I/Atlas menunjukkan perilaku aneh dengan percepatan yang tidak biasa saat mendekati Bumi. Hal ini mengindikasikan adanya pelepasan gas non-gravitasi yang kuat, menambah teka-teki mengenai komet ini.
Penemuan gas nikel dalam komet antarbintang 3I/Atlas memaksa para ilmuwan untuk mengevaluasi ulang model komet dan bagaimana logam berat berinteraksi dalam lingkungan ruang angkasa yang ekstrem.
Penemuan ini membuka kemungkinan bahwa komet antarbintang mungkin terbentuk di lingkungan yang sangat berbeda, misalnya, dekat bintang yang lebih panas, atau mengandung senyawa kimia yang memungkinkan pelepasan nikel pada suhu yang lebih rendah dari yang kita kira. (msn.com, space.com, earth.com, npr.org, gazetaexpress.com/Z-10)
Sistem peringatan dini benturan benda langit Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) berhasil mendeteksi sebuah objek yang melintas melalui Tata Surya.
Komet antarbintang 3I/ATLAS melintas paling dekat dengan Bumi malam ini, 19 Desember 2025. Simak cara mengamatinya dengan teleskop kecil.
Pada 3I/ATLAS, anti-tail tampak lebih tegas dan menonjol dibandingkan komet lain. Hal ini memicu kajian lanjutan untuk memastikan apakah bentuk tersebut murni efek optik
Komet antarbintang 3I/ATLAS akan melintas paling dekat dengan Bumi pada 19 Desember. Meski aman, momen ini penting bagi ilmuwan untuk mempelajari materi pembentuk planet dari luar tata surya.
Ilmuwan menduga 3I/ATLAS membawa material purba. Material itu diperkirakan berasal dari susunan pembentuk pada perbatasan awal Bima Sakti atau galaksi asing lainnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved