Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA hari tanpa bayangan terus menjadi perhatian publik setiap kali terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam istilah ilmiah, peristiwa ini disebut kulminasi utama, yaitu saat Matahari berada tepat di posisi tertinggi di langit, tepat di atas kepala pengamat.
Ketika fenomena ini terjadi, cahaya Matahari jatuh tegak lurus ke permukaan Bumi, menyebabkan bayangan benda tegak tampak “menghilang” karena bertumpuk dengan bendanya sendiri.
Melansir laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dijelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena sumbu rotasi Bumi tidak sejajar dengan bidang orbitnya saat mengelilingi Matahari. Akibat perbedaan kemiringan tersebut, posisi Matahari tampak bergeser dari utara ke selatan dan kembali lagi setiap tahunnya, antara 23,5° Lintang Utara hingga 23,5° Lintang Selatan.
Pergeseran inilah yang membuat wilayah di sekitar garis khatulistiwa, termasuk Indonesia, dapat mengalami kulminasi utama sebanyak dua kali dalam setahun.
Saat kulminasi utama berlangsung, intensitas cahaya Matahari di siang hari mencapai tingkat maksimum. Hal ini membuat suhu udara terasa jauh lebih panas dibandingkan hari biasanya.
Di beberapa wilayah, terutama yang minim pepohonan atau area perkotaan padat, kondisi ini bahkan mampu meningkatkan risiko dehidrasi dan kelelahan akibat paparan panas ekstrem. Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk membatasi aktivitas luar ruangan pada siang hari serta memperbanyak konsumsi air putih.
Terlepas dari dampaknya terhadap suhu, hari tanpa bayangan juga memiliki nilai edukatif dalam bidang astronomi. Fenomena ini menjadi bukti nyata dari gerak semu tahunan Matahari dan kemiringan sumbu Bumi yang berperan penting dalam pergantian musim.
BMKG menambahkan bahwa kulminasi utama tidak hanya terjadi di ibu kota provinsi, tetapi juga di berbagai wilayah Indonesia dengan waktu yang berbeda-beda sesuai garis lintang dan bujurnya.
Pada 2025, misalnya, Kota Pontianak mengalami kulminasi utama sebanyak dua kali, yakni pada 20 Maret pukul 11.50 WIB dan 23 September pukul 11.35 WIB. Sementara itu, di wilayah Jakarta, fenomena ini terjadi pada awal Oktober dan pada 21 Desember pukul 22.02 WIB, Matahari diprakirakan akan mencapai titik balik selatan. Meskipun hanya berlangsung sekitar satu hingga dua menit, masyarakat dapat mengamatinya secara langsung tanpa alat bantu khusus.
Cukup dengan menyiapkan benda tegak seperti tongkat, tiang, atau botol di tempat terbuka, pengamat dapat melihat momen ketika bayangan benda benar-benar menghilang di bawahnya. Fenomena sederhana tetapi menakjubkan ini menjadi pengingat akan keteraturan gerak langit dan kompleksitas sistem tata surya yang setiap tahunnya bisa kita saksikan dari Bumi.
Sumber: BMKG, Antara
Gempa bumi tektonik berkekuatan M 6,2 mengguncang wilayah Yalimo, Papua Pegunungan, Jumat (27/3/2026).
BMKG peringatkan hujan lebat hingga angin kencang saat arus balik Lebaran 2026. Potensi cuaca ekstrem terjadi di banyak wilayah.
Akan tetapi, katanya, mulai Kamis ini, kondisi atmosfer menunjukkan peningkatan pertumbuhan awan yang berpotensi memicu hujan di wilayah Cilacap dan sekitarnya.
BMKG Semarang peringatkan potensi bencana hidrometeorologi di Jawa Tengah dalam 3 hari ke depan. Cek daftar 10 daerah yang wajib waspada cuaca ekstrem!
PRAKIRAAN cuaca Jakarta 26-29 Maret 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah DKI Jakarta dan kepulauan seribu
Keunggulan dari penggunaan sensor VIIRS dan MODIS adalah kemampuannya dalam memantau wilayah yang sulit dijangkau secara langsung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved