Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA hari tanpa bayangan terus menjadi perhatian publik setiap kali terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam istilah ilmiah, peristiwa ini disebut kulminasi utama, yaitu saat Matahari berada tepat di posisi tertinggi di langit, tepat di atas kepala pengamat.
Ketika fenomena ini terjadi, cahaya Matahari jatuh tegak lurus ke permukaan Bumi, menyebabkan bayangan benda tegak tampak “menghilang” karena bertumpuk dengan bendanya sendiri.
Melansir laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dijelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena sumbu rotasi Bumi tidak sejajar dengan bidang orbitnya saat mengelilingi Matahari. Akibat perbedaan kemiringan tersebut, posisi Matahari tampak bergeser dari utara ke selatan dan kembali lagi setiap tahunnya, antara 23,5° Lintang Utara hingga 23,5° Lintang Selatan.
Pergeseran inilah yang membuat wilayah di sekitar garis khatulistiwa, termasuk Indonesia, dapat mengalami kulminasi utama sebanyak dua kali dalam setahun.
Saat kulminasi utama berlangsung, intensitas cahaya Matahari di siang hari mencapai tingkat maksimum. Hal ini membuat suhu udara terasa jauh lebih panas dibandingkan hari biasanya.
Di beberapa wilayah, terutama yang minim pepohonan atau area perkotaan padat, kondisi ini bahkan mampu meningkatkan risiko dehidrasi dan kelelahan akibat paparan panas ekstrem. Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk membatasi aktivitas luar ruangan pada siang hari serta memperbanyak konsumsi air putih.
Terlepas dari dampaknya terhadap suhu, hari tanpa bayangan juga memiliki nilai edukatif dalam bidang astronomi. Fenomena ini menjadi bukti nyata dari gerak semu tahunan Matahari dan kemiringan sumbu Bumi yang berperan penting dalam pergantian musim.
BMKG menambahkan bahwa kulminasi utama tidak hanya terjadi di ibu kota provinsi, tetapi juga di berbagai wilayah Indonesia dengan waktu yang berbeda-beda sesuai garis lintang dan bujurnya.
Pada 2025, misalnya, Kota Pontianak mengalami kulminasi utama sebanyak dua kali, yakni pada 20 Maret pukul 11.50 WIB dan 23 September pukul 11.35 WIB. Sementara itu, di wilayah Jakarta, fenomena ini terjadi pada awal Oktober dan pada 21 Desember pukul 22.02 WIB, Matahari diprakirakan akan mencapai titik balik selatan. Meskipun hanya berlangsung sekitar satu hingga dua menit, masyarakat dapat mengamatinya secara langsung tanpa alat bantu khusus.
Cukup dengan menyiapkan benda tegak seperti tongkat, tiang, atau botol di tempat terbuka, pengamat dapat melihat momen ketika bayangan benda benar-benar menghilang di bawahnya. Fenomena sederhana tetapi menakjubkan ini menjadi pengingat akan keteraturan gerak langit dan kompleksitas sistem tata surya yang setiap tahunnya bisa kita saksikan dari Bumi.
Sumber: BMKG, Antara
Selain hujan, angin kencang menyebabkan sejumlah pohon tumbang di beberapa titik.
BMKG: potensi cuaca ekstrem akibat Bibit Siklon Tropis 91S saat ini terpantau aktif di Samudra Hindia barat daya Nusa Tenggara Timur (NTT) dan berpeluang jadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan.
KEPALA BMKG periode 2017-2025 Dwikorita Karnawati menilai langkah pemerintah dalam menangani dan mengendalikan cuaca ekstrem saat ini sudah berada di jalur yang tepat.
BMKG memprakirakan potensi curah hujan dengan intensitas sedang- sangat lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada periode 23 - 29 Januari 2026 di Jawa Barat.
Cuaca ekstrem kembali merata berpotensi di 33 daerah di Jawa Tengah Jumat (23/1), selain masih ada air laut pasang (rob), gelombang tinggi.
BMKG tetapkan status AWAS cuaca ekstrem di Jakarta Jumat, 23 Januari 2026. Waspada hujan sangat lebat, kilat, dan angin kencang. Cek detail wilayahnya di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved