Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
Fenomena langka terjadi di langit pada akhir Oktober 2025. Dua meteor dilaporkan menghantam permukaan Bulan hanya dalam selang dua hari. Peristiwa ini pertama kali terekam oleh astronom amatir asal Jepang, Daichi Fujii, yang juga kurator di Museum Kota Hiratsuka. Ia berhasil merekam dua kilatan cahaya terang di sisi gelap Bulan, pada 30 Oktober dan 1 November 2025.
Kilatan pertama terlihat pada 30 Oktober sekitar pukul 20.30 waktu Jepang. Berdasarkan hasil analisis, cahaya tersebut muncul di wilayah timur kawah Gassendi, salah satu area datar di sisi barat daya Bulan.
Dua hari kemudian, pada 1 November, kilatan serupa kembali terlihat di lokasi berbeda. Kali ini di dekat wilayah luas bernama Oceanus Procellarum. Kedua kilatan tersebut hanya berlangsung sepersekian detik, namun cukup terang untuk terekam jelas oleh kamera teleskop Fujii.
Menurut laporan yang dikutip dari The New York Times dan Space.com, dua ledakan cahaya itu disebabkan oleh hantaman meteoroid kecil berukuran beberapa sentimeter.
Karena Bulan tidak memiliki atmosfer pelindung seperti Bumi, benda langit sekecil apapun yang datang dari luar angkasa dapat langsung menabrak permukaannya dan menghasilkan kilatan terang akibat energi benturan yang sangat besar.
Para ilmuwan memperkirakan, kecepatan meteor yang menghantam permukaan Bulan mencapai lebih dari 27 kilometer per detik, atau sekitar 60.000 mil per jam. Dengan kekuatan sebesar itu, meski ukurannya kecil, benda tersebut bisa menghasilkan kawah berdiameter tiga hingga sepuluh meter di permukaan Bulan.
Fenomena ini menjadi perhatian khusus karena jarang sekali dua hantaman terekam dalam waktu yang berdekatan. Menurut IFL Science dan Mashable, kejadian ini kemungkinan besar berkaitan dengan aktivitas hujan meteor tahunan Taurid yang puncaknya terjadi pada akhir Oktober hingga awal November.
Aliran partikel dari sisa komet Encke yang menjadi sumber hujan meteor tersebut dapat memicu hantaman ke Bulan maupun ke atmosfer Bumi.
Video rekaman Fujii kemudian dibagikan ke berbagai komunitas astronomi dan disahkan oleh lembaga pengamat langit Jepang (JAXA). Hasil verifikasi menunjukkan bahwa kedua peristiwa tersebut memang merupakan benturan nyata, bukan pantulan cahaya atau gangguan kamera.
Ahli astronomi menyebut, pengamatan seperti ini sangat penting untuk memahami seberapa sering permukaan Bulan terkena hantaman meteoroid.
Data ini dibutuhkan untuk mempersiapkan misi-misi eksplorasi manusia ke Bulan dalam beberapa tahun mendatang. NASA dan lembaga antariksa lainnya dapat menggunakan data ini untuk menentukan lokasi pendaratan yang lebih aman bagi wahana dan astronot. (ndtv.com, iflscience.com, space.com, nytimes.com, mashable.com/Z-10)
Sayangnya, Gerhana Matahari Cincin sempurna kali ini tidak melewati wilayah Indonesia dan hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika.
Geminid dikenal menghasilkan meteor yang bergerak lebih lambat dan terkadang berwarna-warni. Fenomena ini dapat dinikmati dengan baik oleh pengamat di wilayah Asia Tenggara
Fenomena-fenomena ini dapat disaksikan di berbagai belahan dunia, termasuk sebagian wilayah Asia dan Indonesia untuk beberapa peristiwa.
Langit berwarna oranye pekat terlihat di sejumlah wilayah Jawa Timur dan sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Hujan meteor Geminid akan mencapai puncaknya pada malam 13-14 Desember 2025 (Sabtu-Minggu). Fenomena astronomi tahunan ini bisa disaksikan dari berbagai belahan duni
Informasi ini membantu ilmuwan memahami masa depan aktivitas tektonik, kestabilan medan magnet, dan bagaimana Bumi terus berubah dari waktu ke waktu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved