Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP tahun, jutaan batuan luar angkasa melesat menuju Bumi. Sebagian besar terbakar habis di atmosfer dan tampak sekilas di langit sebagai bintang jatuh. Namun, sebagian kecil berhasil melewati lapisan udara dan benar-benar menghantam permukaan planet ini. Batuan yang mencapai tanah inilah yang disebut meteorit.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa kurang dari 10.000 meteorit benar-benar jatuh ke daratan atau perairan Bumi setiap tahunnya. Jumlah ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan Bulan, yang tidak memiliki atmosfer pelindung.
Bulan menerima hantaman batuan luar angkasa dalam berbagai ukuran dengan total sekitar 10 hingga 1.000 ton material setiap hari dan puluhan ribu tumbukan kecil setiap tahun.
Batuan luar angkasa yang berpotensi menjadi meteorit disebut meteoroid, yaitu asteroid kecil atau pecahan benda langit lain di tata surya. Menurut American Meteor Society (AMS), ukurannya bervariasi dari sekitar satu meter hingga mikrometeoroid yang sekecil butiran debu.
Sebagian besar meteoroid berasal dari pecahan asteroid atau komet, tetapi ada juga yang berasal dari planet lain. Lebih dari 300 meteorit yang ditemukan di Bumi diketahui berasal dari Mars, berdasarkan catatan Meteoritical Society.
Saat meteoroid memasuki atmosfer Bumi, gesekan dengan udara menyebabkan panas ekstrem yang membuatnya berpijar. Fenomena ini dikenal sebagai meteor, sementara meteor yang sangat terang disebut bola api atau fireball.
Ribuan bola api melintas di langit Bumi setiap hari, tetapi kebanyakan terjadi di atas lautan atau wilayah tak berpenghuni. Banyak pula yang tak terlihat karena tertutup cahaya matahari.
Astronom Gonzalo Tancredi dari University of the Republic, Uruguay, menjelaskan bahwa sebagian besar meteor yang terdeteksi berasal dari hujan meteor, yakni debu dan partikel yang dilepaskan oleh komet. Namun, hujan meteor umumnya tidak menghasilkan meteorit karena partikel penyusunnya terlalu rapuh untuk bertahan hingga mencapai permukaan.
Tancredi memperkirakan ada sekitar 6.100 meteorit yang jatuh ke Bumi setiap tahun, dengan sekitar 1.800 di antaranya menghantam daratan. Ia juga menambahkan bahwa batuan luar angkasa berdiameter sekitar 10 meter kemungkinan masuk ke atmosfer setiap enam hingga sepuluh tahun sekali.
Peristiwa besar seperti tumbukan di wilayah Tunguska, Rusia, pada tahun 1908 diperkirakan terjadi setiap 500 tahun sekali. Sementara itu, tumbukan asteroid berukuran sekitar satu kilometer—yang mampu menyebabkan bencana global, diperkirakan hanya terjadi sekali setiap 300.000 hingga 500.000 tahun.
Meskipun kemungkinan tumbukan besar sangatlah kecil, ilmuwan menegaskan pentingnya pemantauan benda langit yang berpotensi mendekati Bumi. Dengan teknologi observasi modern, manusia kini dapat lebih siap menghadapi ancaman kosmik yang sewaktu-waktu bisa datang dari luar angkasa.
Sumber: Live Science
Seorang pria menyimpan batu 17 kg selama 17 tahun yang dikiranya emas. Setelah diuji ilmuwan, ternyata meteorit kuno dari luar angkasa,
Selama proses membuka batu, Hole mencobanya dengan berbagai alat seperti gergaji batu, grinder sudut, bor, hingga merendamnya dalam air asam.
Rover Perseverance NASA menemukan batu logam kaya besi dan nikel yang diduga meteorit pertama dalam misinya di Mars.
Wahana antariksa ESA menangkap pola mirip barcode di lereng Mars. Penelitian baru menunjukkan fenomena ini bukan akibat tumbukan meteorit.
Ilmuwan Tiongkok temukan fragmen meteorit langka pada sampel Bulan dari misi Chang’e-6. Temuan ini bisa ungkap asal-usul air dan materi di Tata Surya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved