Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Ketika meteor melintas di langit malam, cahayanya sering menampilkan spektrum warna yang memukau, dari merah menyala hingga biru terang sebelum akhirnya lenyap di udara. Pemandangan singkat ini kerap memicu rasa ingin tahu: mengapa batuan luar angkasa bisa berganti warna saat jatuh ke Bumi?
Menurut NASA, warna meteor bergantung pada unsur logam yang terkandung dalam meteoroid. Saat memasuki atmosfer, gesekan hebat membuat batuan luar angkasa itu memanas hingga ribuan derajat Celsius. Panas ekstrem ini membakar unsur kimia di dalamnya, memancarkan cahaya dengan warna khas masing-masing.
Setiap logam memiliki tanda tangan warna tersendiri ketika terbakar.
Campuran berbagai unsur ini menciptakan gradasi warna yang tampak berganti seiring meteor melesat di langit.
Selain komposisi kimia, suhu juga berperan besar. Semakin tinggi suhunya, semakin pendek panjang gelombang cahaya yang dipancarkan, menjadikannya tampak kebiruan. Karena itu, meteor yang melaju sangat cepat biasanya berwarna biru, sementara yang lebih lambat terlihat merah atau kuning.
Fenomena ini mirip dengan cara kerja kembang api di Bumi. Dalam kembang api, senyawa logam digunakan untuk menciptakan warna tertentu saat terbakar. Meteor bekerja dengan prinsip serupa, bedanya, proses tersebut terjadi secara alami di atmosfer dengan energi jauh lebih besar.
Selain faktor kimia dan suhu, interaksi dengan gas atmosfer juga berperan. Nitrogen dan oksigen di udara dapat berpendar akibat panas, menambah efek cahaya di sekitar jejak meteor. Inilah yang membuat meteor tampak lebih terang dan berwarna kompleks ketika dilihat dari permukaan Bumi.
Dari analisis warna dan intensitas cahaya, astronom dapat memperkirakan kandungan kimia meteoroid, bahkan menelusuri asalnya, apakah dari sabuk asteroid atau sisa komet.
Fenomena ini membuktikan, keindahan langit malam bukan sekadar tontonan, melainkan hasil dari proses fisika dan kimia yang luar biasa.
Mars sejak lama dijuluki Planet Merah. Julukan ini sudah dikenal sejak zaman kuno, ketika berbagai peradaban mengamati langit malam dan melihat Mars bersinar dengan warna kemerahan.
Komet antarbintang 3I/ATLAS melintas paling dekat dengan Bumi malam ini, 19 Desember 2025. Simak cara mengamatinya dengan teleskop kecil.
Langit malam Indonesia baru-baru ini disinari oleh pertunjukan cahaya yang spektakuler dari Hujan Meteor Taurid Utara.
Komet adalah bola salju kotor di luar angkasa. Pelajari pengertian, struktur fisik, inti, dan jenis-jenis komet serta perannya dalam Tata Surya.
Agustus 2025 menghadirkan langit malam yang memikat bagi para pengamat bintang. Dari hujan meteor menawan hingga konjungsi langka antarplanet
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved