Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
Ketika meteor melintas di langit malam, cahayanya sering menampilkan spektrum warna yang memukau, dari merah menyala hingga biru terang sebelum akhirnya lenyap di udara. Pemandangan singkat ini kerap memicu rasa ingin tahu: mengapa batuan luar angkasa bisa berganti warna saat jatuh ke Bumi?
Menurut NASA, warna meteor bergantung pada unsur logam yang terkandung dalam meteoroid. Saat memasuki atmosfer, gesekan hebat membuat batuan luar angkasa itu memanas hingga ribuan derajat Celsius. Panas ekstrem ini membakar unsur kimia di dalamnya, memancarkan cahaya dengan warna khas masing-masing.
Setiap logam memiliki tanda tangan warna tersendiri ketika terbakar.
Campuran berbagai unsur ini menciptakan gradasi warna yang tampak berganti seiring meteor melesat di langit.
Selain komposisi kimia, suhu juga berperan besar. Semakin tinggi suhunya, semakin pendek panjang gelombang cahaya yang dipancarkan, menjadikannya tampak kebiruan. Karena itu, meteor yang melaju sangat cepat biasanya berwarna biru, sementara yang lebih lambat terlihat merah atau kuning.
Fenomena ini mirip dengan cara kerja kembang api di Bumi. Dalam kembang api, senyawa logam digunakan untuk menciptakan warna tertentu saat terbakar. Meteor bekerja dengan prinsip serupa, bedanya, proses tersebut terjadi secara alami di atmosfer dengan energi jauh lebih besar.
Selain faktor kimia dan suhu, interaksi dengan gas atmosfer juga berperan. Nitrogen dan oksigen di udara dapat berpendar akibat panas, menambah efek cahaya di sekitar jejak meteor. Inilah yang membuat meteor tampak lebih terang dan berwarna kompleks ketika dilihat dari permukaan Bumi.
Dari analisis warna dan intensitas cahaya, astronom dapat memperkirakan kandungan kimia meteoroid, bahkan menelusuri asalnya, apakah dari sabuk asteroid atau sisa komet.
Fenomena ini membuktikan, keindahan langit malam bukan sekadar tontonan, melainkan hasil dari proses fisika dan kimia yang luar biasa.
Pink Moon 2026 akan menghiasi langit awal April dan bisa disaksikan dari Indonesia. Simak jadwal puncak, waktu terbaik melihatnya, serta fakta menarik tentang fenomena bulan purnama ini.
Jelajahi daftar fenomena langit April 2026 di Indonesia, mulai dari Pink Moon, Elongasi Merkurius, hingga puncak Hujan Meteor Lyrid yang memukau.
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Fenomena parade planet akan menghadirkan enam planet di langit malam pada akhir Februari.
Komet C/2026 A1 (MAPS), anggota Kreutz sungrazer yang langka, diprediksi dapat bersinar terang di langit Bumi pada April 2026, seterang Venus, jika bertahan dari panas Matahari.
Temukan jadwal lengkap dan cara melihat parade 6 planet sejajar pada Februari 2026 dari wilayah Indonesia. Fenomena langka di awal Ramadan!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved