Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA batu berlayar di Racetrack Playa, Death Valley, California, telah lama menjadi teka-teki yang membingungkan ilmuwan dan pengunjung. Batu-batu ini tampak meluncur sendiri di atas permukaan danau kering, meninggalkan jejak panjang di tanah.
Apa yang membuat mereka bergerak? Misteri ini akhirnya terpecahkan pada 2014 berkat penelitian dua sepupu menemukan batu-batu tersebut bergerak akibat kombinasi es tipis, air dangkal, dan angin sepoi-sepoi di musim dingin.
Sejak awal abad ke-20, banyak teori bermunculan untuk menjelaskan pergerakan batu di Racetrack Playa. Beberapa orang meyakini angin kencang menjadi penyebabnya, sementara teori lain mengaitkannya dengan medan magnet hingga campur tangan makhluk luar angkasa. Namun, penelitian yang dipublikasikan pada Agustus 2014 mengungkapkan penjelasan yang lebih masuk akal dan dapat dibuktikan secara ilmiah.
Dua peneliti, Richard D. Norris dan James M. Norris, menemukan pergerakan batu terjadi ketika lapisan es tipis terbentuk di atas permukaan danau yang dangkal saat suhu turun di malam hari. Ketika matahari terbit, es mulai mencair dan membentuk panel-panel besar yang mengapung. Panel-panel es ini, didorong oleh angin ringan, menggerakkan batu-batu tersebut dengan kecepatan rendah, menciptakan jejak di permukaan tanah.
Pada 2011, Richard dan James Norris memulai penyelidikan mereka dengan mendirikan Slithering Stones Research Initiative. Mereka memasang stasiun cuaca di dekat Racetrack Playa dan menempatkan 15 batu dengan perangkat GPS untuk melacak pergerakannya.
Hasil penelitian mereka mencapai puncaknya pada 4 dan 20 Desember 2013, ketika mereka berhasil merekam batu-batu yang bergerak hingga 3–5 meter per menit menggunakan teknik fotografi selang waktu. Mereka menjadi orang pertama yang menyaksikan dan mendokumentasikan fenomena batu berlayar secara langsung.
"Kami mengira akan menunggu lima atau sepuluh tahun tanpa ada yang bergerak, tetapi dalam dua tahun saja, kami cukup beruntung untuk menyaksikan peristiwa ini terjadi," ujar Richard Norris.
Berdasarkan makalah mereka yang dipublikasikan di PLOS ONE, para peneliti menemukan lebih dari 60 batu bergerak pada 20 Desember 2013, dengan beberapa batu berpindah hingga 224 meter antara Desember 2013 dan Januari 2014.
Mereka menjelaskan pergerakan batu terjadi ketika lapisan es setebal 3–6 milimeter mulai mencair di bawah sinar matahari pagi. Angin sepoi-sepoi dengan kecepatan 4–5 meter per detik mendorong panel es terapung yang besar, menggerakkan batu-batu di sepanjang lintasan yang ditentukan arah angin dan air yang mengalir di bawah es.
Pergerakan batu berlayar di Racetrack Playa tergolong jarang terjadi, hanya sekitar sekali dalam dua hingga tiga tahun. Namun, jejak yang mereka tinggalkan dapat bertahan selama tiga hingga empat tahun. Batu dengan dasar kasar cenderung meninggalkan jejak lurus yang lebih jelas, sementara batu dengan dasar lebih halus cenderung bergerak secara acak.
Batu-batu ini terdiri dari dolomit dan syenit, dengan berat bervariasi dari beberapa ratus gram hingga ratusan kilogram. Dengan penelitian ini, misteri yang telah membingungkan ilmuwan dan masyarakat selama bertahun-tahun akhirnya terungkap: batu berlayar di Racetrack Playa bukanlah hasil dari kekuatan supranatural, melainkan kombinasi es tipis, angin, dan air yang bekerja bersama untuk menggerakkannya.
Fenomena batu berlayar di Racetrack Playa telah menarik perhatian banyak orang selama lebih dari satu abad. Berkat penelitian ilmiah yang dilakukan Richard dan James Norris, kini kita memahami bahwa pergerakan batu tersebut disebabkan oleh kombinasi unik dari es tipis, angin, dan air dangkal.
Misteri yang dulu dianggap aneh dan penuh spekulasi kini memiliki jawaban ilmiah yang masuk akal. Dengan demikian, Racetrack Playa tetap menjadi salah satu lokasi alam yang paling menarik untuk dikunjungi, tidak hanya karena keindahannya tetapi juga karena keajaiban geologinya yang unik. (earthsky/Z-2)
Penelitian ini menawarkan rekomendasi yang dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan regional.
Para ilmuan menemukan bahwa bagian otak yang awalnya dianggap hanya memproses penglihatan ternyata dapat memicu gema sensasi sentuhan.
Resiliensi petani merupakan syarat penting jika pengelolaan usaha kelapa di provinsi tersebut ingin berkelanjutan.
Hasil penelitian menemukan persoalan kental manis bukan hanya perihal ekonomi, tetapi juga regulasi yang terlalu longgar.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menilai Kitab Fikih Zakat karya Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene sangat relevan bagi pengelolaan zakat di era modern.
Efikasi masyarakat dan norma kelompok terbukti lebih berpengaruh terhadap partisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan pendekatan berbasis rasa takut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved