Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan menemukan kemungkinan kebocoran lambat dari inti Bumi, sebuah penemuan yang mengejutkan dan berpotensi mengubah pemahaman kita tentang planet ini. Penelitian terbaru menunjukkan isotop helium-3, elemen langka yang berasal dari Big Bang, dapat merembes dari inti terdalam Bumi menuju lapisan-lapisan luar seperti mantel dan kerak.
Penemuan ini dimulai dari analisis terhadap batuan vulkanik berusia 62 juta tahun yang ditemukan di kawasan Arktik. Para ahli geokimia dari Institut Teknologi California dan Institusi Oseanografi Woods Hole melakukan penelitian ini dan menemukan adanya konsentrasi helium-3 yang sangat tinggi, yang dianggap sebagai indikasi kuat inti Bumi mungkin melepaskan gas tersebut dengan sangat perlahan.
Helium-3 merupakan isotop helium yang hanya memiliki satu neutron. Sebagian besar helium-3 terbentuk saat Big Bang, sekitar 13,8 miliar tahun lalu. Ketika Bumi terbentuk 4,5 miliar tahun yang lalu, sebagian helium-3 terperangkap di dalam inti planet, sekitar 2.900 km di bawah permukaan.
Gas ini sangat langka di permukaan Bumi, tetapi jejaknya telah ditemukan dalam lava gunung berapi, yang menunjukkan adanya mekanisme tertentu yang memungkinkan helium-3 keluar dari cadangannya yang dalam.
Sebelumnya, ahli geokimia Forrest Horton juga mendeteksi rasio isotop helium yang sangat tinggi di ladang lava Baffin, jauh lebih tinggi daripada tingkat helium di atmosfer, yang menandakan kemungkinan adanya kebocoran dari inti.
Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di Nature Geoscience, para ilmuwan mengungkapkan peran mineral magnesium oksida (MgO), yang banyak terdapat di inti Bumi, dalam proses memindahkan helium-3 dari inti ke mantel. Proses ini dikenal dengan nama eksolusi, yakni transformasi mineral menjadi beberapa fase kristal terpisah. Ketika magnesium oksida naik menuju batas antara inti cair dan mantel yang lebih dingin, mineral ini membawa serta helium-3, membawanya keluar dari inti Bumi.
“Eksolusi magnesium oksida bertindak layaknya kapsul yang mengangkut helium dari inti menuju mantel,” kata Jie Deng, seorang ahli geofisika dari Universitas Princeton yang terlibat dalam penelitian ini. Peneliti juga melakukan pemodelan aliran helium sejak pembentukan inti Bumi, dan hasilnya menunjukkan kebocoran ini kemungkinan telah berlangsung sepanjang sejarah Bumi.
Penemuan ini tidak hanya memperdalam pemahaman kita tentang inti Bumi, tetapi juga memberikan wawasan mengenai bagaimana Bumi bisa menjadi tempat yang layak dihuni. Eksolusi mineral seperti magnesium oksida dapat memperkaya mantel dengan elemen-elemen penting, termasuk air dan karbon, yang memainkan peran krusial dalam mendukung siklus kehidupan di Bumi.
Menurut Deng, proses eksolusi yang terjadi di inti Bumi juga berperan dalam memengaruhi siklus air dan karbon, yang berdampak besar pada evolusi planet ini dalam jangka panjang. “Inti Bumi adalah penyimpanan utama air dan karbon,” ujarnya.
Misteri Inti Bumi yang Masih Belum Terungkap
Meskipun penelitian ini membuka banyak wawasan baru, inti Bumi tetap menjadi wilayah yang penuh misteri. Para ilmuwan terus berusaha mencari jawaban mengenai komposisi inti dan elemen ringan lain yang mungkin ada di dalamnya. Memahami lebih dalam tentang inti Bumi dapat memberikan petunjuk mengenai pembentukan planet ini dan kemungkinan kehidupan di luar Bumi.
Penelitian mengenai kebocoran helium-3 ini merupakan langkah awal yang penting dalam mengungkap misteri terdalam Bumi. Di masa depan, diharapkan lebih banyak eksplorasi dapat memberikan pemahaman yang lebih lengkap tentang dinamika inti Bumi dan peran pentingnya dalam menjaga keberlangsungan kehidupan di planet ini. (ndtv/vice/Z-3)
Para ilmuwan berhasil mengamati aluminium-20, isotop eksotis yang meluruh dengan memancarkan tiga proton berturut-turut.
Ilmuwan dari Universitas Bristol di Inggris mengembangkan baterai bertenaga nuklir pertama di dunia yang menggunakan isotop radioaktif karbon-14 yang tertanam dalam berlian.
Gugusan galaksi dikelilingi oleh kabut gas panas yang disebut intracluster medium, atau medium antargugus. Gas ini sering disebut sebagai atmosfer gugusan galaksi.
Teleskop James Webb menangkap cahaya supernova tertua yang pernah terdeteksi, berasal dari 13 miliar tahun lalu.
Riset terbaru mengungkap struktur simpul kosmik yang mungkin terbentuk setelah Big Bang dan berperan memunculkan ketidakseimbangan materi–antimateri.
Sinyal gelombang gravitasi langka dari LIGO-Virgo memicu dugaan adanya lubang hitam primordial yang terbentuk saat Big Bang. Namun, ilmuwan menilai peluang alarm palsu masih besar.
Studi terbaru menggunakan JWST mengungkap galaksi pertama di alam semesta bukanlah sistem yang rapi, melainkan kumpulan gas dan bintang yang kacau.
JWST berhasil memotret awan gas Sagittarius B2. Temuan ini mengungkap keindahan sekaligus misteri mengapa pembentukan bintang di jantung Bima Sakti.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved