Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA astronom mungkin menemukan jejak keberadaan "retakan alam semesta" setelah melakukan pengamatan mendalam terhadap galaksi-galaksi yang mencurigakan. Tim astrofisikawan mengungkapkan bahwa mereka mungkin telah menemukan bukti adanya “tali kosmik," sebuah struktur satu dimensi yang diyakini terbentuk di detik-detik awal ekspansi alam semesta.
Konsep tali kosmik pertama kali diperkenalkan oleh fisikawan teoretis Tom W.B. Kibble pada tahun 1970-an dan kemudian dikembangkan lebih jauh dalam teori tali. Struktur ini diperkirakan sangat sempit, bahkan jauh lebih kecil dari proton, tetapi memiliki panjang yang bisa membentang sejauh alam semesta.
Meski tali kosmik belum pernah terdeteksi sejak pembentukannya, para ilmuwan memiliki beberapa hipotesis tentang cara menemukannya. Salah satu idenya adalah dengan memanfaatkan momen ketika tali ini bersilangan, yang dapat memberikan peluang besar untuk mendeteksinya.
“Begitu terbentuk, sebuah loop akan hancur, Ia berosilasi, memancarkan radiasi gravitasi, menyusut, dan akhirnya menguap. Emisi gravitasi yang kuat terjadi pada titik-titik jepit loop, titik puncak, yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Semburan gelombang gravitasi yang kuat diperkirakan akan dihasilkan oleh titik puncak dawai kosmik.” ujar LIGO Scientific Collaboration yang dikutip dari laman iflscience, Rabu (26/11).
Selain itu, tali kosmik juga dapat terdeteksi melalui Latar Belakang Gelombang Mikro Kosmik (CMB), yakni radiasi peninggalan dari Big Bang yang tersebar di seluruh alam semesta. Dalam penelitian terbaru, tim menemukan beberapa kandidat potensial tali kosmik, dengan perhatian khusus pada area yang mereka sebut CSc-1.
Jika tali kosmik benar-benar ada, strukturnya yang sangat padat diperkirakan menjadi sumber gelombang gravitasi yang bisa terdeteksi. Tali ini juga mampu menyebabkan pelensaan gravitasi, yaitu fenomena ketika ruang-waktu melengkung akibat keberadaan objek yang sangat berat, sehingga memperbesar objek-objek di belakangnya bagi pengamat.
Melalui pengamatan dua galaksi di area CSc-1 menggunakan Teleskop Chandra Himalaya, para astronom menduga telah menemukan bukti pelensaan gravitasi.
Galaksi yang terlihat berdekatan tersebut, menurut tim, mungkin sebenarnya adalah satu galaksi yang dilensa oleh tali kosmik. Spektrum kedua galaksi itu menunjukkan kesamaan yang mencolok.
“Pemodelan data observasi kami di CSc-1 menunjukkan bahwa sejumlah besar pasangan dapat dijelaskan oleh geometri string yang kompleks,” tulis para peneliti dalam makalah mereka.
Menurut peneliti, dengan mempertimbangkan model string kosmik dengan lengkungan bidang gambar dapat meningkatkan pencarian kandidat peristiwa ini. Secara khusus, pemodelan pasangan galaksi SDSSJ110429-A,B telah menunjukkan bahwa sudut yang diamati antara komponen pasangan tersebut dapat dijelaskan jika string tersebut sangat condong ke garis pandang dan melengkung pada bidang gambar.
“Kami juga mendeteksi tanda tepi isophotal yang tajam pada satu gambar, yang bersama dengan data CMB dan spektral sangat menunjukkan kemungkinan deteksi [tali kosmik].” lanjut peneliti.
Walaupun temuan ini sangat menarik, para peneliti tetap berhati-hati. Ada kemungkinan galaksi-galaksi tersebut memiliki karakteristik yang mirip karena lahir dalam jarak dekat, atau pelensaan gravitasi yang terjadi mungkin disebabkan oleh faktor lain yang tidak biasa.
Dengan demikian, tim berencana untuk melanjutkan penelitian ini menggunakan teleskop yang lebih kuat guna mendapatkan bukti yang lebih jelas. (Iflscience/Z-9)
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Sabuk Orion terdiri dari tiga bintang superraksasa biru yang sangat terang. Alnitak, Alnilam, dan Mintaka bersinar hingga 200.000 kali Matahari.
Gerhana matahari cincin akan terjadi pada 17 Februari 2026. Simak fase, waktu puncak, lokasi pengamatan, dan alasan Indonesia tidak bisa menyaksikannya.
SEBUAH kerja sama ilmiah antara Korea Selatan dan Amerika Serikat berhasil mencatat terobosan penting di bidang astronomi melalui teleskop luar angkasa SPHEREx.
Gerhana Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Penelitian terbaru mengungkap meteorit Mars Black Beauty menyimpan air purba jauh lebih banyak, memperkuat bukti Mars pernah basah dan layak huni.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved