Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
ILMUAN terus mencari cara baru untuk mengatasi pemanasan global. Salah satu ide yang muncul adalah menggunakan debu berlian untuk mendinginkan Bumi.
Meskipun terdengar futuristik, rencana ini memiliki potensi untuk mengurangi suhu global hingga 1,6ºC, berdasarkan penelitian terbaru yang dipublikasikan di Geophysical Research Letters.
Dalam metode ini, sekitar 5 juta ton debu berlian akan disemprotkan ke stratosfer setiap tahun. Partikel berlian tersebut berfungsi untuk memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa, mirip dengan efek alami yang terjadi ketika gunung berapi meletus.
Contoh nyata dari fenomena ini adalah letusan Gunung Pinatubo pada tahun 1991, yang mendinginkan Bumi sebesar 0,5ºC selama beberapa tahun.
Namun, rencana ini bukan tanpa tantangan. Para ahli memperkirakan biayanya bisa mencapai $200 triliun hingga akhir abad ini, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode tradisional yang menggunakan sulfur.
Selain itu, debu berlian jauh lebih mahal, dengan biaya sekitar $500.000 per ton, sehingga membuatnya 2.400 kali lebih mahal daripada sulfur.
Penelitian ini juga menemukan bahwa meskipun sulfur lebih murah, penggunaannya memiliki banyak risiko, termasuk merusak lapisan ozon dan menyebabkan hujan asam.
Sebaliknya, partikel berlian tidak bereaksi dengan atmosfer dan tidak menyebabkan masalah lingkungan serius.
Namun, skeptisisme terhadap geoengineering tetap ada. Beberapa ilmuwan khawatir bahwa teknologi ini dapat menimbulkan dampak yang tidak terduga pada iklim.
Mereka berpendapat bahwa solusi terbaik tetaplah pengurangan emisi karbon secara signifikan.
Meskipun demikian, penelitian ini dilihat sebagai langkah penting untuk mengeksplorasi alternatif yang lebih aman dan efektif dalam menangani perubahan iklim. Ilmuwan percaya bahwa memahami berbagai solusi ini sangat penting, terutama ketika dunia terus menghadapi risiko pemanasan global yang semakin meningkat. (Z-10)
Sumber:
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Wahana Luar Angkasa yang Mendarat ke Bumi Berpotensi Rusak Lapisan Atmosfer? Begini Penjelasannya
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved