Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM mahasiswa dari tiga universitas di Amerika Serikat berhasil mengukur fenomena gerhana dapat memicu riak di atmosfer Bumi yang dikenal sebagai gelombang gravitasi atmosfer. Bukti keberadaan gelombang ini ditemukan dalam data yang dikumpulkan selama gerhana matahari total di Amerika Utara pada 14 Oktober 2023, sebagai bagian dari Nationwide Eclipse Ballooning Project (NEBP) yang didukung NASA.
Melalui NEBP, tim mahasiswa ditempatkan di sepanjang jalur gerhana yang melintasi beberapa negara bagian AS, di mana mereka meluncurkan balon cuaca yang membawa instrumen untuk eksperimen teknik atau sains atmosfer.
Salah satu tim sains di New Mexico berhasil mengumpulkan data yang secara jelas mengaitkan gerhana dengan pembentukan gelombang gravitasi atmosfer, temuan ini berpotensi meningkatkan akurasi prakiraan cuaca.
Baca juga : Wah, Lusa akan Ada Gerhana Matahari Sebagian
"Memahami bagaimana atmosfer bereaksi dalam kasus khusus gerhana membantu kita memahami atmosfer dengan lebih baik, yang membantu kita membuat prediksi cuaca lebih akurat dan, sehingga kita lebih memahami perubahan iklim."
Menangkap Gelombang di New Mexico
Tim balon cuaca sebelumnya telah berupaya mendeteksi gelombang gravitasi atmosfer selama gerhana-gerhana sebelumnya, melalui penelitian yang didukung oleh NASA dan National Science Foundation.
Baca juga : Ada Ketegangan Saat Boeing dan NASA Putuskan Mengembalikan Starliner Tanpa Astronaut
Pada 2019, tim NEBP yang berlokasi di Chile berhasil mengumpulkan data yang menjanjikan, namun terhalang dengan data yang tidak detail setelah melakukan uji pelepasan balon cuaca. Pada 2020 Dilakukan percobaan lanjutan yang kembali terhambat karena covid-19 dan hujan lebat di Chile.
Berdasarkan pengalaman ini, para ilmuwan memanfaatkan pelajaran yang didapat untuk percobaan tahun 2023 dengan menjadwalkan pelepasan balon setiap 15 menit dan memilih lokasi yang memiliki peluang keberhasilan terbaik.
“New Mexico tampak sangat menjanjikan,” ujar Jie Gong, peneliti di Laboratorium Iklim dan Radiasi NASA di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard, Greenbelt, Maryland, yang juga terlibat dalam penelitian gelombang gravitasi atmosfer.
Baca juga : Asteroid 2024 RW1 Terbakar di Atmosfer Bumi Tanpa Bahaya di Atas Lautan Pasifik
Proyek ini menjanjikan karena menciptakan "supersite" New Mexico di kota Moriarty. Dimana sebuah lokasi khusus didirikan di Moriarty, New Mexico, untuk mengumpulkan data ilmiah tentang gelombang gravitasi atmosfer yang disebabkan oleh gerhana. Supersite ini merupakan titik fokus di mana beberapa tim ilmuwan dan mahasiswa berkumpul untuk melakukan eksperimen secara lebih intensif dan terkoordinasi.
Melepaskan balon yang membawa radiosonde, sebuah paket instrumen yang mengukur suhu, lokasi, kelembaban, arah angin, dan kecepatan angin selama setiap detik perjalanannya melalui atmosfer. Radiosonde mengirimkan aliran data mentah ini ke tim di lapangan untuk kembali diolah sebagai bukti dari adanya gelombang gravitasi.
Kesuksesan tim terlihat tahun 2024, dimana terkonfirmasi gerhana telah menghasilkan gelombang gravitasi atmosfer di langit di atas New Mexico pada musim semi 2024.
Tidak hanya untuk membuktikan kehebatan sains, program ini juga memberikan pengalaman pertama bagi para siswa dalam mengumpulkan data. Dimana manfaat aktivitas ini lebih dari sekadar keterampilan teknis dan ilmiah.
"Para siswa belajar banyak melalui latihan meluncurkan balon cuaca," kata Kelsey. "Itu adalah kurva pembelajaran yang sangat besar. Mereka harus bekerja sama untuk memikirkan semua logistik dan memecahkan masalah. Ini adalah latihan yang bagus untuk keterampilan kerja tim." (NASA/Z-3)
Gerhana matahari cincin akan terjadi pada 17 Februari 2026. Simak fase, waktu puncak, lokasi pengamatan, dan alasan Indonesia tidak bisa menyaksikannya.
Bagi manusia, gerhana matahari sering menjadi momen yang menakjubkan dan mengundang rasa kagum. Namun, hal yang sama tidak berlaku bagi hewan
Gerhana matahari cincin diperkirakan berlangsung selama kurang lebih 271 menit dengan waktu maksimum matahari memperlihatkan “cincin api” selama 2 menit 20 detik.
Meskipun menawarkan pemandangan yang memukau, fenomena gerhana matahari cincin 17 Februari medatang secara teknis lebih berbahaya bagi mata.
FENOMENA Gerhana Matahari Cincin (GMC) yang akan berlangsung pada Selasa, 17 Februari 2026, memiliki kaitan erat dengan penentuan awal bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
FENOMENA langit Gerhana Matahari Cincin (GMC) dijadwalkan akan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026. Peristiwa yang sering dijuluki sebagai "Cincin Api" atau Ring of Fire.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved