Sabtu 31 Desember 2022, 08:05 WIB

Tahun Emas Teknologi Eksplorasi Angkasa Luar

Putri Rosmalia | Teknologi
Tahun Emas Teknologi Eksplorasi Angkasa Luar

Dok. 123RF.com

 

Setelah berbagai kejutan yang hadir di 2021, tahun 2022 kembali menjadi momen penting dalam dunia teknologi eksplorasi angkasa luar. Mulai dari NASA, European Space Agency (NSA), SpaceX, Blue Origin, hingga berbagai perusahaan rintisan pendukung eksplorasi angkasa luar berlomba-lomba melakukan inovasi dan gebrakan.

Dari peluncuran roket NASA ke Bulan, peluncuran teleskop James Webb, hingga kesuksesan NASA melakukan penggeseran benda antariksa atau misi DART. Semuanya berhasil terlaksana di tahun ini.

Berbagai kesuksesan yang tercapai membuka harapan pada kelanjutan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi eksplorasi ruang angkasa, termasuk dalam upaya penelusuran mikroorganisme dan potensi adanya kehidupan di angkasa luar.

Meski meraih banyak keberhasilan, perjalanan dalam mencapainya tak selalu mulus. Berbagai hambatan dan kegagalan pelaksanaan misi sempat terjadi. Salah satunya yang dialami NASA ketika akan meluncurkan Artemis I. Selain itu, berbagai perkembangan yang terjadi pun tak selalu mendapat tanggapan positif. Berbagai kekhawatiran juga bermunculan atas aktivitas yang dilakukan.

Menengok kembali perjalanannya selama setahun ke belakang, berikut ini rangkuman momentum bersejarah di dunia eksplorasi ruang angkasa sepanjang 2022, dilansir dari theverge.com, Kamis (22/12).

 

1. Peluncuran Artemis I

AFP/SANDY HUFFAKER

 

Peluncuran Artemis I menjadi hal membanggakan tak hanya bagi NASA, tetapi juga bagi dunia teknologi angkasa luar. Untuk pertama kalinya setelah 50 tahun berlalu, NASA kembali berhasil mendaratkan wahananya di Bulan. Pendaratan terakhir di Bulan dilakukan NASA pada 1972 dengan roket Apollo 17.

Artemis I merupakan penerbangan uji coba yang hanya berisikan kendaraan ruang angkasa dan beberapa manekin. Peluncurannya bertujuan melakukan pendataan tentang berbagai aspek yang akan memengaruhi teknologi Artemis II dan seterusnya, di antaranya tekanan udara, kelembapan, tegangan, dan potensi radiasi.

Uji coba dianggap perlu dilakukan sebelum benar-benar mengirimkan manusia kembali ke Bulan. Itu karena data yang dimiliki sejauh ini belum terbarui dengan detail, mengingat pendaratan terakhir terjadi setengah abad yang lalu.

Namun, meski masih uji coba, Artemis I tak pulang dengan hasil seadanya. Selain mendata kondisi lingkungan di sekitar orbit dan permukaan Bulan, Artemis I juga melakukan pengumpulan data untuk kebutuhan ilmu pengetahuan lainnya, yakni dengan peluncuran 10 satelit ilmiah kecil.

Salah satu satelitnya ialah BioSentinel yang memiliki kandungan menyerupai sel-sel mikroorganisme manusia. Penempatan BioSentinel di sana akan memungkinkan para peneliti mengetahui reaksi yang akan terjadi pada DNA manusia ketika berada di lingkungan Bulan dalam jangka panjang.

Artemis I diluncurkan pada 16 November 2022. Tak hanya NASA, beberapa lembaga angkasa luar lain seperti Badan Antariksa Kanada (CSA), Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (Jaxa), dan Badan Antariksa Eropa (ESA), juga ikut andil dalam kesuksesan misi Artemis I.

 

2. Misi DART

Misi Double Asteroid Redirection Test (DART) merupakan salah satu yang terpenting dan berdampak secara langsung bagi kelangsungan hidup manusia. Dalam misi pada Oktober 2022 tersebut, NASA berhasil menggeser objek antariksa, tepatnya orbit asteroid Dimorphos.

NASA dengan secara sengaja menabrakkan pesawat ulang-alik milik mereka ke asteroid Didymos yang berada di orbit Dimorphos. Penabrakan secara sengaja mendapatkan hasil positif, yakni keberhasilan menggeser Didymos hingga 4% dari posisi sebelumnya dan memperpendek perputarannya di orbit selama 32 menit.

Sekilas, misi DART akan mengingatkan pada beberapa film bertema penyelamatan bumi dari jatuhnya benda angkasa luar.

Misi DART diproyeksikan untuk terus dikembangkan dan dimatangkan. Dengan begitu, jika suatu hari Bumi benar-benar terancam oleh potensi jatuhnya asteroid, upaya penyelamatan dengan misi sejenis bisa dilakukan dengan sukses.

 

3. Teleskop James Webb

Dok. 123RF.com

 

Teleskop James Webb dapat dikatakan sebagai salah satu hal tentang teknologi angkasa luar yang paling menyita perhatian di 2022. Meskipun pertama kali diluncurkan pada Desember 2021, pemberitaan tentang James Webb banyak bermunculan sejak semester pertama 2022. Tepatnya ketika teleskop tersebut mulai aktif menangkap berbagai hal di angkasa luar, seperti foto alam semesta dan suara dari angkasa luar.

Terbaru pada 25 Desember 2022, NASA membagikan foto galaksi spiral yang berhasil tertangkap kamera James Webb. Galaksi tersebut berada pada jarak 220 juta tahun cahaya dari Bumi.

Temuan lain yang didapatkan dari James Webb ialah kandidat galaksi tertua di alam semesta. Galaksi bernama LASS-z13 itu diperkirakan sudah terbentuk 300 juta tahun setelah Big Bang, atau telah ada sejak 13,5 miliar tahun lalu. Terdapat juga temuan karbon dioksida di atmosfer eksoplanet.

Teleskop James Webb menjadi harapan besar bagi dunia ilmu pengetahuan dan eksplorasi ruang angkasa, mengingat telah banyak temuan berhasil didapat hanya dalam waktu satu tahun mengorbit. Sejak dibuat hingga saat ini mengorbit, teleskop tersebut berada di bawah kendali NASA, ESA, dan CSA.

James Webb dibuat dengan dana urunan dari AS, Kanada, Austria, Belgia, Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Irlandia, Belanda, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris. Negara-negara tersebut melakukan kerja sama dan urunan dana hingga mencapai US$10 miliar atau sekitar Rp140 triliun. Selain itu, mereka juga tetap harus mengeluarkan biaya untuk melakukan pemantauan dan menjalankan misi Webb selama setidaknya 15–20 tahun ke depan.

Webb merupakan teleskop yang paling besar di dunia dengan diameter cermin utama untuk melakukan pengamatan mencapai 6,5 meter dan menggunakan teknologi inframerah. Jauh melampaui teleskop ruang angkasa terbesar sebelumnya, yakni teleskop Hubble, yang memiliki cermin dengan panjang 2,4 meter.

 

4. Satelit Blue Walker 3

Blue Walker 3 adalah satelit komunikasi komersial terbesar yang telah mengorbit di angkasa luar. Lebar satelit tersebut mencapai lebih dari 212 meter. Diluncurkan pertama kali pada 14 November 2022, satelit ini milik perusahaan teknologi angkasa luar asal AS, AST Space Mobile. AST Space Mobile kerap disebut sebagai saingan ketat SpaceX dan Blue Origini dalam meluncurkan satelit-satelit komersial.

Dengan Blue Walker 3, AST Space Mobile mengatakan pihaknya menargetkan bisa menghadirkan jaringan internet paling cepat dan menjangkau seluruh area di Bumi. Bahkan hingga area-area terpencil yang saat ini masih tak terjangkau internet.

Dari berbagai laporan di angkasa luar, Blue Walker 3 dikatakan sebagai salah satu benda paling mencolok di sana saat ini. Selain karena ukurannya, juga karena cahaya yang terpancar dari mesinnya.

Meski mendatangkan banyak dukungan dan harapan akan keberhasilannya menghasilkan jaringan internet tak terbatas, Blue Walker 3 juga menuai kontroversi. Salah satunya karena tingkat keterangan cahaya yang dihasilkan dikhawatirkan dapat mengganggu ekosistem angkasa luar.

 

5. Tambang Asteroid

Wacana tentang tambang asteroid semakin serius untuk dicoba terealisasi oleh perusahaan teknologi angkasa luar. Dua perusahaan rintisan, Asteroid Mining Corporation asal Inggris dan High Earth Orbit Robotics asal Australia, saat ini menjadi yang paling gencar melakukan eksplorasi demi merealisasikan tambang asteroid. Hasil yang menggiurkan dari proses ekstraksi asteroid membuat usaha untuk menambangnya terus diupayakan supaya berhasil.

Tambang asteroid adalah upaya yang sejauh ini dilakukan oleh beberapa perusahaan swasta. Caranya dengan memanfaatkan teknologi satelit yang bisa melacak asteroid paling dekat, potensial, dan mudah terjangkau dari Bumi.

Jika berhasil menemukan asteroid tersebut, nantinya mereka akan melakukan melakukan proses ekstraksi mineral yang terkandung di dalamnya. Dari berbagai penelitian, asteroid memang diketahui kaya akan mineral bernilai tinggi seperti platinum, emas, dan besi.

Bisnis tambang asteroid disebut memiliki potensi keuntungan hingga miliaran dolar. Meski begitu, hal ini masih menjadi kontroversi, mengingat tak ada yang dapat memastikan dampak dari proses ekstraksi asteroid tersebut, baik bagi ekosistem angkasa luar maupun Bumi. (M-2)

 

Baca Juga

Ist

Shure Tawarkan Solusi AV Conferencing dengan Stem Ecosystem

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Januari 2023, 23:07 WIB
Sepertiga rapat perusahaan memiliki masalah teknis dan para pengguna sering menghadapi kesulitan saat bekerja dengan teknologi...
Ist

Shure Tawarkan Solusi AV Conferencing dengan Stem Ecosystem

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Januari 2023, 23:06 WIB
Sepertiga rapat perusahaan memiliki masalah teknis dan para pengguna sering menghadapi kesulitan saat bekerja dengan teknologi...
DOK PT KIIP KIIP INDONESIA

FW5 Charging Magnetic Cooler Punya Fitur Pendingin

👤Budi Ernanto 🕔Kamis 26 Januari 2023, 18:33 WIB
Cooling dimaksudkan untuk tetap menjaga suhu ponsel pintar tetap stabil tengah diisi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya