Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
Keamanan digital perlu dipahami setiap individu untuk menghindari dampak negatif dari perkembangan teknologi informasi yang semakin pasif. Orangtua dihadapkan tugas ganda, yakni menjaga keamanan pribadi dan menciptakan internet sehat bagi anak-anak mereka.
Internet sehat merupakan suatu upaya memastikan anak-anak mengakses internet dengan baik. Sekarang ini anak-anak terkadang mendapat konten yang belum sepantasnya, sehingga bisa dikatakan itu berbau negatif.
“Mungkin bagi kita tidak karena sudah dewasa, tapi bagi mereka yang masih tumbuh kembang, itu berperan sekali dalam proses tumbuh kembang mereka di kemudian hari,” kata Relawan Mafindo, Puji F. Susanti di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (16/7).
Anak-anak, kelompok usia 10-24 tahun, menempati posisi kedua data penetrasi pengguna internet Indonesia berdasarkan usia dengan catatan 75,5 persen. Angka tersebut mungkin akan semakin tinggi jika pendataan dilakukan dari usia tiga tahun yang merupakan digital native.
Sebagai digital migran, orangtua harus berlari lebih capat, sehingga bisa mengajari dan mengawasi anak. Jangan sampai anak mengabaikan risiko internet karena sudah terbiasa menggunakannya. “Orangtua pasti tidak bisa mengawasi anak 24 jam, tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar dan memperbaiki diri dalam pengasuhan, terutama bersama mereka di dunia digital,” ujar Puji.
Lebih lanjut, Puji mengatakan, orangtua harus mengajari anak agar mewaspadai 12 konten negatif di dunia digital. Pornografi, perjudian, kekerasan, pemerasan, provokasi SARA, hingga berita bohong. Konten-konten ini tidak diperkenankan untuk mereka, sehingga bisa dilaporkan ke aduankonten.id. (OL-12)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved