Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI masyarakat Indonesia, khususnya warga Bandung, yang hidup di era 80an, pasti familiar dengan nama PT Nurtanio yang kemudian berubah menjadi PT IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara). Pada zaman ketika istilah BUMN belum dikenal publik, menjadi pegawai IPTN adalah angan-angan kebanyakan orang. Apalagi anak muda.
Hal itu disampaikan Delianur, pemerhati sosial dan teknologi dalam percakapanya melalui Whatsapp dengan mediaindonesia.com, Minggu (5/7). Di luar sisi politis, IPTN memiliki brand image sangat positif di tengah masyarakat. Kerja utamanya untuk meneliti dan memproduksi pesawat terbang, adalah kerja yang berkaitan dengan kecerdasan dan kepintaran.
"Di tengah masyarakat agraris, hanya segelintir orang yang bisa mengerti teknologi kedirgantaraan. Karenanya hanya orang pintar dan cerdas lah yang dianggap bisa menjadi bagian dari perusahaan ini. Terlebih Habibie yang menjadi penggagas dan pemimpinnya juga adalah figur jenius bidang teknologi," ujarnya.
Namun, ungkap dia, keunggulan utama itu jatuh seketika. Keunggulan politis dan reputasi IPTN yang bergerak dalam teknologi terkini dan tercanggih, sirna.
Awalnya adalah krisis moneter di beberapa kawasan pada tahun 1997 yang juga menyeret Indonesia. Krisis ini bukan hanya membuat harga-harga melambung tinggi, tetapi juga membuat keuangan negara terkuras. IPTN yang keberadaannya selama ini ditopang pemerintah, mengalami imbasnya.
Namun kejatuhan IPTN bukan hanya berkaitan dengan dukungan politik dan ekonomi yang hilang seketika, tetapi juga arah perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang bergerak diluar dugaan. Sebelumnya orang menganggap bahwa teknik dan mesin adalah masa depan. "Karenanya IPTN yang bergerak di bidang ini, sangat strategis. Tetapi ternyata tidak seperti itu," ujar dia.
Berawal dari Departemen Pertahanan Amerika serikat tahun 1969 yang mengembangkan proyek ARPANET (Advanced Research Project Agency Network). Sebuah proyek pembuatan sistem jaringan komputer untuk menghubungkan daerah-daerah vital untuk kelancaran distribusi informasi dan komunikasi. Awalny proyek ini hanya menghubungkan empat situs saja; Stanford Research, University of California, Santa Barbara, dan University of Utah. Namun ternyata proyek ini berkembang pesat. Semua universitas di Amerika ingin bergabung.
Projek jarigan inipun dibagi dua. Milnet untuk keperluan militer dan Arpanet untuk kepentingan universitas-universitas. Gabungan keduanya diberi nama Darpa Internet yang kemudian disederhanakan dengan sebutan internet. Sampai akhirnya internet diperkenalkan ke publik, maka internet bukan hanya menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari tapi juga masa depan.
Dalam dunia internet, jelas dia, masa depan adalah informasi dan data. Algorithma, Big data, Artificial Intellegence adalah masa depan. Akselerasi manufaktur ke depan bukan hanya bertopang pada temuan bidang mesin, tapi pada pengelolaan data. Masa depan itu bukan teknologi Dirgantara dengan mesin dan teknik sebagai instrumen utama, tapi teknologi informasi dengan Data Science nya. bekerja di PT Telkom atau membuat start up, terdengar lebih seksi dan bereputasi ketimbang bekerja di PT Dirgantara Indonesia. Nama baru IPTN setelah krisis moneter.
Namun entah bagaimana, jelas Deliar, bila melihat catatan keuangan yang tersebar di media, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ini bisa pulih. Meski rugi hingga Rp3,92 triliun dengan ekuitas negatif Rp14,67 miliar pada 2007, sejak tahun 2009 sampai 2014 PTDI memperoleh kontrak Rp18,95 Triliun dan penjualan Rp13,97 triliun yang terdiri dari kontrak dengan pemerintah, 70%, dan non-pemerintah/luar negeri, 30%. Karenanya di akhir tahun 2014, PTDI mendapat laba sebesar US$ 19,3 Juta (Rp 250 Milyar). Meski perusahaan dirgantara global terus meningkat, terakhir tahun 2019 dinyatakan bahwa pendapatan perseroan naik hingga US$ 259,7 Juta hingga endapat laba bersih US$ 10,5 Juta
"Puncak kebangkitan PTDI sepertinya terlihat ketika perusahaan negara ini berhasil launching pesawat terbarunya; N-219 Nurtanio. Sebuah pesawat komersial serbaguna. Bisa membawa 19 penumpang dan juga kargo serta terbang dan mendarat di landasan pendek. Sangat cocok beroperasi untuk negara seperti Indonesia yang memiliki banyak daerah terpencil," paparnya.
Produk N-219, menurut Deliar, penting bagi PTDI dan industri pesawat terbang nusantara. Karena industri dirgantara meyakini bahwa memproduksi pesawat komersil akan menjadikan perusahaan lebih stabil dan mendapat keuntungan lebih besar. Ketimbang hanya menerima mendapat kontrak kerja dengan militer atau sub kontraktor perusahaan dirgantara dunia. Terlebih design dan produksi N-219 semuanya dilakukan oleh orang Indonesia.
Menurut Deliar, jika membaca catatan perjalanan PTDI setelah kebangkrutan, sepertinya suka atau tidak memberikan kredit point kepada direksi dan pegawai PTDI hasil restruksasi pasca krisis moneter. Perusahaan ini sempat dicibir karena menerima kontrak pekerjaan pembuatan panci. Namun dibalik itu sebetulnya terlihat ada semangat kebangkitan. "Itikad untuk memulai kembali dari dasar dengan mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Sampai mengerjakan sesuatu yang tidak pernah terbayang sebelumnya memproduksi panci," ujarnya.
Hal yang menarik adalah ketika PTDI launching N-219 Nurtanio pada 2017. Sebagaimana disebut sebelumnya, memproduksi pesawat komersial adalah tujuan besar sebuah pabrik pesawat. Karena dengan memproduksi pesawat komersil, perusahaan akan lebih stabil dan maju. Tidak mengandalkan pekerjaan sebagai sub kontraktor. Karenanya memproduksi pesawat berpenumpang kecil seperti N-219, adalah langkah awal untuk masuk ke pembuatan perusahaan komersial yang berkapasitas lebih besar lagi.
Jadi, papar dia, saat orang mencibir PTDI karena sudah mendegradasi dirinya dari pabrik pesawat terbang yang bernuansa hi-tech dengan memproduksi panci yang tidak ada kandungan teknologinya, pada saat bersamaan PTDI ternyata sedang merancang masa depan. Merencanakan membuat pesawat baru dengan rancangan dan produksinya dilakukan sendiri. Jadi bila PTDI sebelumnya lekat dengan figur Alm Habibie yang ambisius dan suka bergerak cepat, PTDI seperti berjalan lambat tapi pasti. Mungkin karena ini juga Alm Habibie sempat gemas dan nyeletuk kalau N-219 itu pesawat maianan.
Menurut Deliar, jika PTDI berhasil berbenah seperti sekarang, maka dia tidak hanya berhasil membangkitkan kembali industri dirgantara nasional, tapi juga menyambut ide Alm. Habibie tentang R80. Sebuah pesawat baling-baling yang mampu membawa 80-90 penumpang untuk penerbangan dan landasan jarak pendek. R80 bukan hanya dibutuhkan negara seperti Indonesia, tetapi juga negara-negara Arika dan Amerika Latin. Meski baru direncanakan mulai terbang tahun 2022, pesawat ini sudah dipesan 155 unit sehingga dianggap sebagai proyek yang sangat prospektif.
"Bila PTDI bisa sinergi dengan proyek R80, maka industri dirgantara nasional kita akan terus melangkah lebih jauh. Masuk ke pembuatan pesawat komersil dengan terus membuat pesawat komersil berspesifikasi lebih besar," tandasnya. (OL-13)
Baca Juga: Inovasi Teknologi Berkah Di Tengah Pandemi
Yulina memimpin bisnis yang memiliki lebih dari 500 kantor perwakilan, 3.700 gerai, dan lebih dari 6.000 karyawan di seluruh Nusantara.
Wamen UMKM Helvi Moraza menegaskan pentingnya penguatan ekosistem usaha, konektivitas rantai pasok, serta digitalisasi layanan agar UMKM
Sejumlah proyek percontohan microgrid terintegrasi berbasis PLTS disiapkan untuk area yang membutuhkan pasokan listrik besar tetapi masih terkendala akses jaringan listrik.
Tantangan terbesar freelancer saat ini bukan sekadar soal keahlian teknis, melainkan kemampuan beradaptasi.
AI telah berevolusi dari teknologi pendukung menjadi fondasi strategis dalam membangun daya saing brand.
Nama Michael Wisnu Wardhana mendadak menjadi perbincangan nasional setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kebakaran besar di Gedung Terra Drone.
Inisiatif ini mencerminkan komitmen kami terhadap inovasi dan kolaborasi, memastikan bahwa mata uang Indonesia tetap aman, tepercaya, dan siap menghadapi masa depan.
Masuknya AI ke dalam proses kerja sering kali memicu kekhawatiran sekaligus memperlebar celah keterampilan (skill gap) di kalangan karyawan.
Brian menjelaskan bahwa logam tanah jarang merupakan material strategis yang menjadi kunci dalam pengembangan industri kendaraan nasional (mobnas),
Dengan teknologi bedah robotik, standar perawatan bedah tidak lagi dibatasi oleh jarak geografis, melainkan ditentukan oleh kualitas keahlian dan presisi teknologi.
Program ini dirancang sebagai layanan berbasis medis yang aman. Melalui skrining ketat, penentuan dosis personal, hingga pendampingan ahli gizi.
Kerja sama dengan BRIN disebut akan menghadirkan teknologi pemeliharaan beras hasil karya dalam negeri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved