Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

Misi Irak Menembus Piala Dunia 2026: Berjuang di Tengah Bayang-Bayang Perang

Khoerun Nadif Rahmat
31/3/2026 13:17
Misi Irak Menembus Piala Dunia 2026: Berjuang di Tengah Bayang-Bayang Perang
Pelatih Timnas Irak Graham Arnold(X @Socceroos)

DI tengah kecamuk konflik yang melanda Timur Tengah, tim nasional Irak mengusung misi mustahil untuk mengamankan tiket Piala Dunia 2026. Pelatih Graham Arnold kini harus bekerja ekstra keras, bukan hanya meracik taktik, tetapi membentengi mental anak asuhnya dari kabar buruk perang jelang laga krusial babak play-off melawan Bolivia di Estadio BBVA Bancomer, Meksiko, Rabu (1/4).

Perjalanan skuat berjuluk Singa Mesopotamia ini menuju babak play-off antarbenua dipenuhi rintangan luar biasa. Para pemain yang berbasis di domestik harus menempuh perjalanan darat yang melelahkan menuju Yordania demi bisa terbang ke Meksiko, menghindari zona konflik yang kian memanas.

Meski persiapan terganggu hebat, Arnold bertekad agar situasi politik tidak menghancurkan mimpi Irak untuk tampil di putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak tahun 1986.

"Mewakili 46 juta orang adalah pengalaman yang unik. Sebagian besar tugas saya berfokus pada aspek mental," ujar Arnold dikutip dari AFP.

Menurut Arnold, kunci ketangguhan mental timnya adalah menjaga fokus pada lingkaran terkecil. Ia meminta para pemain untuk lebih memikirkan diri sendiri, keluarga, serta teman dekat daripada memikul beban seluruh negeri yang tengah bergejolak agar tekanan tidak menjadi terlalu besar.

Terjepit Perang

Persiapan Irak untuk babak play-off antarbenua itu memang sangat terganggu selama sebulan terakhir oleh dampak konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran.

Mayoritas penggawa skuat Irak baru mencapai Meksiko sekitar sepuluh hari yang lalu setelah perjalanan tiga hari dari Bagdad yang dimulai dengan penyeberangan darat ke Yordania.

Dikutip dari AFP, sedikitnya 101 orang tewas di Irak sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu. Situasi ini sempat membuat Arnold mendesak agar laga play-off hari Selasa tersebut ditunda.

"Ini merupakan bulan yang sangat sulit. Saya lebih suka tidak membicarakannya sekarang (perang di Timur Tengah). Saya sudah mencoba melindungi para pemain saya dari hal itu," kata Arnold. 

Ia menambahkan bahwa terlalu banyak hal yang terjadi di Timur Tengah, dan jika para pemain terlalu memikirkannya, hal itu akan mengganggu fokus mereka. Meski 20 hari terakhir terasa sangat berat, Arnold memastikan kondisi para pemainnya kini sudah lebih rileks. 

Arnold percaya bahwa kelolosan ke Piala Dunia bukan sekadar prestasi olahraga, melainkan instrumen kuat untuk mengubah persepsi dunia terhadap sebuah negara yang sering didera konflik.

"Di Irak, ada obsesi terhadap sepak bola; itu adalah olahraga nasional. Merupakan suatu kehormatan bekerja dengan para pemain ini, saya mencoba menjadi figur ayah minggu ini karena saya telah mengalami situasi (play-off) ini sebelumnya bersama Australia," pungkasnya. (P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya