Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
Kekecewaan mendalam menyelimuti pendukung Maroko usai tim nasional mereka gagal meraih gelar Piala Afrika. Dalam laga final yang berlangsung dramatis hingga perpanjangan waktu, Senin (19/1) WIB, Senegal sukses mengejutkan tuan rumah dan mengangkat trofi di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat.
Sejumlah suporter Atlas Lions terlihat meninggalkan tribun bahkan sebelum peluit akhir dibunyikan. Hujan dan udara dingin seakan menambah suasana muram di ibu kota Maroko.
“Kami menangis di final melawan Tunisia pada 2004 dan malam ini skenario yang sama terulang. Ini sangat berat untuk diterima,” kata seorang suporter Maroko, Ismail Korradj.
Di sebuah kafe di pusat Rabat yang dipenuhi bendera merah-hijau, kekalahan itu terasa seperti pukulan telak. Meski demikian, sebagian suporter mencoba tetap melihat sisi positif.
“Maroko kalah dengan kepala tegak. Hasil ini pahit, tetapi para pemain sudah memberikan segalanya," ujar Laila Bourezma, 32.
Nada serupa disampaikan pendukung lainnya, Oumaima Boukrab, 34. Menurutnya, Maroko tampil memikat sepanjang turnamen.
“Permainan mereka indah. Para pemain tampil luar biasa. Kami memberi hormat dan bangga kepada mereka,” katanya.
Maroko sejatinya berada sangat dekat untuk mengakhiri puasa gelar selama setengah abad. Peluang emas datang di detik-detik akhir waktu normal melalui hadiah penalti yang memicu kontroversi.
Keputusan penalti itu sempat memicu protes panjang dari kubu Senegal hingga laga terhenti hampir 20 menit lantaran para pemain meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes.
Di tribun, sebagian suporter Senegal bahkan melempar kursi dan benda-benda lain serta berupaya masuk ke lapangan sebelum akhirnya dihalau aparat keamanan.
Situasi mereda setelah pertandingan dilanjutkan dan penalti berhasil digagalkan. Kiper Senegal Edouard Mendy dengan mudah menggagalkan eksekusi panenka Brahim Diaz.
Empat menit memasuki babak tambahan, Senegal justru mencetak gol penentu. Gol tersebut memadamkan harapan tuan rumah untuk meraih gelar pertama sejak 1976 dan membungkam puluhan ribu pendukung Maroko di stadion.
Di luar stadion, suporter Senegal merayakan keberhasilan timnya. Gelar ini menjadi yang kedua bagi Senegal setelah sebelumnya menjuarai edisi 2021.
“Kami menang, tetapi Maroko selalu bersama kami. Jadi ini seperti dua negara Afrika yang sama-sama menang,” ujar Abdoul, pendukung Senegal.
Jumlah suporter Senegal memang jauh lebih sedikit dibandingkan puluhan ribu pendukung Maroko dari total 66.526 penonton di stadion. Namun, sorak kegembiraan mereka tetap terasa kuat.
“Hari ini Senegal menang. Besok Maroko yang akan menang. Kami bersaudara dan mereka menyambut kami dengan baik di sini," kata Salim Bom, pendukung Senegal.
Bassirou Gueye (43) mengaku laga puncak ini sudah lama dinanti. Namun, ia juga menyoroti kepemimpinan wasit.
“Kami sudah mempersiapkan pertandingan besar ini sejak lama. Meski begitu, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan CAF terkait kualitas wasit,” ujarnya. (E-3)
Pelatih timnas Senegal Pape Thiaw dinyatakan bersalah atas perilaku tidak sportif yang dianggap mencoreng citra sepak bola.
Senegal kemudian memastikan gelar juara lewat gol Pape Gueye pada babak tambahan waktu yang membungkam suporter Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah.
Final Piala Afrika (AFCON) diwarnai aksi mogok pemain Senegal akibat penalti kontroversial Maroko di masa injury time.
Senegal resmi menjadi juara Piala Afrika (AFCON) setelah mengalahkan Maroko 1-0. Laga diwarnai aksi mogok pemain dan kegagalan penalti kontroversial.
Pelatih timnas Senegal Pape Thiaw dinyatakan bersalah atas perilaku tidak sportif yang dianggap mencoreng citra sepak bola.
Meski pulang dengan gelar pencetak gol terbanyak, luka akibat kegagalan penalti di partai final melawan timnas Senegal tampaknya jauh lebih membekas di hati Brahim Diaz.
FRMF menilai aksi mogok bermain timnas Senegal tersebut memberikan dampak signifikan terhadap psikologis dan performa para pemain Maroko yang sedang berada di atas angin.
CAF menyebut Samuel Eto’o telah melanggar prinsip-prinsip sportivitas dalam laga perempat final Piala Afrika 2026 antara Kamerun dan Maroko.
Kebijakan visa ketat Donald Trump mulai mengancam kelancaran Grup C Piala Dunia 2026. Maroko dan Brasil hadapi ketidakpastian akses ke Amerika Serikat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved