Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Tragedi Panenka Brahim Diaz: Top Skor yang Meminta Maaf di Balik Kegagalan Timnas Maroko

Basuki Eka Purnama
20/1/2026 05:51
Tragedi Panenka Brahim Diaz: Top Skor yang Meminta Maaf di Balik Kegagalan Timnas Maroko
Penyerang timnas Maroko Brahim Diaz (kiri) berkaca-kaca saat menerima sepatu emas Piala Afrika 2025 usai timnya kalah dari timnas Senegal di laga final.(AFP/ABDEL MAJID BZIOUAT)

SEPAK bola selalu punya cara yang kejam untuk menguji mental seorang bintang. Brahim Diaz, sosok yang sepanjang turnamen dipuja sebagai pahlawan timnas Maroko, harus menutup perjalanannya di Piala Afrika 2025 dengan permintaan maaf yang mendalam. 

Meski pulang dengan gelar pencetak gol terbanyak, luka akibat kegagalan penalti di partai final melawan timnas Senegal tampaknya jauh lebih membekas di hatinya.

Dalam laga final yang penuh tensi tersebut, Maroko sebenarnya memiliki peluang emas untuk mengunci gelar juara. Brahim Diaz dijatuhkan di kotak terlarang oleh El Hadji Malick Diouf, sebuah insiden yang memicu protes keras dari kubu Senegal. 

Drama sempat pecah ketika pelatih Senegal, Pape Thiaw, meminta para pemainnya untuk melakukan aksi walk out sebagai bentuk protes atas keputusan wasit.

Setelah penundaan yang cukup menguras emosi dan konsentrasi, pertandingan akhirnya dilanjutkan. Diaz maju sebagai eksekutor pada menit ke-24 masa injury time. 

Namun, pilihan tekniknya menjadi bumerang. Tendangan panenka yang ia lepaskan dengan mudah dimentahkan oleh kiper Senegal, Edouard Mendy. 

Kegagalan ini menjadi titik balik krusial yang membuyarkan mimpi Singa Atlas. Senegal kemudian bangkit dan memastikan kemenangan lewat gol Pape Gueye di babak tambahan waktu, memaksa Maroko harus puas di posisi runner-up.

Melalui akun Instagram resminya, Senin (19/1), penyerang Real Madrid itu menyampaikan penyesalan mendalam kepada rakyat Maroko. Diaz mengaku sangat terpukul dan menyatakan bertanggung jawab penuh atas kegagalannya di titik putih.

“Saya memimpikan gelar ini berkat semua cinta yang kalian berikan kepada saya, setiap pesan, setiap dukungan yang membuat saya merasa tidak sendirian. Saya berjuang dengan segala yang saya miliki, dengan sepenuh hati. Kemarin saya gagal dan saya bertanggung jawab sepenuhnya. Saya meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam,” tulis Diaz.

Sepanjang turnamen, performa Diaz sebenarnya sangat impresif. Ia mengukuhkan diri sebagai top skor dengan koleksi lima gol. Namun, prestasi individu tersebut terasa hambar saat ia harus naik ke podium menerima trofi Sepatu Emas dengan mata yang berkaca-kaca. Baginya, luka ini tidak akan mudah sembuh dalam waktu singkat.

"Luka ini tidak mudah sembuh, tetapi saya akan berusaha bangkit. Saya akan terus melangkah maju hingga suatu hari nanti saya bisa membalas semua cinta ini dan menjadi kebanggaan bagi rakyat Maroko," pungkasnya.

Bagi publik Maroko, meski kecewa, kontribusi Diaz tetap menjadi alasan utama tim mereka bisa melaju hingga ke partai puncak. Kini, sang bintang berjanji untuk menjadikan kegagalan ini sebagai bahan bakar untuk kembali lebih kuat di masa depan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya