Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN FIFA Gianni Infantino mengecam keras insiden yang melibatkan sejumlah pemain Senegal dalam final Piala Afrika (Acon) yang digelar di Rabat, Maroko, Senin (19/1) WIB. Menurut Infantino, aksi meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas keputusan wasit merupakan tindakan yang tidak dapat diterima dan mencoreng jalannya pertandingan.
Final yang mempertemukan Senegal dan tuan rumah Maroko berlangsung panas. Dalam situasi skor masih imbang 0-0 hingga masa injury time babak kedua, wasit asal Kongo Jean-Jacques Ndala memberikan hadiah penalti kepada Maroko setelah meninjau tayangan ulang VAR terkait pelanggaran terhadap Brahim Diaz.
Keputusan itu memicu reaksi keras dari kubu Senegal. Para pemain Senegal meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Situasi di stadion semakin tidak kondusif lantaran pendukung Senegal terlibat bentrokan dengan petugas keamanan Maroko di tribun.
Setelah hampir 20 menit tertunda, para pemain Senegal akhirnya kembali ke lapangan. Penalti yang dieksekusi Diaz dengan gaya panenka berhasil digagalkan kiper Senegal Edouard Mendy.
Senegal kemudian memastikan gelar juara lewat gol Pape Gueye pada babak tambahan waktu yang membungkam suporter Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah.
“Kami dengan tegas mengecam perilaku sejumlah pendukung serta beberapa pemain dan anggota staf teknis Senegal,” kata Infantino.
“Tidak dapat diterima meninggalkan lapangan dengan cara seperti itu dan kekerasan juga tidak bisa ditoleransi dalam sepak bola. Hal tersebut jelas tidak benar," ujarnya.
Ketika aksi protes terjadi, kapten Senegal Sadio Mane tetap berada di lapangan dan justru membujuk rekan-rekannya untuk kembali melanjutkan pertandingan.
“Tim dan pemain memiliki tanggung jawab untuk bertindak dengan benar dan memberi teladan bagi penonton di stadion serta jutaan orang yang menyaksikan di seluruh dunia,” ungkap Infantino.
“Adegan buruk yang terlihat hari ini harus dikecam dan tidak boleh terulang. Saya berharap badan disiplin CAF akan mengambil langkah yang tepat," imbuhnya.
Sementara itu, konfederasi sepak bola Afrika (CAF) menegaskan akan mengambil tindakan terhadap siapa pun yang dinyatakan melanggar. Di sisi lain, Infantino memuji penyelenggaraan turnamen oleh Maroko. Ia menilai ajang tersebut menjadi dorongan positif bagi negara Afrika Utara tersebut yang tengah bersiap menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030.
Dari sisi pelatih Maroko Walid Regragui, ia mengaku khawatir dampak negatif dari kekacauan final tersebut terhadap citra sepak bola Afrika di mata dunia.
“Citra yang kami tampilkan tentang sepak bola Afrika cukup memalukan. Menghentikan pertandingan lebih dari 10 menit saat dunia menyaksikan bukanlah hal yang pantas,” ujar Regragui.
Sebelum insiden penalti, Senegal juga dibuat kecewa karena satu gol mereka dianulir akibat pelanggaran yang dinilai ringan. Ketegangan di lapangan berlanjut ke tribun, ketika sebagian pendukung Senegal mencoba memasuki lapangan dan terlibat bentrokan dengan petugas keamanan, bahkan ada yang melempar kursi.
Pertandingan tertunda hampir 20 menit sebelum penalti dieksekusi dan digagalkan Mendy. Pape Gueye, pencetak gol penentu kemenangan Senegal, menyebut timnya bereaksi karena merasa diperlakukan tidak adil.
“Tepat sebelum penalti itu, kami merasa seharusnya mendapat gol dan wasit tidak menggunakan VAR. Sadio meminta kami kembali ke lapangan dan menyatukan kembali fokus," kata Gueye.
Pelatih Senegal Pape Thiaw mengakui kesalahannya karena sempat memerintahkan pemain untuk meninggalkan lapangan. Menurutnya, reaksi tersebut muncul dalam situasi emosional. “Setelah dipikirkan, saya menyadari seharusnya tidak meminta mereka keluar. Saya meminta maaf,” ujar Thiaw kepada Bein Sports.(AFP/M-2)
Kekecewaan mendalam menyelimuti pendukung Maroko usai tim nasional mereka gagal meraih gelar Piala Afrika. Dalam laga final yang berlangsung dramatis hingga perpanjangan waktu.
Final Piala Afrika (AFCON) diwarnai aksi mogok pemain Senegal akibat penalti kontroversial Maroko di masa injury time.
Senegal resmi menjadi juara Piala Afrika (AFCON) setelah mengalahkan Maroko 1-0. Laga diwarnai aksi mogok pemain dan kegagalan penalti kontroversial.
PELATIH Maroko Walid Regragui meluapkan kekecewaannya terhadap insiden di final Piala Afrika (Afcon 2025), Senin (19/1) WIB, yang berakhir dengan kekalahan tuan rumah Maroko 0-1 dari Senegal.
PENCETAK gol kemenangan Senegal di final Piala Afrika (Afcon) 2026, Pape Gueye, mengungkapkan rasa ketidakadilan justru menjadi pemicu semangat timnya hingga mampu merebut gelar juara.
Kekecewaan mendalam menyelimuti pendukung Maroko usai tim nasional mereka gagal meraih gelar Piala Afrika. Dalam laga final yang berlangsung dramatis hingga perpanjangan waktu.
Final Piala Afrika (AFCON) diwarnai aksi mogok pemain Senegal akibat penalti kontroversial Maroko di masa injury time.
Senegal resmi menjadi juara Piala Afrika (AFCON) setelah mengalahkan Maroko 1-0. Laga diwarnai aksi mogok pemain dan kegagalan penalti kontroversial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved