Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIAsepak bola Inggris kembali diselimuti kabar duka setelah salah satu putra terbaiknya, Kevin Keegan, dikonfirmasi menderita kanker. Sosok yang akrab disapa "King Kev" itu didiagnosa mengidap kanker di usia 74 tahun setelah menjalani evaluasi medis akibat gejala sakit perut yang berkepanjangan.
Pihak keluarga dan Newcastle United telah merilis pernyataan resmi pada 7 Januari 2026, meminta privasi selama masa perawatan sang legenda. Dukungan pun mengalir deras dari seluruh penjuru dunia, mulai dari Liverpool, Newcastle United, hingga para penggemar yang pernah menyaksikan kehebatan sang "Mighty Mouse" di lapangan hijau.
Lahir di Armthorpe, Doncaster, pada 14 Februari 1951, Joseph Kevin Keegan memulai karier profesionalnya di klub kecil, Scunthorpe United. Bakat besarnya segera tercium oleh manajer legendaris Liverpool, Bill Shankly, yang memboyongnya ke Anfield pada 1971 dengan nilai transfer 35.000 pound sterling—sebuah angka yang terbukti sangat murah untuk kontribusi yang kelak ia berikan.
Di Liverpool, Keegan menjelma menjadi superstar global pertama Inggris di era modern. Dengan energi yang meledak-ledak dan kemampuan dribel yang memukau, ia membentuk kemitraan mematikan bersama John Toshack. Selama enam tahun di Merseyside, ia mempersembahkan tiga gelar Liga Inggris, dua Piala UEFA, satu Piala FA, dan puncaknya: Piala Champions (sekarang Liga Champions) pada 1977.
Keputusan Keegan untuk meninggalkan Liverpool menuju Hamburger SV pada 1977 sempat mengejutkan banyak pihak. Namun, di Jermanlah ia mengukuhkan statusnya sebagai pemain terbaik dunia. Keegan memenangkan gelar Ballon d'Or (Pemain Terbaik Eropa) dua kali berturut-turut pada tahun 1978 dan 1979—sebuah prestasi langka yang hanya bisa disamai oleh segelintir pemain Inggris.
Ia membawa Hamburg menjuarai Bundesliga pada musim 1978-79 dan mencapai final Piala Champions 1980, membuktikan bahwa ia bisa sukses di luar zona nyamannya di Inggris.
Hubungan batin Keegan dengan Newcastle United sangatlah mendalam. Setelah membela The Magpies sebagai pemain di penghujung kariernya (1982-1984), ia kembali sebagai manajer pada 1992. Di sinilah ia menciptakan salah satu tim paling ikonik dalam sejarah Liga Primer Inggris yang dijuluki "The Entertainers".
Meskipun gagal meraih gelar juara Liga Primer Inggris secara dramatis pada musim 1995-96 (kalah bersaing dengan Manchester United), gaya sepak bola menyerang yang ia terapkan membuat Newcastle menjadi tim yang paling ditakuti dan dicintai saat itu. Filosofi sepak bolanya yang murni menyerang menjadi warisan yang tak terlupakan bagi publik St James' Park.
Berikut adalah ringkasan perjalanan karier dan gelar bergengsi yang pernah diraih oleh Kevin Keegan:
| Klub / Tim | Periode | Peran | Trofi Utama / Pencapaian |
|---|---|---|---|
| Liverpool | 1971–1977 | Pemain | 3x Divisi Satu Inggris, 1x Piala Champions, 2x Piala UEFA, 1x Piala FA |
| Hamburger SV | 1977–1980 | Pemain | 1x Bundesliga, 2x Ballon d'Or (1978, 1979) |
| Southampton | 1980–1982 | Pemain | Pemain Terbaik PFA (1982) |
| Newcastle United | 1992–1997 | Manajer | Juara Divisi Satu (Promosi), Runner-up Premier League |
| Timnas Inggris | 1972–1982 | Pemain | 63 Caps, 21 Gol, Kapten Timnas |
| Manchester City | 2001–2005 | Manajer | Juara Divisi Satu (Promosi ke EPL) |
Kevin Keegan bukan sekadar pemain hebat; ia adalah ikon budaya pop sepak bola. Rambut perm khasnya di tahun 70-an, semangat juangnya yang tak kenal lelah, dan kejujurannya sebagai manajer (termasuk wawancara emosional "I will love it if we beat them" yang legendaris) menjadikannya sosok yang manusiawi dan dicintai.
Kini, saat ia menghadapi pertarungan terberat dalam hidupnya melawan kanker, seluruh dunia sepak bola bersatu mendoakan kesembuhan bagi sang legenda. Get well soon, King Kev.
Gaya hidup berpengaruh terhadap risiko kanker payudara karena penyakit ini berkaitan erat dengan faktor hormonal.
Peneliti Universitas Jenewa mengungkap bagaimana tumor memprogram ulang neutrofil, sel pertahanan utama tubuh, menjadi pemicu pertumbuhan kanker melalui molekul CCL3.
Saat ini, sekitar 30% kasus kanker usus besar di tanah air diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun, sebuah angka yang jauh melampaui statistik di negara-negara maju.
Berbeda dengan herediter, kanker familia terjadi bukan karena mutasi gen, melainkan karena anggota keluarga hidup dalam satu ekosistem yang sama.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
KECANTIKAN sejati bagi seorang wanita sering kali didefinisikan melalui pantulan cermin. Namun, esensi sebenarnya terletak pada pancaran empati dan kekuatan dari dalam hati.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved