Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
INTER Milan akhirnya memastikan menjuarai Serie A untuk ke-19 kalinya dan mengakhiri puasa gelar liga domestik mereka setelah 11 tahun dan mengakhiri dominasi sembilan musim Juventus.
“Kami merasa senang, puas, dan lega, karena mampu mengembalikan Scudetto ke Inter Milan dengan empat pertandingan lebih awal, itu membuat kami sangat senang,” ungkap pelatih Inter Milan, Antonio Conte, kepada Sky Sport Italia, Senin (3/5).
Meski telah memenangi Scudetto, Conte menegaskan timnya tetap akan memaksimalkan laga yang ada dan memberikan yang terbaik di empat laga tersisa.
Conte juga berencana memainkan pemain yang mungkin memiliki menit bermain yang minim dan yakin para pemain tersebut memahami apa yang ia harapkan dari para pemain.
Inter memang mengunci barisan pertahanan mereka dalam 17 laga dan hal tersebut memberikan perbedaan besar. Dalam periode tersebut mereka hanya mengejar ketertinggalan dengan total selama 45 menit saja.
“Ada perkembangan dalam taktik. Sepanjang tahun kami mencoba beberapa opsi berbeda. Kami mememulai sedikit banyak seperti akhir musim lalu, pressing tinggi di seluruh bagian lapangan dan memberikan hasil yang bagus, yang mana kami menuntaskan musim satu poin di belakang Juventus dan mencapai final Eropa League,” terang Conte.
Dalam 10-12 pertandingan awal musim ini, Conte mengaku mencoba menerapkan strategi yang sama. Meski begitu lawan telah mempelajari taktik dan sering kali sukses menjegal dengan serangan balik.
Karenanya, Conte menilai persoalan musim ini adalah lawan sering kali mendapatkan solusi dari taktik Inter.
“Saya rasa tim pemenang harus memiliki keseimbangan antara serangan dan pertahanan. Para pemain belajar untuk membaca permainan dan momen apa mereka harus melakukan pressing dan momen apa mereka harus bertahan dan menunggu lawan di setengah lapangan. Ini menunjukkan kedewasaan dari tim,” ungkap Conte.
Titik balik taktik Inter terjadi saat mereka menghadapi Sassuolo di pekan ke sembilan, yang mana Inter terlihat lebih nyaman memegang bola.
“Kami berubah selama setahun, sebagaimana kami mengubah antara diamond dan dua playmaker, jadi antara Eriksen atau Sensi ke Brozovic. Sassuolo merupakan tim yang terlatih memegang bola dan melakukan operan operan, sehingga kami tahu bahwa jika kami ingin mendapatkan bola kami harus membuka seluruh lapangan di depan kami,” ujar Conte.
Seorang pelatih menurut Conte harus mampu memahami dimana dapat menyakiti lawan tetapi tidak kehilangan identitasnya, dan itu yang dilakukan Inter. Ketika mereka mendapatkan bola para pemain memahami apa yang harus dilakukan, begitu juga ketika tidak memegang bola.
Meski memenangkan Scudetto Inter tetap dikritik karena memainkan sepak bola negatif dan bahkan membosankan, terutama dalam beberapa bulan ke belakang. Namun hal itu tegas dibantah oleh Conte.
“Inter memainkan sepak bola modern, mulai dari membangun dari belakang hingga pressing yang tinggi, hingga menanti momen yang tepat untuk menyerang. Para pemain telah belajar bagaimana melakukan segalanya dan terutama membaca pertandingan, yang mana juga mengetahui batasan mereka dan bekerja untuk memperbaikinya,” ungkap Conte.
“Saya pikir gol pertama yang kami cetak melawan Crotone kemarin adalah karya seni lainnya. Hanya orang buta yang melihat gerakan operan itu dan tidak melihat keindahan di dalamnya. Para pemain tahu ke mana harus pergi dan ke mana harus mengoper,”
“Beberapa orang tampaknya berpikir para pemain hanya mondar mandir dan kebetulan berada di posisi itu secara kebetulan. Saya dapat meyakinkan Anda bahwa ada banyak kerja keras yang terlibat dan penting untuk mengetahui bahkan tanpa melihat bahwa Lukaku ada di sana dan Eriksen akan mengalami ruang itu.”
“Itu semua harus dimiliki di loker Anda, lalu tentu saja ada kreativitas individu dan kualitas dalam penyelesaian atau bola terakhir.” Pungkas Conte. (Dro/Sky Sport/OL-09)
Simak profil Gabriel Jesus, bintang Arsenal yang tampil gemilang dengan dua gol melawan Inter Milan di Liga Champions. Perjalanan karier & statistik.
Kemenangan atas Ibter Milan tidak hanya menjaga rekor 100% kemenangan Arsenal di Liga Champions musim ini, tetapi juga memastikan posisi The Gunners di dua besar klasemen.
Inter Milan saat ini berada di posisi keenam klasemen sementara fase liga Liga Champions UEFA 2025/2026 dengan 12 poin dari enam pertandingan.
Nerazzurri yang duduk di peringkat keenam butuh poin penuh untuk merangsek ke posisi empat besar.
Jika menang atas Inter Milan pada pertandingan yang berlangsung di Stadion Giuseppe Meazza, San Siro, itu, Arsenal akan mengunci satu tempat di peringkat delapan besar
Preview lengkap Inter Milan vs Arsenal Matchday 7 UCL 2026. Analisis taktik, kondisi skuad, dan rekor Gabriel Martinelli di San Siro.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved