Mengingat Penyair Intojo di Hari Puisi Sedunia 

Penyair Intojo (Moskwa, 1967) 


MENGABDIKAN hidup untuk dunia sastra secara total adalah langkah seorang jenius. Apa yang sudah dilakukan para pesastra Indonesia sebelum mereka menjadi terkenal dan tersohor, hanyalah sebagian kecil jejak perjalanan. 

Banyak sastrawan hebat di Republik ini. Sekadar menyebut sederet nama, seperti Intojo, Chairil Anwar, Mochtar Lubis, Utuy Tatang Sontani, Pramoedya Ananta Toer, dan W S Rendra. Mereka adalah manusia setengah dewa yang dilahirkan dari Nusantara. 

Ini hari menjadi momentum penting perpuisian dunia. Para penyair seantero dunia sedang merayakan World Poetry Day (Hari Puisi Sedunia). Perkembangan perpuisian di setiap negara berbeda-beda. Sebagai kulturolog, saya melihat ada tiga hal mendasar faktor pembentukan karakter seorang pesastra. Ketiganya ialah latar belakang budaya, pengaruh ideologi politik, dan tingkat pendidikan. 

Memaknai Hari Puisi Sedunia sesungguhnya sederhana. Cukup mengingat kembali kiprah para pujangga dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Mereka notabene pernah gigih menulis sajak sebagai profesi mulia. Menekuni secara total, baik  di dalam negeri maupun luar negeri.  

Intojo, penyair lahir di Tulungagung, 27 Juli 1912. Ia adalah salah satu tokoh penting dalam perpuisian Indonesia. Ia menulis sajak-sajaknya sejak masih di Tanah Air pada era 1930-an hingga hidup terasing di negeri orang. Karyanya pernah tersebar di berbagai surat kabar dan majalah di zamannya. Salah satu sajak yang terkenal adalah Air Kecil

Air kecil girang mengalir, 
Menggelincir berdesir-desir, 
Berlari-lari mencari kawan, 
Tiba di jalan ibu bengawan, 
Lambat lakunya menuju samudra, 
Tenang mengenang ‘kan cita-cita: 
Menyelam ke dalam ‘kelaman lautan. 

(Pujangga Baru, Nomor 10, Tahun. IV, April 1937) 

Mendiang Ami Intoyo, putri pertama Intojo, pernah menuturkan kepada saya bahwa sajak di atas ditulis ayahnya secara murni dan penuh metafora. Sajak Air Kecil sederhana dan realis. Mengandung makna pencarian akan sesuatu cita-cita mulia di muka bumi ini. Air ibarat nasib dan kecil ibarat manusia. 

Intojo adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Ia belajar di sekolah Belanda di Mojokerto dan Blitar (1920-1927). Ia menerima profesi gurunya di Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan di Blitar (1927-1933). Setelah Indonesia merdeka, Intojo menyelesaikan kursus untuk guru Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Indonesia (1950-1952). 

Ia memulai karir mengajar di “Sekolah Rakyat” Bandung (1933-1934) dan Blitar (1934-1938). Kemudian bekerja di Sekolah Dasar Negeri di Rangkasbitung (1938-1942) dan Sekolah Guru di Blitar (1942-1945). Sehubungan dengan agresi Belanda, Intojo menempati posisi sebagai komisaris politik berpangkat mayor di Tentara Pembebasan Yogyakarta, yaitu pada 1946-1948. Saat itu, Yogyakarta adalah ibu kota sementara Indonesia. 

Dari 1949 hingga 1950, Intojo menjadi anggota dewan redaksi penerbit Balai Pustaka. Pada 1950-1952, menjabat sebagai sekretaris seksi Indonesia dari komite bersama tentang kebudayaan Uni Belanda-Indonesia. Pada 1953-1956, ia mengepalai Kantor Presiden di era Sukarno. 

Ia adalah salah satu penulis naskah teks pidato Sukarno. Latar belakang sebagai penyair dan pengajar membuat Intojo pun dipercaya membumikan Bahasa Indonesia di Moskwa, Uni Soviet. Ia resmi ditugaskan pada 1956. Itu hanya tiga pekan setelah kunjungan resmi Presiden Sukarno pertama ke Uni Soviet. 

Pada 1956-1970, Intojo menjadi Guru Besar Bahasa dan Sastra Indonesia di Institut Hubungan Internasional Moskwa (MGIMO) dan Institut Bahasa Oriental di Universitas Negeri Moskow dinamai M V Lomonosov. Perjalanan sebagai pembantu Presiden Sukarno tidak serta-merta membuat Intoyo melupakan mantra puisi. Malahan, ia kian menggilai dan menulis puisi di Moskwa. Profesi mengajar sebagai dosen menjadi pekerjaan utama untuk dapat menafkahi keluarganya. 

Masa keemasan 

Era emas kepenyairan Intojo dimulai pada 1932 ketika masih bersekolah di Hollandsch Inlandsche Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru), Lembang, Bandung. Kedudukannya sebagai penyair makin diakui publik ketika majalah Pujangga Baru terbit (Juli 1933) dan memuat banyak puisinya. Itulah sebabnya, dalam khazanah sastra Indonesia, ia disebut-sebut sebagai salah seorang tokoh Pujangga Baru.  

Intojo sempat berhenti menulis sajak pada masa menjelang Jepang datang ke Indonesia pada 1941. Pada masa pendudukan Jepang (1942—1944) dan setelah Indonesia merdeka pada 1945, sama sekali tidak dijumpai lagi karya-karyanya. Ia lebih banyak menulis teks pidato-pidato Sukarno. 

Kendati demikian, tidak berarti bahwa Intojo tidak aktif lagi di bidang seni-budaya, khususnya sastra. Ia masih menulis esai di berbagai majalah dalam beberapa bahasa, seperti Prancis, Belanda, Inggris, dan Rusia. Ia menggunakan nama pena, antara lain Rahmedin, Kheldas, Hirahamra, Ibnu Shihab, dan Imam Supardi. 

Perjumpaan saya dengan keluarga besar Intojo terjadi pada 2015. Itu saat saya melanjutkan kuliah di Moskwa. Sejak itulah, saya mulai membuka diri kepada ketiga anaknya, Ami, Agong, dan Vidiya. Ami dan Agong sudah berpulang ke pangkuan Sang Khalik, sementara Vivi, sapaan akrab Vidiya, masih tinggal dan bekerja di Moskwa. 

Awalnya, mereka enggan membuka diri dengan saya. Maklum, saat Orde Baru berkuasa, keluarga Intojo diasingkan oleh sesama keluarga Indonesia sendiri di Moskwa. Pada musim gugur 2015, saat menyerahkan buku-buku kumpulan puisi saya, barulah mulai timbul rasa saling percaya. Ami selalu memberi dorongan untuk giat menulis puisi secara jujur dan benar. 

Hanya puisilah yang membawa saya ke rumah keluarga Intojo. 

Baca juga: Sajak-sajak Ted Rusiyanto

Salah satunya, yaitu sering nongkrong dan kongko-kongko di rumah Agong. Ia adalah pelukis yang memiliki sebuah galeri seni bernama XXI Century Art Gallery di Moskwa. Semasa hidupnya, Agong sering mengajak para seniman untuk berdiskusi dan berpameran di galerinya. 

Selain melukis, Agong menekuni dunia layang-layang dan mengoleksi topeng dari berbagai pelosok Indonesia dan Dunia. Ranah seni rupa mengantarnya sebagai seorang tokoh yang dikenal luas di Moskwa. Banyak sekali murid-muridnya berusia 10-15 tahun datang untuk belajar melukis di galerinya. 

Ami, Agong, dan Vivi, masing-masingnya menikah dengan orang Rusia. Cucu-cucu mereka sudah tidak begitu lancar berbahasa Indonesia, tapi  memahami sedikit-sedikit apa yang diperbincangkan saat saya berkunjung. Agong sering menceritakan sosok ayahnya. Bisa berjam-jam kami duduk sambil menikmati makanan dan minuman. 

Selama di Moskwa, Intojo sadar untuk lebih meningkatkan karirnya dalam dunia penerjemahan dan pengajaran Bahasa Indonesia. Ia menjadi salah satu sosok penting diaspora Indonesia di Rusia. Semasa muda, Intojo pernah meraih Juara II Lomba Penerjemahan Puisi Klasik Jawa Kuno "Negarakertagama" ke dalam bahasa Belanda (1938). 

Intojo ikut berperan penting membumikan puisi Indonesia di Soviet-Rusia. Menjadikan bahasa sebagai pegangan dan jati diri sebagai orang Indonesia. Kehadirannya di Moskwa menjadi momentum penting. Pasalnya, Bahasa Indonesia akhirnya melepas diri dari bahasa Melayu dalam dunia pendidikan di tanah kelahiran penyair AS Pushkin, itu. 

Mengenang kembali Intojo 

Pada perayaan Hari Puisi Sedunia, wajib untuk mengingat kembali jasa Intojo. Dahulu, ia pernah berkontribusi bagi kejayaan perpuisian Indonesia di Soviet-Rusia. Sebagai cermin, masyarakat Rusia sangat menghargai jasa para sastrawan mereka, bahkan seorang pesastra diibaratkan sebagai manusia setengah dewa. 

Sekadar menyebut nama-nama hebat, seperti Nikolai Gogol, Fyodor Dostoyevsky, Maxim Gorky, Mikhail Prishvin, dan Andrei Platonov. Gogol, misalnya, saat belajar di Gimnasium Nizhyn, Gogol muda paling tertarik pada teater. Ia menulis drama, berakting dalam pertunjukan, dan memikirkan karir akting. Seiring berjalannya waktu, Gogol sempat menjadi seorang pegawai negeri. Akhirnya, ia banting setir dan fokus pada dunia sastra. 

Begitu pula Gorky. Ia bergelut di dunia jurnalistik. Gorky menulis esai dan cerita pertamanya untuk majalah-majalah tingkat provinsi di Rusia. Ia kerap menggunakan nama samaran Yehudiel Khlamida. Ia pun kemudian menulis dengan nama fiktif lainnya untuk dirinya sendiri, di mana nama Gorky menjadi terkenal. Dari jurnalis, ia pun terjun sebagai penyair dan politikus. 

Saya pikir Intojo juga pernah bersentuhan langsung dengan karya-karya penulis Rusia, baik Dostoyevsky, Gogol, maupun Gorky. Hal itu tanpa disadari telah memotivasi Intojo untuk ikut membumikan karya-karya sastra Indonesia kepada kaum akademisi di Moskwa dan St Petersburg. Nama Intojo sangat dikenang manis oleh bangsa Rusia, sayang bukan oleh bangsanya sendiri. 

Cara mengingat Intojo sederhana sekali. Cukup membaca kembali sajak-sajaknya. 

Intoyo meninggal di Moskwa, 22 Januari 1971. Tubuhnya dikremasi; guci dengan abu dimakamkan di kolumbarium, Tempat Pemakaman Donskoy, Moskwa. "Saat ayah pergi, saya masih berusia 12 tahun, tapi saya masih mengingatnya dengan sangat baik. Saya sangat mencintainya," tutur Vivi dari Moskwa, Minggu (20/3). 

Intojo sudah memberikan pemikirannya bagi kemajuan puisi Indonesia. Tidak hanya di era Pujangga Baru, namun juga dalam perkembangan perpuisian Indonesia di Rusia. Puisi adalah kehidupan dan kejujuran. Tak bisa disangkal oleh siapapun. Merayakan Hari Puisi Sedunia cukup mengingat kembali Intoyo, penyair legendaris yang pernah bersinar di negeri pengasingan. (SK-1) 

 

Baca juga: Sajak-sajak Y P Sudaryanto

Baca juga: Sajak-sajak Andrik Purwasito

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor
 

 

 

 

Iwan Jaconiah, penyair, esais, wartawan Media Indonesia dan Metro TV. Peraih Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2015) dan Beasiswa Penuh Pemerintah Rusia (2015). Ia adalah pesastra Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" di Yalta, Republik Krimea, Federasi Rusia. Buku terbarunya kumpulan puisi Hoi! (Terbit Press, 2020).