Monumen Pemogokan 1902
Negeri sudah jauh, mari lepas sauh
lima pulau sebentar lagi terlampaui
kapal-kapal siap berlayar tanpa kelasi.
Aku tepekur di antara gelombang
mata melirik, segala hilang arah.
Kabar pagi ini; kau sudah dipinang
bersama matahari, berujung samudra,
maka aku terbangun dan lupa terbang pulang.
2021
Asing Sendiri
Ayah-ibu, anakmu sudah dewasa
begitu juga rumput di belakang rumah
semua menguning dan meninggi
hampir sedepa menutupi jendela.
Maka, doakanlah anakmu
agar menemukan tanah lapang di seberang
atau kelak pulang tiada sesuatu digenggaman.
Musim baru menganga
ke pelukan atau bertahan di pengasingan.
aku masih yang dulu, ayah-ibu
terasing di rumah dan rantau.
2021
Keturunan Ibrahim
Tak peduli lagi
apakah kita berasal dari butiran debu
atau segumpal darah sebagai keturunan Ibrahim
Sediakan hikmah, agar kita dapat duduk; saling bercerita
dan bertanya tentang kabar apa saja, biar tenang di seberang.
2021
Sungai Don
Sungai Don seakan mengikuti langkahku ketika awan mendung tiba lebih cepat. Kita membicarakan kisah langit jingga yang belum sempat melambaikan tangan.
Menghantui bayangan kota, saling menyilangkan kedua lengan dan menolak berteduh. Hujan membawa kita ke sini. Memilih berlabuh separoh waktu, sementara bola-bola mata mengintip dari balik jendela buram. Sungai beku, tubuh menciut bersama derasnya arus.
2021
Ayah-ibu, doakanlah anakmu agar menemukan tanah lapang di seberang.
Alegori Peri Gigi
Sesosok Ibu Peri mengetuk jendela musim dingin; di kamar, aku terkantuk dan terjatuh. Gigiku menanggal terkena ujung lantai. Sejurus, aku melangkah dan menggapai gagang jendela. "Ada apa?" tanyaku. "Di manakah Kasih," ujarnya.
"Mengapa?" tanyaku penasaran. "Kekasihnya menunggu semalaman suntuk. Sebelum sinar timur timbul, ia terkantuk, terantuk, terjatuh, dan terbentur di kamar. Giginya lepas dan cepat-cepat ia melempar puntungnya ke genting. "Di mana sang kekasih Kasih itu?" tanyaku, penasaran. "Hanya Kasih yang tahu," jawab Ibu Peri, santun.
Malam ini, atap rumah bersinar terang di antara rumah penduduk kota. Aku menjelma seseorang yang lain, tak pernah tahu tubuh dan jiwa. Semua kosong dan masih ompong. "Kasih sedang di sini, di balik pintu," ucapku.
Ibu Peri menatap penuh senyuman. Ia pergi ketika sari-sari putih di luar jendela perlahan luruh ke tanah. Angin dingin menampar muka, punggung, dan telapak tangan ini. "Aku mencari Kasih," ujar sesosok perempuan lain. "Aku tak tahu," jawabku.
2021
Mencari Ibu
Menghabiskan malam di taman kota. Mencari wajah ibu di sana. Katedral sepi sejak perbatasan ditutup. Seekor merpati hinggap terlalu dini. Ia mematuk-matuk roti di patung kaki santo sebelum hinggap di kepalanya. Ia memungut kenangan dan menyimpannya dalam saku jaket.
2021
Kaki Kota
Aku menemui kau di antara gugusan bintang. Kuncup pencakar langit kehilangan taji; mengembara dan mencari jati diri. Menyeduh secangkir kopi sebelum menyaring masa muda sendiri.
Aku lihat bocah-bocah memandang lazuardi seraya bertanya kepada tetua-tetua tentang bintang-bintang. "Memangnya gedung pencakar langit itu apa?" ujar seorang bocah.
"Apakah sebuah cakar harimau dan cakar elang tergores di atas tubuh seekor rusa?" Kopi habis, tinggal ampas; besi beku, aku hilang arah di kaki kota ini.
2021
Baca juga: Sajak-sajak Englandiva Akyla
Baca juga: Sajak-sajak Ted Rusiyanto
Baca juga: Sajak-sajak Maria Regine
Inamul Hasan, penulis kelahiran Kediri, Jawa Timur, pada 14 Agustus 2000. Ia meraih Anugerah Lima Penyair Muda Terbaik dari Dewan Kesenian Sidoarjo, 2021. Beraktivitas di Sidosinau, sebuah kelompok belajar menulis. Puisi-puisi Inamul ini tergabung dalam antologi puisi Doa Tanah Air: suara pelajar dari negeri Pushkin yang akan segera diterbitkan. Kini, ia sedang menempuh studi program S1 Arsitektur di Southern Federal University, Rostov on Don, Rusia. Ilustrasi: Menghantar Korona Pulang ke Asalnya, 140 cm x 140 cm, akrilik di atas kanvas, 2021, karya Sri Warso Wahono. (SK-1)