Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Beli Sekilo,Bonus Setengah Kilo

(Fathia Nurul Haq/E-2)
23/5/2016 00:20
Beli Sekilo,Bonus Setengah Kilo
(ANTARA FOTO/Ivan Pramana Putra)

MASIH ingatkah Anda ketika kali pertama ibu mengajak ke pasar? Rasanya tidak sedikit anak pernah berbagi pengalaman sama, yakni ketika pagi di hari libur yang malas, ibu mengajak ke pasar. Alasan kita mungkin nyaris seragam: pasar tempat yang becek dan bau, hanya diminati ibu-ibu. Oleh karena itu, ketika anak-anak yang enggan diajak ke pasar itu beranjak dewasa dan zaman menyuguhinya kemudahan berbelanja di supermarket, pasar tradisional mulai ditinggalkan. Pengalaman serupa juga dialami Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Perempuan yang besar di Jakarta itu kerap diajak berbelanja ke Pasar Bunder, Sragen, jika kebetulan mudik di hari libur. Pengalaman itu sebetulnya kurang ia nikmati.

"Saya ini produk generasi baru, umur baru 41. Orangtua saya dulu kalau ngajak ke pasar, saya paling begah karena pasar becek dan ruwet," kisah Yuni di hadapan para pedagang Pasar Bunder dalam acara Festival Pasar Rakyat ke-9 di Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (21/5). Seiring berjalannya waktu, Yuni belajar menikmati pengalamannya berbelanja di pasar. "Apalagi kalau kita sopan, maksudnya mau senyum-senyum bisa nawar. Beli satu kilo dikasih satu setengah kilo, ya kan?" ujar Yuni yang langsung disambut derai tawa para ibu gendong dan para pembeli. Pasar merupakan modal sosial yang harus dipertahankan. Ketua Umum Yayasan Danamon Peduli Restu Pratiwi mengatakan Indonesia sudah kehilangan 4.000 pasar dalam kurun 2007-2014 seiring dengan maraknya pertumbuhan pasar swalayan. Meski fungsi menyediakan kebutuhan pokok bisa digantikan oleh pasar swalayan, Restu menekankan banyak fungsi lain dari pasar tradisional yang tidak bisa direlokasi.

"Pasar itu ruang publik, ruang ekonomi, ruang kreatif yang tidak bisa digantikan. Makanya kita harus pertahankan," kata Restu dalam kesempatan yang sama. Kesan bau dan ruwet yang melekat pada pasar tradisional menurutnya harus diperbaiki. Yayasan Danamon Peduli (YDP) saat ini telah membina delapan pasar tradisional di Tanah Air, termasuk Pasar Bunder di Sragen, untuk beralih menjadi pasar sehat. Program yang digagas YDP itu memberikan pendampingan kepada pasar tradisional untuk memperoleh SNI yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan.

"Pasar secara fisik bisa bersih, aman dari bahaya fisik dan nonfisik, masyarakat di sekitar pasar berperilaku bersih dan sehat. Tidak ada makanan berformalin dan bahan kimia lainnya di sini," jelas Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Imran Agus Nurali. Kini di Indonesia, baru tiga pasar besertifikat SNI. Ketiganya ada di Jakarta. Melalui program corporate social responsibility, YDP menargetkan 4 pasar binaan mereka, yakni di Sragen, Yogyakarta, Payakumbuh, dan Kediri, bisa menyusul menjadi pasar ber-SNI.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya