Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS per Barel, Ekonom: Kenaikan BBM Nonsubsidi Konsekuensi Logis

Rahmatul Fajri
29/3/2026 21:38
Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS per Barel, Ekonom: Kenaikan BBM Nonsubsidi Konsekuensi Logis
Ilustrasi(MI/Usman Iskandar)

LONJAKAN harga minyak mentah dunia yang kini menembus angka di atas 100 dolar AS per barel mulai memicu penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi di dalam negeri. Ekonom Universitas Airlangga (Unair), Wisnu Wibowo, menilai kenaikan ini merupakan konsekuensi logis dari memanasnya geopolitik di Timur Tengah, terutama ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Menurut Wisnu, skema penetapan harga BBM non-subsidi di Indonesia memang mengikuti mekanisme pasar internasional. Penyesuaian ini mengacu pada tren harga minyak dunia serta acuan Mean of Platts Singapore (MOPS).

“Kenaikan harga BBM non-subsidi adalah konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional. Namun, kenaikan saat ini masih berada dalam batas moderat, yakni di kisaran 5 hingga 10 persen,” ujar Wisnu ketika dihubungi, Minggu (29/3/2026).

Memasuki periode Maret 2026, sejumlah produk non-subsidi milik Pertamina mengalami perubahan harga. Pertamax naik menjadi Rp12.300 per liter dari sebelumnya Rp11.800. Sementara itu, Pertamax Green (RON 95) kini dibanderol Rp12.900 dan Pertamax Turbo menjadi Rp13.100 per liter.

Sektor mesin diesel juga terdampak, di mana Dexlite naik menjadi Rp14.200 dan Pertamina Dex menjadi Rp14.500 per liter. Meski demikian, pemerintah masih menahan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite di angka Rp10.000 dan Solar di Rp6.800 per liter guna menjaga daya beli masyarakat.

Wisnu menambahkan bahwa dinamika nilai tukar rupiah dan harga acuan dunia sangat membebani fiskal negara. Berdasarkan perhitungannya, setiap kenaikan 1 dolar AS harga minyak dunia berpotensi menambah beban APBN hingga Rp6,7 triliun.

Meski ditekan kondisi global, posisi harga BBM di Indonesia tercatat masih relatif stabil dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara yang menerapkan mekanisme pasar penuh.

Berdasarkan data Maret 2026, Singapura mencatat harga BBM tertinggi di kawasan dengan RON 95 mencapai kisaran Rp45.000 per liter. Thailand dan Vietnam juga mengalami lonjakan tajam dengan rata-rata harga RON 92 di kisaran Rp22.000 hingga Rp23.000 per liter. Sementara itu, Malaysia tetap menjadi yang terendah karena dukungan subsidi besar dari pemerintahnya.

“Perbandingan ini menunjukkan posisi Indonesia masih cukup stabil. Kenaikan non-subsidi tetap tergolong moderat, sementara BBM bersubsidi tetap menjadi bantalan utama stabilitas ekonomi domestik,” pungkas Wisnu. (Faj)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya