Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Sjafrie Sjamsoeddin Masuk Bursa Capres 2029, Pengamat Ingatkan Potensi Tikungan Politik Internal

Rahmatul Fajri
10/2/2026 13:48
Sjafrie Sjamsoeddin Masuk Bursa Capres 2029, Pengamat Ingatkan Potensi Tikungan Politik Internal
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Munculnya nama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam bursa calon presiden (Capres) 2029 berdasarkan survei Indonesian Public Institute (IPI) memicu reaksi dari berbagai pengamat politik. Direktur Rumah Politik Indonesia (RPI), Fernando Emas, menilai kehadiran Sjafrie di jajaran 10 besar tokoh potensial menjadi sinyal waspada bagi stabilitas politik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Fernando menyebut, posisi Sjafrie sebagai sahabat karib sekaligus menteri paling berpengaruh di kabinet menjadikannya sosok yang sangat kuat. Namun, popularitas ini dinilai berpotensi menjadi bumerang jika ambisi politik mulai menggeser loyalitas.

"Ketika seorang Menteri Pertahanan mulai masuk dalam radar calon presiden, alarm politik seharusnya berbunyi keras di Istana. Ini bukan lagi soal hak demokratis semata, tapi ancaman langsung terhadap stabilitas kabinet," ujar Fernando dalam keterangannya, Selasa (10/2/2026).

Fernando mengambil contoh peristiwa politik tahun 2004, saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kala itu menjabat Menko Polkam di kabinet Megawati Soekarnoputri, memutuskan maju dan akhirnya memenangkan Pilpres. Ia menilai pola orang dalam yang menjadi ancaman terbesar bagi petahana adalah fenomena yang kerap berulang dalam sejarah politik Indonesia.

"Kasus SBY dan Megawati adalah pelajaran paling jelas bahwa kedekatan personal tidak menjamin loyalitas politik. Presiden Prabowo, yang kenyang pengalaman kompetisi, harus lebih waspada terhadap dinamika ini," tambahnya.

Fernando juga menyoroti Sjafrie yang belakangan kerap bersentuhan dengan kebijakan ekonomi, wilayah yang secara teknis merupakan domain kementerian lain. Fernando mempertanyakan apakah aktivitas tersebut merupakan strategi untuk membangun profil pemimpin yang komprehensif demi kepentingan 2029.

"Mengapa Menhan begitu aktif di kebijakan ekonomi? Apakah ini langkah kalkulatif untuk mematangkan positioning politik? Jika ya, Prabowo menghadapi skenario klasik: potensi pengkhianatan dari lingkaran terdekat," pungkas Fernando.

Sementara itu, Koordinator Front Pemuda Indonesia Raya (FPIR), Fauzan Ohorella menilai bahwa munculnya nama Sjafrie bukan lagi spekulasi biasa, melainkan tanda dimulainya permainan politik baru.

"Orang terdekat yang menjadi lawan adalah kenyataan pahit yang lumrah dalam politik kita. Pertanyaannya, apakah Presiden Prabowo sudah siap menghadapinya? Sejarah mengajarkan bahwa lawan paling berbahaya sering kali adalah mereka yang berada di lingkaran dalam sendiri," kata Fauzan.

Sebelumnya, lembaga Indonesian Public Institute (IPI) merilis peta elektabilitas tokoh menjelang Pilpres 2029. Hasilnya, nama petahana Prabowo Subianto masih teratas dan sejumlah wajah baru mulai merangsek masuk ke posisi 10 besar, termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Peneliti IPI, Abdan Sakura, mengungkapkan bahwa munculnya nama-nama baru ini menandakan adanya pergeseran persepsi publik terhadap figur potensial di masa depan.

"Wajah baru seperti Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, hingga Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mulai muncul di bursa capres 2029. Ini dinamika menarik di tengah dominasi nama-nama lama," ujar Abdan melalui keterangannya, Selasa (10/2/2026).

Berdasarkan survei IPI, Prabowo Subianto berada di urutan pertama dengan elektabilitas 22,3 persen. Posisi kedua ditempati Gibran Rakabuming Raka (12,2 persen), disusul Ganjar Pranowo (9 persen), dan Anies Baswedan (8,5 persen).

Sementara itu, Sjafrie Sjamsoeddin tercatat meraih elektabilitas 7,5 persen, menempel ketat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (7,9 persen) dan Gubernur Jakarta Pramono Anung (7,8 persen). Nama lain yang mencuri perhatian adalah Purbaya Yudhi Sadewa dengan 4,9 persen dan Sherly Tjoanda di angka 3,8 persen.(H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya