Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
RENTETAN operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap sejumlah kepala daerah dalam waktu berdekatan kembali membuka lemahnya integritas penyelenggara pemerintahan daerah. Kasus ini dinilai bukan sekadar pelanggaran hukum individual, melainkan mencerminkan persoalan serius dalam praktik otonomi daerah.
Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PKB, Muhammad Toha, menyebut penangkapan Wali Kota Madiun Maidi dan Bupati Pati Sudewo sebagai peringatan keras bagi seluruh kepala daerah agar tidak menyalahgunakan kewenangan jabatan.
“Ini tamparan keras bagi jalannya otonomi daerah. Kami sangat menyayangkan masih ada kepala daerah yang berani bermain-main dengan hukum. Jabatan jangan dijadikan alat untuk memperkaya diri melalui fee proyek atau jual beli jabatan,” kata Toha, dalam keterangannya pada Rabu (21/1).
Dalam OTT tersebut, Maidi diduga terlibat dalam praktik penerimaan fee proyek serta penyimpangan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Sementara Sudewo ditangkap terkait dugaan suap dalam proses pengisian jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pati.
Menurut Toha, kasus suap jabatan yang terjadi di Pati menunjukkan reformasi birokrasi di daerah masih menghadapi masalah integritas yang serius. Ia juga menilai dugaan penyalahgunaan dana CSR di Madiun sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kepentingan publik.
“Dana CSR seharusnya untuk kesejahteraan masyarakat, bukan justru dikorupsi,” ujarnya.
Ia menegaskan praktik jual beli jabatan dan pemotongan fee proyek merupakan penyakit lama birokrasi yang terus berulang.
“Kalau rekrutmen jabatan dilakukan dengan suap, jangan berharap birokrasi di bawahnya bisa bekerja profesional dan melayani rakyat dengan baik,” katanya.
Lebih lanjut, Toha meminta Kementerian Dalam Negeri memperketat pengawasan serta pembinaan terhadap kepala daerah. Ia juga menyatakan dukungan penuh terhadap langkah KPK dalam menindak korupsi tanpa pandang bulu.
“Kami mendukung penuh KPK. Ini peringatan bagi kepala daerah lain bahwa pengawasan tidak pernah berhenti. Fokuslah bekerja untuk rakyat, bukan mencari celah untuk korupsi,” pungkasnya. (H-2)
GUBERNUR Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerbitkan surat perintah tentang penunjukan Wakil Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Wali Kota Madiun Maidi (MD) sebagai tersangka, bersama dua orang lainnya, usai operasi tangkap tangan (OTT).
PEMERINTAH Provinsi Jawa Timur belum menunjuk pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Madiun.
GUBERNUR Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan sepenuhnya perkara Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Bupati Madiun Maidi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami dugaan keterlibatan Wali Kota Madiun Maidi dalam penerimaan uang yang bersumber dari proyek maupun perizinan di Pemkot Madiun, Jawa Timur.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga Maidi menerima dan menikmati uang hasil pemerasan serta gratifikasi dengan total mencapai Rp2,25 miliar sejak menjabat sebagai Wali Kota Madiun.
Jejak karier Wali Kota Madiun Maidi dari guru, birokrat hingga menjabat dua periode. Simak profil, riwayat jabatan, dan latar belakang pendidikannya.
Pukat UGM menilai OTT Wali Kota Madiun menunjukkan digitalisasi pengadaan belum mampu menutup celah korupsi selama praktik main mata masih terjadi.
ekretaris Daerah (Sekda) Kota Madiun, Soeko Dwi Handiarto, turut dipanggil dan diperiksa aparat kepolisian pada Senin sore.
KPK menangkap Wali Kota Madiun Maidi dalam OTT. Dugaan fee proyek dan dana CSR mencuat, ratusan juta rupiah disita penyidik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved