Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
WACANA pengembalian mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dari pemilihan langsung oleh rakyat menjadi pemilihan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menimbulkan pro dan kontra. Narasi utamanya seringkali berpusat pada 'penghematan anggaran' dan 'stabilitas politik'. Namun, ada sisi lain yang jarang dibedah secara komprehensif: dampak disrupsi ekonomi terhadap jutaan tenaga kerja yang selama ini menggantungkan 'panen raya' pada siklus demokrasi lima tahunan ini.
Jika Pilkada dikembalikan ke ruang sidang DPRD, ekosistem ekonomi yang masif, yang melibatkan perputaran uang triliunan rupiah hingga ke akar rumput, akan terhenti seketika. Efisiensi anggaran negara di satu sisi, berpotensi menjadi "bencana" pendapatan bagi sektor swasta dan pekerja informal di sisi lain.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai siapa saja yang akan kehilangan pekerjaan atau potensi pendapatan jika palu keputusan Pilkada dikembalikan ke tangan DPRD.
Kelompok terbesar yang akan terdampak secara langsung adalah "pasukan demokrasi" di tingkat akar rumput. Dalam sistem Pilkada langsung, Komisi Pemilihan Umum (KPU) merekrut jutaan tenaga kerja temporer. Dikutip dari Antara, berdasarkan data KPU pada Pilkada Serentak 2024, terdapat sekitar 3.045.623 anggota KPPS yang direkrut untuk bertugas di 435.089 TPS.
Jika pemilihan dilakukan oleh segelintir anggota DPRD, maka tidak ada lagi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Artinya, struktur badan ad hoc ini tidak lagi diperlukan dalam skala masif.
| Posisi | Data Real (Pilkada 2024) | Dampak Pilkada DPRD |
|---|---|---|
| KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) | 7 orang per TPS. Total nasional mencapai 3,04 juta orang. | Hilang Total. Tidak ada TPS berarti tidak ada perekrutan KPPS. |
| Linmas (Perlindungan Masyarakat) | 2 orang per TPS. Total nasional sekitar 870.000 orang. | Hilang Signifikan. Keamanan hanya dibutuhkan di gedung DPRD. |
| PPK & PPS | Panitia di tingkat Kecamatan dan Desa/Kelurahan. | Dirampingkan Drastis. Hanya fungsi administratif kecil yang tersisa. |
Sumber: Data Rekrutmen Badan Ad Hoc KPU RI (Pilkada 2024)
Meskipun bersifat temporer (1 bulan kerja), honorarium petugas KPPS Pilkada 2024 yang berkisar Rp850.000 (anggota) hingga Rp900.000 (ketua) merupakan stimulus ekonomi riil bagi masyarakat desa, mahasiswa, dan pekerja sektor informal. Hilangnya pos ini berarti hilangnya injeksi dana tunai triliunan rupiah langsung ke kantong rakyat kecil.
Pilkada langsung adalah "lebaran" bagi industri percetakan, mulai dari perusahaan besar hingga percetakan UMKM di pinggir jalan. Kebutuhan alat peraga kampanye (APK) dalam Pilkada langsung bersifat masif karena kandidat harus menjangkau pemilih di wilayah geografis yang luas.
Jika kandidat hanya perlu meyakinkan 50-100 anggota DPRD, maka kebutuhan logistik kampanye akan berubah total:
Dalam pertarungan memperebutkan suara rakyat (one man one vote), data adalah emas. Kandidat rela menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk menyewa jasa konsultan politik dan lembaga survei guna memetakan elektabilitas.
Jika pemilihnya berubah menjadi anggota DPRD, metode pemenangan bergeser dari "pemenangan opini publik" menjadi "lobi politik tertutup".
Pilkada langsung menuntut kemeriahan. Kampanye akbar, debat publik, hingga konser musik adalah metode standar untuk mengumpulkan massa. Ini menciptakan lapangan kerja bagi:
Dalam skema Pilkada DPRD, kampanye akbar tidak lagi relevan. Panggung hiburan rakyat akan digantikan oleh rapat-rapat tertutup di hotel atau gedung pertemuan, yang menyerap jauh lebih sedikit tenaga kerja kreatif.
Efek pengganda (multiplier effect) dari pergerakan massa kampanye dan operasional TPS sangat besar bagi sektor kuliner. Setiap kampanye akbar berarti rezeki bagi pedagang kaki lima di sekitar lokasi. Setiap TPS berarti pesanan konsumsi (nasi kotak/snack) bagi warung makan atau ibu-ibu PKK setempat.
Hilangnya 400 ribu lebih TPS dan kampanye terbuka berarti hilangnya jutaan pesanan nasi kotak dan jajanan pasar yang biasanya menjadi injeksi pendapatan bagi pelaku usaha mikro di daerah.
Mengembalikan Pilkada ke DPRD memang secara teknis akan memangkas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara signifikan. Biaya logistik, honor KPPS, dan pengamanan bisa ditekan hingga titik minimal.
Namun, dari kacamata ekonomi makro dan mikro, kebijakan ini akan memutus rantai distribusi uang dari elit politik dan negara ke masyarakat bawah. Anggaran yang sebelumnya "tumpah" ke rakyat dalam bentuk honor petugas, pesanan kaos, dan jasa panggung, berpotensi hanya berputar di lingkaran elit politik dalam bentuk lobi-lobi tertutup.
Bagi jutaan rakyat yang menggantungkan pendapatan tambahan dari pesta demokrasi ini, Pilkada lewat DPRD bukan hanya soal hilangnya hak pilih, tetapi juga hilangnya peluang kerja.
(P-4)
Sebanyak enam petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) meninggal dunia saat bertugas selama penyelenggaraan Pilkada Serentak 2024.
KPU resmi membuka pendaftaran Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang akan bekerja saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2024
HONOR KPPS Pilkada Serentak 2024 akan lebih rendah dibanding petugas KPPS yang bertugas pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, Februari lalu.
Untuk satu tempat pemungutan suara (TPS) nantinya akan diisi oleh 7 anggota KPPS dan perekrutan ini menjadi kewenangan panitia pemungutan suara (PPS).
KPU Tangsel mulai membuka tahapan rekrutmen KPPS Pilkada 2024
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved