Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menilai guyuran insentif dari pemerintah tak cukup untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah kebijakan suku bunga yang tinggi.
Teranyar, Presiden Joko Widodo berencana memberikan insentif untuk sektor properti nasional untuk memperkuat perekonomian di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sementara, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DDR) sebesar 25 basis poin ke level 6 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Oktober 2023.
"Insentif saja tidak cukup untuk mendatangkan investor di sektor tertentu karena yang lebih dibutuhkan calon investor adalah perbaikan iklim usaha secara menyeluruh," ujarnya saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (24/10).
Baca juga: Kondisi Eksternal Dorong BI Naikkan Suku Bunga
Shinta mengibaratkan pemberian insentif seperti hidangan penutup atau dessert, bukan hidangan utama atau main course yang secara esensi insentif tidak terlalu dibutuhkan oleh investor, ketimbang dengan kondisi iklim usaha yang kondusif dan kompetitif.
"Lagipula insentif pun ada thresholds atau batas, sehingga tidak bisa secara substansial menggantikan beban-beban usaha yang disebabkan oleh iklim usaha yang tidak kompetitif," terangnya.
Baca juga: Risiko Bank Tinggi jika Naikkan Suku Bunga Kredit
Menurutnya, perbaikan iklim usaha secara menyeluruh diperlukan agar mekanisme pasar atas investasi oleh pemodal di Indonesia pada sektor tertentu bisa berjalan dengan lancar.
Mekanisme pasar yang dimaksud, lanjut Shinta, seperti value added atau nilai ekonomi yang lebih bagi investor seperti kelayakan finansial, profitabilitas yang lebih tinggi, kegiatan produksi yang lebih stabil atau resilient dari disrupsi.
"Dan juga kesempatan memanfaatkan pasar yang lebih besar dibandingkan berinvestasi di negara lain," ungkapnya.
Senada, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam menuturkan bagi investor yang penting ialah kepastian dalam dunia usaha dengan kondisi politik yang kondusif.
"Jangan sampai kebijakan dan situasi politik yang ada menambah ketidakpastian di sektor ekonomi," ucapnya.
Bob menambahkan dengan fluktuasi nilai tukar (kurs) rupiah dapat menjadi berkah pelaku usaha yang menjalankan kegiatan ekspor, namun dapat memukul pengusaha dengan kegiatan impor karena kenaikan harga. (Ins/Z-7)
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
BANK Indonesia (BI) mencatat lebih dari 36 persen volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) secara nasional berasal dari DKI Jakarta.
Meskipun sejumlah daerah terdampak bencana hidrometeorologi, stok bahan pangan pokok di Sumbar dalam kondisi aman dan mencukupi untuk beberapa bulan ke depan.
LEMBAGA pemeringkat Moody's mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif pada 5 Februari 2026.
BI ingin menjamin masyarakat agar saat menjalani ibadah keagamaan tersebut harga-harga pangan terjangkau dan tersedia.
Kasus tersebut telah dimonitor oleh Polsek Setu bersama Polres Metro Bekasi untuk menindaklanjuti informasi temuan potongan kertas.
Pembiayaan perumahan syariah terus tumbuh dengan dukungan developer sebagai mitra strategis, memperkuat sektor properti dan program perumahan nasional.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, mengungkapkan produk KPR fix berjenjang ini memang salah satunya dikhususkan untuk generasi muda.
Kombinasi lokasi strategis, reputasi pengembang dan dukungan insentif pemerintah menciptakan proposisi nilai yang kompetitif bagi calon pembeli.
MegaProperty Expo, Megabuild Indonesia, dan Keramika Indonesia 2026 ditargetkan menjaring sekitar 50 ribu pengunjung.
Dengan populasi besar, pertumbuhan hunian baru yang berkelanjutan, daya beli yang relatif stabil, Surabaya menjadi salah satu motor utama pertumbuhan sektor properti nasional.
Tahun 2025 menjadi periode penuh tantangan, namun sekaligus fase konsolidasi bagi para pelaku industri properti.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved