Selasa 22 November 2022, 17:25 WIB

Keberagaman merupakan Kekuatan untuk Hadirkan Praktik Politik Inklusif

Mediaindonesia.com | Politik dan Hukum
Keberagaman merupakan Kekuatan untuk Hadirkan Praktik Politik Inklusif

DOK Pribadi.
Lestari Moerdijat.

 


KEBERAGAMAN identitas, budaya, bahasa, etnis, dan agama merupakan kekuatan penuh untuk menghadirkan praktik politik yang inklusif, menjangkau semua tanpa pembeda. 

"Kegiatan politik tidak bisa dilepaskan dari identitas seseorang. Setiap politisi memiliki beragam identitas, baik secara ras, agama, maupun asal daerah. Namun, terdapat nilai, ideologi, filosofi kebangsaan yang menjadi pedoman dalam berpolitik," kata Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat dalam sambutannya saat menerima peserta Socdem Asia-Progressive Alliance dengan tema Politics of Identities: Harnessing Power in Diversity and Unity di Gedung Nusantara 1 DPR/MPR Jakarta, Selasa (22/11). 

Kaukus Social Democracy Asia (SocDem Asia) merupakan organisasi yang beranggotakan partai-partai politik di negara-negara Asia dan Eropa yang menginisiasi nilai-nilai sosial dan demokratis untuk memperjuangkan kesetaraan dan hak asasi untuk semua. Identitas personal, jelas Lestari, memiliki korelasi dengan realitas sosial tempat individu bertumbuh. 

Dalam catatan sejarah, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, budaya Asia dengan seperangkat identitas, spirit kesatuan mengalami tantangan melalui bermacam distorsi politik yang kemudian mengerucut pada tujuan utama demokrasi sosial yaitu merangkul kelompok yang dikucilkan secara sosial kemudian merealisasikan hak-hak universal yang tak terpisahkan dari diri mereka. Identitas, jelas Rerie yang juga anggota Komisi X DPR dari Dapil II Jawa Tengah, ialah bagian dari keadaan alamiah manusia (human nature). 

Dalam identitas personal terdapat identitas sosial. Misalnya sebagai orang Indonesia, juga merupakan bagian dari Asia Tenggara sekaligus orang Asia. "Kesatuan identitas ini tidak mungkin dipecah begitu saja tanpa alasan mendasar karena menjadi kesatuan yang kompleks," ujarnya. 

Yang menjadi masalah, tegas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, ialah jika identitas atau atribut diri tertentu digunakan 
dan dimanipulasi untuk tujuan politik. Kawasan Asia, ujar Rerie, memiliki satu kultur keterhubungan yang mengakar dari sejarah masa lalu. Berbagai kebudayaan yang saling memengaruhi terlihat jelas di berbagai negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. 

Keterhubungan ini, jelas Rerie, menjadi penanda bahwa bangsa Asia pada masa lalu mampu membangun relasi tanpa mengedepankan atribut pembeda. "Setiap orang dijamin hak dan kebebasannya, terlepas dari latar belakangnya. Negara yang demokratis tidak melihat orang bedasarkan identitasnya," tegasnya. Tugas masyarakat global saat ini, ujar Rerie, ialah menyudahi ragam kebencian dengan satu tekad bahwa berpolitik tak pernah berorientasi pada kesejahteraan publik dengan label dan atribut tertentu. (RO/OL-14)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Fauzan

Bharade E Ceritakan Eksekusi Brigadir J dengan Emosional

👤Irfan Julyusman 🕔Rabu 30 November 2022, 15:14 WIB
Richard menjelaskan bahwa saat itu, Yosua didorong oleh Ferdy Sambo setelah memasuki rumah dinas sehingga posisi Yosua berhadapan dengan...
MI /ADAM DWI

MK Kabulkan Gugatan UU Pemilu, Eks Napi Boleh Nyaleg Setelah 5 Tahun

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Rabu 30 November 2022, 14:48 WIB
MK tetap memperbolehkan eks Napi korupsi tetap nyaleg dengan syarat telah melewati jangka waktu lima tahun setelah mantan terpidana selesai...
MI/Eva Pardiana

Karomani Sebut Mendag Titip Keponakan agar Masuk Fakultas Kedokteran Unila

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 30 November 2022, 14:24 WIB
Karomani menjelaskan seorang calon mahasiswa berinisial ZAG itu dititipkan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Lampung...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya