Kamis 20 Januari 2022, 22:32 WIB

15 Tahun, Aksi Kamisan Menjelma jadi Ruang Pendidikan 

Tri SUbarkah | Politik dan Hukum
15 Tahun, Aksi Kamisan Menjelma jadi Ruang Pendidikan 

MI/Andri Widiyanto
Aksi kamisan

 

AKSI Kamisan yang diinisiasi oleh korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di depan Istana Negara, Jakarta, memasuki usia 15 tahun. Aksi itu pertama kali digelar pada 18 Januari 2007. Menurut Sumarsih, orangtua korban Tragedi Semanggi I, Aksi Kamisan saat ini telah menjelma menjadi ruang pendidikan. 

"Menurut saya ini menjadi ruang pendidikan untuk anak-anak muda dan juga sebenarnya menjadi ruang pendidikan politik para pemangku kekuasaan," ujar Sumarsih dalam acara Peringatan Aksi Kamisan ke-714 di Jakarta, Kamis (20/1). 

Ibu dari almarhum Benardinus Realino Norma Irawan alias Wawan itu mengatakan, seiring berjalannya waktu, Aksi Kamisan justru mewadahi bakat anak-anak muda dengan berpuisi atau bernyanyi. 

Menurut Sumarsih, anak-anak muda itu suatu saat akan meneruskan tongkat estafet pemerintahan. "Nanti saat mereka duduk di kekuasaan, mereka mau, mampu, dan berani menyelesaikan pelanggarn HAM berat," katanya. 

Lebih lanjut, Sumarsih menuturkan alasannya tetap bertahan dalam mengikuti Aksi Kamisan adalah semangat cinta kepada Wawan. Terlebih, masih ada pekerjaan rumah dari agenda reformasi yang belum selesai. Oleh karenanya, ia merasa wajib untuk melanjutkan perjuangan putranya. 

"Bahwa saya mencintai Wawan dan cinta saya kepada Wawan itu juga mencintai sesama manusia dengan memperjuangkan tegaknya hukum dan HAM," tandasnya. 

Baca juga : JJ Rizal: Sejarah Nama Nusantara Betolak Belakang dengan Semangat Demokrasi

Selama 15 tahun, Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) telah menyiarkan setidaknya 354 surat terbuka ke Presiden. Dalam surat terbuka terakhir, JSKK menuntut pertanggungjawaban negara untuk menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat. 

Kejaksaan Agung sendiri sudah melakukan penyidikan kasus pelanggaran HAM berat Paniai yang terjadi di Papua pada 2014 silam. Peyidikan dimulai sejak Desember 2021 lalu. Diketahui, Peristiwa Paniai merupakan satu dari 13 kasus pelanggaran HAM berat yang penyelidikannya telah dilakukan Komnas HAM. 

Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin telah berjanji akan menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat tahun ini. Janji itu termaktub sebagai satu dari sembilan rencana program prioritas Kejaksaan tahun 2022. 

"Berkomitmen melakukan penuntasan perkara HAM yang berat berdasarkan peraturan perundang-undangan," kata Burhanuddin di Jakarta, (1/1). 

JSKK meminta penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM berat diselesaikan melalui mekanisme yudisial seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. 

"Kami mengingatkan bahwa berlangsungnya Aksi Kamisan selama 15 tahun merupakan bukti kegagalan negara untuk menegakkan hukum dan HAM serta memberi keadilan bagi korban," tulis surat JSKK bernomor 354/Surat Terbuka_JSKK/I/2022. (OL-7)

Baca Juga

DOK Kemendagri.

Kemendagri Tegaskan Penjabat Gubernur Aceh bukan Perwira TNI Aktif

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 06 Juli 2022, 00:10 WIB
Achmad merupakan perwira tinggi TNI lulusan angkatan 1989. Pria kelahiran Bandung 24 Februari 1967 itu sempat menjabat sebagai Tenaga Ahli...
ANTARA/Aprillio Akbar

Mahfud MD: ACT Harus Diproses Hukum Jika Terbukti Selewengkan Dana Kemanusiaan

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 06 Juli 2022, 00:05 WIB
PPATK sudah sejak lama melakukan analisis terhadap transaksi keuangan...
Dok DPR

Puan Mengaku Ditugasi Megawati Jajaki Koalisi dengan Partai Lain

👤Supardji Rasban/ Narendra Wisnu Karisma 🕔Selasa 05 Juli 2022, 22:44 WIB
"Saya merasa dekat dengan semua (pimpinan) parpol, jadi ini hanya masalah waktu saja. Mereka pun akan menerima silaturahmi dengan kita...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya