Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAHAN Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin diingatkan untuk segera melakukan perbaikan demokrasi. Berdasarkan hasil kajian dan survei, demokrasi di Indonesia dilaporkan mengalami penurunan.
Kepala Pusat Penelitian Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Firman Noor menjelaskan dari catatan The Freedom House, organisasi nirlaba yang menyuarakan demokrasi dan kebebasan, Indonesia memiliki skor 59 dengan kategori partly free atau sebagian bebas pada 2021.
Padahal, sebelumnya Indonesia berada pada kategori free atau bebas pada 2014. Adapun beberapa faktor yang dilihat ialah fungsi pemerintah, transparansi, supremasi hukum, pluralisme, serta kebebasan berekspresi dan berkeyakinan.
Baca juga: Wacana 3 Periode disebut Mirip Era Orde Baru
"Jadi meskipun ada, tapi substansinya tidak menggembirakan sehingga orang menyebutkan demokrasi prosedural," ujar Firman dalam diskusi virtual, Jumat (22/10).
Menurutnya, demokrasi di Indonesia saat ini berjalan parsial. Salah satunya, akibat tersandera kepentingan elit politik, termasuk para oligarki. Kondisi tersebut semakin merugikan masyarakat dan menyuburkan praktik suap, serta korupsi.
Selain itu, lanjut Firman, menurunnya demokrasi juga diakibatkan lemahnya lembaga yang merepresentasikan kepentingan rakyat, yakni legislatif. DPR RI dinilai kehilangan fungsinya untuk mengontrol dan menjaga keseimbangan kekuasaan pemerintah.
Hal senada diutarakan peneliti senior Centre for Strategic of International Studies (CSIS) J. Kristiadi. Menurutnya, Indonesia bisa mengarah pada negara anarki atau sebaliknya kembali ke rezim otoritarian, seperti Orde Baru. DPR seharusnya menjadi lembaga garda terdepan dalam mengawal demokrasi, namun hal itu tidak terjadi.
Baca juga: Politik Uang Diprediksi Marak Mendekati Hari Pemungutan Suara
Lebih lanjut, dia mencontohkan proses pembuatan undang-undang di parlemen. Seharusnya, ada transparansi dan proses pelibatan masyarakat. Pun, kalangan masyarakat sipil semakin sulit menyuarakan isu penting, seperti pemilu, yang tetap diputuskan digelar serentak, tanpa mendengar masukan dari ahli atau lembaga riset.
"Ini bisa menjadi negara anarki, kalau demokrasi terlalu bablas, atau bisa menjadi otoriter," pungkas Kristiadi.
Di samping itu, wacana amandemen UUD 1945 dan usulan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode, dinilainya sebagai arah Indonesia kembali menjadi negara otoritarian. "Saya tidak setuju kalau ada perpanjangan masa jabatan presiden. Kita akan mengalami monopoli kebenaran, seperti Orde Baru," tuturnya.(OL-11)
Setelah mendapatkan persetujuan dari para peserta sidang yang diiringi ketukan palu, Rano kemudian membacakan poin kesimpulan kedua yang berfokus pada pembenahan internal.
Data survei juga mengungkap fakta menarik bahwa penolakan ini tidak terkonsentrasi pada satu kelompok demografi atau politik tertentu
SATU tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dinilai berjalan mulus bukan karena kinerja pemerintah yang efisien, melainkan karena lemahnya peran DPR
Publik masih menunggu langkah pemerintahan Prabowo dalam merespons berbagai masalah dengan langkah-langkah korektif.
Sikap partai berlambang banteng tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.
Presiden Prabowo Subianto menyoroti maraknya perilaku masyarakat yang merasa paling tahu segalanya, terutama soal isu-isu politik dan pemerintahan.
Data survei juga mengungkap fakta menarik bahwa penolakan ini tidak terkonsentrasi pada satu kelompok demografi atau politik tertentu
Peneliti Core Indonesia, Eliza Mardian, menyarankan agar pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) demi melindungi konsumen akhir.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juli 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan tabungan masyarakat dengan nominal di bawah Rp100 juta hanya mencapai 4,76% (yoy).
Hasil survei nasional ungkap tantangan dan rumuskan arah kebijakan baru.
Usaha keluarga merupakan fondasi ekonomi Asia, dengan 85% perusahaan di kawasan Asia Pasifik dimiliki oleh keluarga, bersama UKM yang mencakup 97% bisnis di kawasan.
Berdasarkan survei, mayoritas masyarakat puas dengan kinerja Polri dan berharap dapat menjadi simbol supremasi sipil.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved