Kamis 09 September 2021, 14:42 WIB

KPK Dalami Pengusulan Nama-Nama Kades Probolinggo

Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum
KPK Dalami Pengusulan Nama-Nama Kades Probolinggo

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari bersama suaminya yang juga anggota DPR dan mantan Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin.

 

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelisik dugaan kongkalikong pengusulan nama-nama calon penjabat kepala desa (pj kades) dalam kasus jual beli jabatan di Pemkab Probolinggo. KPK memeriksa lima tersangka dalam kasus itu yakni Mawardi, Ali Wafa, Mashudi, Mohammad Bambang, dan Jaelani.

"Dikonfirmasi antara lain terkait dengan tahapan pengusulan nama untuk bisa menjadi penjabat kepala desa. Juga dikonfirmasi terkait dugaan adanya pemberian uang untuk mendapatkan persetujuan dari tersangka PTS (Puput Tantriana Sari) melalui tersangka HA (Hasan Aminuddin)," kata Plt juru bicara KPK Ali Fikri, Kamis (9/9).

Kasus jual beli jabatan kepala desa itu terjadi secara massal. KPK menetapkan total 22 tersangka.

 Tersangka penerima suap yakni Bupati Probolinggo Puput Tantriana sari serta suaminya Hasan Aminuddin, Doddy Kurniawan selaku Camat Krejengan, dan Muhamad Ridwan sebagai Camat Paiton.

Adapun 18 tersangka pemberi suap merupakan calon kepala desa yang juga ASN Pemkab Probolinggo yakni, Sumarto, Ali Wafa, Mawardi, Mashudi, Maliha, Mohammad Bambang, Masruhen, Abdul Wafi, Kho’im, Ahkmad Saifullah, Jaelani, Uhar, Nurul Hadi, Nuruh Huda, Hasan, Sahir, Sugito, dan Samsuddin.

Puput Tantriana merupakan bupati yang menjabat dua periode sejak 2013. Suaminya Hasan juga pernah menjabat Bupati Probolinggo dua periode sejak 2003 hingga 2013.

KPK menduga keputusan yang diambil Bupati Puput dlama kasus itu melalui persetujuan suaminya Hasan. Hasan disebut menentukan persetujuan nama-nama calon kepala desa itu. Hasan juga diduga berperan memerintahkan camat untuk mengumpulkan para kepala desa terpilih yang ingin menyetorkan uang.

Kasus jual beli jabatan itu terkait adanya kekosongan posisi kepala desa di Probolinggo yang pemilihannya diundur hingga 2022. Sesuai aturan, pengisi penjabat kepala desa ditunjuk oleh bupati dari kalangan pegawai negeri Pemkab Probolinggo yang usulannya melalui camat.

Namun, para ASN yang ingin menjadi kepala desa itu wajib menyetor Rp20 juta per orang. KPK menyebut selain setoran Rp20 juta, ada pula upeti dari tanah kas desa dengan tarif Rp5 juta per hektare. (Dhk/OL-09)

Baca Juga

MI/Seno

TNI/Polri Aktif duduki Jabatan Sipil Jadi Ancaman Bagi Demokrasi

👤Mediaindonesia 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 16:52 WIB
Lucius mengungkapkan penunjukan itu tidak sesuai dengan semangat dan amanat reformasi. Selain itu, juga melanggar...
MI/Susanto

KPU Sarankan Parpol Lakukan Pendaftaran Lebih Awal

👤Putra Ananda 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 16:06 WIB
Proses tahapan pendaftaran parpol peserta Pemilu 2024 direncanakan akan berlansung mulai 1 hingga 7 Agustus...
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Kejagung Masih Pelajari Putusan Banding Terdakwa ASABRI

👤Tri subarkah 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 15:35 WIB
Putusan tersebut masih dipelajari oleh Direktur Penuntutan JAM-Pidsus. Sejauh ini, Korps Adhyaksa belum memutuskan untuk mengajukan upaya...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya