Senin 19 Juli 2021, 12:14 WIB

Tegakkan Aturan PPKM, Aparat harus Kedepankan Humanisme

mediaindonesia.com | Politik dan Hukum
Tegakkan Aturan PPKM, Aparat harus Kedepankan Humanisme

MI/Dwi Apriani
Tim Satgas Covid Kecamatan Babat Supat, Muba melakukan sosialisasi PPKM Darurat lokal dan menempel stiker di warung dan rumah makan.

 

PANDEMI Covid-19 tidak hanya menyerang kesehatan jasmani masyarakat, lebih dari itu masyarakat dihadapkan dengan masalah finansial. Tak sedikit masyarakat yang kelaparan karena tak ada penghasilan. 

Kebijakan PPKM Darurat, di satu harus ditaati, tapi di sini lain penegakan aturan ini harus bijaksana dengan mengedepankan maslahat dan yang paling penting aparat harus bersikap humanis pada rakyat. 

Melihat kondisi tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengimbau, jika memang harus dilakukan penertiban hendaknya utamakan cara-cara yang lebih humanis dan mengedukasi. "Terbayang ekonomi mereka juga hancur. Jadi tolonglah untuk para petugas di lapangan, jika memang ingin menertibkan warga, maka lakukan dengan humanis. Jangan arogan," tegas Sahroni dalam rilis yang diterima Parlementaria, baru-baru ini. 

Baca Juga: Kejaksaan Jebloskan Pemilik Kedai Kopi ke Lapas Kelas II B Jalanni Kurungan 3 Hari

Politisi dari Fraksi Partai NasDem ini menjelaskan pendekatan humanis ini penting dalam memberikan pengertian tentang aturan PPKM dan pada saat yang bersamaan juga menunjukkan kepedulian petugas terhadap warga yang kesusahan karena pandemi Covid-19. “Kita harus saling paham. Mungkin petugas bisa menertibkan dengan lebih humanis, misalnya dengan dijelaskan baik-baik dan diberi pengertian. Lagi pula kan dalam aturannya warung boleh buka, asal take away. Jadi yang ditertibkan pengunjungnya, bukan menghajar warungnya,” katanya.

Sahroni menambahkan, bersikap tegas bukan berarti kasar. Selain melalui edukasi, petugas juga bisa memberlakukan aturan hukuman lain yang lebih ringan dan tidak terkesan arogan.

Baca Juga: Puan Maharani: Diperpanjang atau Tidak, Pastikan PPKM Darurat adalah Solusi untuk Rakyat

“Tegas bukan berarti kasar. Misalnya, selain menggalakkan edukasi, petugas juga bisa menghukum dengan hukuman seperti push up atau yang lain, bukan dipukul. Kalau seperti sekarang kan rakyat kasihan. Sudah lapar, dipukuli pula,” pungkasnya.

Teranyar, viral di media sosial video yang memperlihatkan Satpol PP memukul seorang ibu yang diduga hamil di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. “Melihat banyak fenomena di masyarakat terkait cara aparat menertibkan warung dan rumah makan di berbagai daerah, jujur saya kecewa. Kondisi mereka sudah sangat sulit karena adanya PPKM Darurat ini," keluh Sahroni. (RO/OL-10)

Baca Juga

MI/CIKWAN

KPK Panggil Dedi Mulyadi Terkait Korupsi di Indramayu

👤Candra Yuri Nuralam 🕔Rabu 04 Agustus 2021, 12:21 WIB
KPK memeriksa Dedi untuk mendalami rasuah yang dilakukan anggota DPRD Jawa Barat Ade Barkah Surahman dan mantan anggota DPRD Jawa Barat...
MI/Rommy Pujianto

Sertifikat Vaksin Covid-19 Jadi Syarat Layanan Publik, Ombudsman: Diskriminatif

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Rabu 04 Agustus 2021, 11:26 WIB
Kebijakan pemerintah yang mensyaratkan sertifikat vaksinasi covid-19 sebagai 'screening' pelayanan publik merupakan tindakan...
dok:instagram

PPATK: Dana Hibah Akidi Sebesar Rp2 Triliun Fiktif

👤Hilda Julaika 🕔Rabu 04 Agustus 2021, 11:16 WIB
PPATK menyimpulkan bahwa sumbangan Rp2 triliun untuk penanganan Covid-19 di Sumatera Selatan (Sumsel) adalah bodong atau...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kenyang Janji dan Pasrah Menunggu Keajaiban

Sejak peristiwa gempa bumi disertai tsunami dan likuefaksi di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah hingga kini masih banyak warga terdampak bencana tinggal di hunian sementara.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya