Kamis 28 Januari 2021, 14:15 WIB

Ahli Forensik Digital Temukan Surel Anita soal Revisi Red Notice

Tri Subarkah | Politik dan Hukum
Ahli Forensik Digital Temukan Surel Anita soal Revisi Red Notice

Antara
Joko S Tjandra

 

PEMERIKSA forensik digital dari Diektorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri AKP Adi Setya, menemukan komunikasi antara terpidana kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Joko S Tjandra dan mantan pengacaranya Anita Dwi Kolopaking melalui surat elektronik mengenai revisi red notice.

Adi yang merupakan saksi ahli dari jaksa penuntut umum (JPU) yang dihadirkan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (28/1) terkait kasus dugaan suap penghapusan nama Joko Tjandra dari daftar buronan. Adi menyebut menerima 14 barang bukti dari penyidik, salah satunya ponsel beserta kartu SIM milik Anita Dwi Kolopaking. 

"Kami temukan terkait dengan sebuah informasi komunikasi e-mail, dikirim dari a_kolopaking@yahoo.com atas nama Anita Kolopaking dikirim kepada chanjoe89@gmail.com dengan nama Joe Chan JST, kemudian ada juga dikirim ke jokotjandra@gmail.com. E-mail tersebut dengan subjek revisi surat red notice," papar Adi.

Dalam surel tersebut, Adi menjelaskan Anita meminta agar Joko untuk mengoreksi ulang.

"Berikut dilampirkan dengan kalimat juga, 'Dear Pak Joko, terlampir koreksi terbaru atas perihal tersebut di atas, mohon berkenan dicek kembali. Tks atas perhatiannya'," terang Adi.

Joko Tjandra tidak memberikan tanggapan terkait kesaksian Adi saat majelis hakim memberikannya kesempatan. Namun saat dikonfirmasi setelah sidang usai, Joko membantah melakukan komunikasi dengan Anita terkait revisi red notice.

"Oh enggak ada, itu sekretaris saya. Bukan saya," singkat Joko Tjandra.

Baca juga : Kejagung Cegah Belasan Orang ke Luar Negeri Terkait Kasus Asabri

Dalam perkara ini, Joko Tjandra diduga menyuap dua jenderal di institusi Kepolisian. Keduanya adalah mantan Kepala Biro Koordinator Pengawas PPNS Bareskrim Polri Brigjen Prasetijo Utomo dan mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Napoleon Bonaparte.

Penyuapan terhadap kedua jenderal tersebut diduga untuk menghapus namanya dari daftar buronan agar bisa masuk ke Indonesia. Itu dilakukan agar Joko Tjandra dapat mendaftarkan Peninjauan Kembali (PK) kasusnya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Saat itu, Joko Tjandra menunjuk Anita Kolopaking sebagai pengacaranya untuk mengajukan PK. Anita sendiri dipilih Joko Tjandra setelah dikenalkan oleh seorang jaksa bernama Pinangki Sirna Malasari.

Penyuapan dilakukan melalui perantara pengusaha Tommy Sumardi. Berdasarkan kesaksian Tommy, uang sebanyak US$370 ribu dan Sing$200 ribu diberikan kepada Napoleon, sedangkan US$150 ribu untuk Prasetijo. (P-5)


 

Baca Juga

Dok. DPR Papua

DPR Papua Sambangi Fraksi-fraksi di DPR RI Soal Revisi Otsus

👤Thomas Harming Suwarta 🕔Selasa 22 Juni 2021, 23:45 WIB
Menurut Boy, selama ini banyak opini yang berkembang baik dari pemerintah maupun DPR RI melalui Pansus terkait Revisi UU Otsus yang hanya...
Dok Komnas HAM

Komnas HAM akan Panggil BIN dan BNPT soal Polemik TWK

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Selasa 22 Juni 2021, 22:57 WIB
Anam mengatakan Komnas HAM sudah melayangkan surat undangan permintaan keterangan untuk Badan Intelijen Strategis TNI, BNPT, dan...
Antara

63.950 Benur Selundupan Berhasil Disita Aparat di Jambi

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 22 Juni 2021, 21:30 WIB
Benur yang disita terdiri dari 62.400 ekor jenis pasir dan 577 ekor jenis mutiara serta jurong jenis pasir atau benur yang mulai menghitam...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kereta Api Makassar-Parepare Membangun Ekonomi dan Peradaban

Belanda pernah membuat jalur kereta api Makassar-Takalar, namun sejak Jepang berkuasa jalur itu dibongkar. Dan baru era sekarang, Sulawesi Selatan kembali memiliki jalur  kereta api

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya