Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
STAF Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susestyo mengatakan konten-konten di media, baik elektronik dan sosial, turut menumbuhkembangkan potensi perilaku korupsi di masyarakat.
Ia melihat, saat ini, banyak program di televisi dan platform-platform lain yang mempertontonkan hedonisme. Sementara, konten keteladanan dan moralitas justru semakin meredup.
“Hilangnya program-program tentang moralitas dan keteladanan di ruang publik, serta maraknya konten hedonisme membuat tindakan korupsi baik besar maupun kecil seakan-akan hal yang lumrah," ujar Benny melalui keterangan resmi, Senin (7/12).
Baca juga: Polri Buru Empat Pengikut Rizieq Lainnya yang Kabur
Oleh karena itu, ia menekankan ruang publik sudah semestinya diisi dengan konten-konten positif yang menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Harus ada upaya serius untuk memasukkan nilai-nilai Pancasila ke dalam hal-hal kekinian dengan model pembinaan yang aplikatif dengan sistem digital.
Dalam hal tersebut, lanjut Benny, keluarga juga berperan besar untuk dapat menyaring program-program apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi anak-anak.
"Pencegahan korupsi seharusnya dimulai dari pendidikan keluarga. Kejujuran serta keterbukaan harus mulai ditanamkan sejak dini kepada anak-anak," ucapnya.(OL-4)
Psikolog ingatkan bahaya algoritma media sosial yang picu ketergantungan dan perilaku konsumtif pada remaja. Simak cara mengatasinya di sini.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Anak di bawah usia 16 tahun tetap dapat berkarya di media sosial, namun sebaiknya menggunakan akun milik orang tua, bukan akun pribadi.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Dibandingkan menerapkan pelarangan akses secara total, YouTube memilih pendekatan fitur perlindungan yang terintegrasi dan berbasis usia.
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved