Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla meluruskan pernyataan Presiden Joko Widodo agar masyarakat berdamai dengan virus korona atau covid-19.
Pasalnya, perdamaian terjadi apabila kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan perang. "Berdamai itu kalau dua-duanya ingin berdamai. Kalau kita hanya ingin damai, tapi virusnya enggak mau, bagaimana?" tanya Wapres ke-10 dan 12 itu dalam diskusi Universitas Indonesia Webinar "Segitiga Virus Corona", Selasa (19/5).
Bagi Kalla, ajakan berdamai sangat kontras dengan sifat virus corona yang ganas dan menyebabkan kematian. Selain itu, virus covid-19 juga tidak memilih maupun memilah korbannya. "Karena itu, istilah berdamai kurang tepat ketika terjadi pandemi Covid-19," tegasnya.
Baca juga: Presiden Tegaskan Dorong Umat Tingkatkan Ibadah
Menurut Kalla, ajakan berdamai lebih mengacu ke perilaku masyarakat untuk beradaptasi dengan situasi pandemi. Seperti disiplin menggunakan masker hingga rajin mencuci tangan. "Mungkin kebiasaan kita yang harus pakai masker terus, cuci tangan terus. Namun, bukan berarti kita berdamai karena risikonya mati," ujarnya.
Kalla juga tidak setuju apabila pemerintah menggunakan opsi herd immunity dalam menghadapi pandemi karena akan banyak korban bertumbangan. "Bisa saja ini dilakukan, cuma korbannya bakal banyak," ujarnya.
Baca juga: Jokowi Minta Masyarakat Berdamai dengan Covid-19
Ia mencontohkan praktik pemerintah herd immunity ketimbang karantina yang diterapkan Swedia. "Angka kematian di Swedia lima kali lipat dibanding negara di sekitarnya akibat mencoba konsep ini," ungkapnya.
Apalagi, tambah Kalla, lembaga internasional juga WHO tidak menganjurkan penerapan konsep herd immunity. "Apakah kita akan memilih itu, sebaiknya jangan," tandas Kalla.
Baca juga: Istana Sebut Berdamai dengan Covid-19 bukan Berarti Menyerah
Presiden Joko Widodo menyebut pemerintah berupaya keras agar puncak pandemi covid-19 segera menurun. Namun, ia meminta masyarakat berdamai dengan kondisi ini hingga covid-19 benar-benar pergi dari Indonesia.
"Beberapa ahli mengatakan ketika kasusnya sudah turun tidak berarti langsung landai atau langsung nol, melainkan masih bisa fluktuatif. Ada kemungkinan masih bisa naik lagi atau turun lagi, naik sedikit lagi, dan turun lagi dan seterusnya. Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan covid-19 untuk beberapa waktu ke depan," kata Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, dalam video yang diunggah Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Kamis (7/5).(X-15)
MANTAN Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo hadir dalam pengukuhan guru besar,Prof. Zainal Arifin Mochtar dan pidatonya soal demokrasi
WAKIL Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) menceritakan perbedaan penanganan tsunami Aceh pada 2004 silam dengan banjir yang melanda Sumatra pada tahun ini.
Jusuf Kalla menegaskan bantuan asing ke Aceh diperbolehkan selama untuk kemanusiaan dan terkoordinasi. PMI fokus pada logistik dan kebutuhan dasar warga terdampak.
Jusuf Kalla menekankan pentingnya penanganan cepat dampak banjir, khususnya penumpukan kayu di sungai, serta mendorong pemanfaatan kayu bernilai guna untuk membantu masyarakat
KETUA Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) meminta agar permasalahan lautan kayu dari banjir Sumatra untuk segera diselesaikan. Kayu yang memiliki nilai guna dapat dimanfaatkan.
Masjid perlu terus dimakmurkan dan dimanfaatkan sebagai sarana membangun masyarakat yang religius sekaligus mandiri.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
DALAM beberapa minggu terakhir, rumah sakit dan klinik di wilayah Jabodetabek mencatat peningkatan signifikan pasien dengan gejala flu yang mirip covid-19.
KEPALA Biro Komunikasi dan Persidangan Kemenko PMK, Budi Prasetyo, mengatakan pemerintah berencana pola penanganan tuberkulosis (Tb)) akan dilakukan secara terpadu seperti covid-19.
MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan data program keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaporkan secara rutin seperti laporan covid-19 pada saat pandemi lalu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved