Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
MANTAN Kepala Badan Intelijen Strategis TNI Laksda TNI Purn Soleman B Ponto mengingatkan TNI AD menyadari risiko atas keputusannya mempertahankan Enzo Allie sebagai taruna di Akademi Militer.
Pasalnya, jelas Soleman, jika menggunakan standar penerimaan taruna militer, Enzo dinilai tidak layak.
"Yang paling berat adalah tidak memenuhi syarat, hanya karena apa? Keterpengaruhan. Nah, mau lihat dari mana seseorang terpengaruh. Untuk masuk kan ada standart operating procedure, untuk alat tes, khususnya tes untuk mental ideologi," katanya saat dihubungi, Selasa (13/8).
Keterpengaruhan seseorang dengan sesuatu, apakah paham kiri, kanan, dan sebagainya, kata dia, bisa dilihat, antara lain cara berpakaian, memakai topi, dan sebagainya.
Menurut Soleman, jika didasarkan pada foto Enzo ketika memegang bendera yang identik dengan HTI, semestinya TNI langsung memberhentikannya sejak awal masuk Akmil. Sebab, syarat utama seseorang dapat lolos ke pendidikan Akmil ialah bebas dari pengaruh ideologi di luar Pancasila.
"Untuk kasus Enzo, bagaimana keluarganya di rumah, dengan gambar-gambar, saya gunakan gambar yang di medsos, ya. Bagaimana menggunakan hiking dengan bendera. Bagi saya itu bentuk keterpengaruhan. Dia tidak boleh ada pengaruh ketika tes, apalagi tes awal. Betul-betul harus murni dia. Kalau ada pengaruh, ya sudah tidak lulus," tandasnya.
Baca juga: Pengamat: Menghidupkan GBHN Versi Lama Bagai Berjalan Mundur
Apalagi, kata Soleman, penelitian khusus (litsus) mental ideologi itu sudah bertahun-tahun digunakan dalam rekrutmen TNI, apalagi taruna yang menerapkan zero tolerance.
"Jadi, orang itu betul-betul tidak ada pengaruh ketika dites. Ketika itu ada pengaruh, ya terserah pengambil keputusan. Dia sudah mengambil, ya terserah, dengan segala macam risikonya," kata Soleman.
Sebelumnya, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa menegaskan, TNI AD memutuskan untuk mempertahankan Taruna Akademi Militer (Akmil) keturunan Indonesia-Prancis itu.
Jenderal Andika menyebutkan pihaknya sudah melakukan pengukuran terkait indeks moderasi bernegara Enzo. Hasilnya, Enzo memiliki indeks moderasi bernegara yang cukup baik. (OL-8)
PEMERINTAH Indonesia menegaskan rencana pengerahan hingga 8.000 personel TNI ke Gaza akan sepenuhnya berfokus pada misi kemanusiaan, bukan operasi tempur.
Donny Pramono menyatakan bahwa proses penyiapan pasukan untuk misi perdamaian dan kemanusiaan ke Gaza, Palestina, terus dimatangkan.
Jumlah pelanggaran prajurit TNI 2025 menurun hingga 40%. Namun, tantangan disiplin dan kejahatan siber masih jadi sorotan.
Pemerintah mengambil langkah konkret dengan memperkuat pengamanan bandara khususnya di wilayah di Papua menyusul insiden penembakan pesawat perintis di Papua Selatan.
Indonesia siapkan 8.000 personel TNI untuk bergabung dalam International Stabilization Force (ISF) di Gaza, tunjukkan komitmen misi perdamaian.
PEMERINTAH berencana mengirim 8.000 prajurit TNI ke Gaza, Palestina untuk bergabung dalam International Stabilization Force (ISF). Keputusan itu dinilai sarat risiko
Hariyono mengaku ingin mengetahui bagaimana Pancasila disosialisasikan di Akmil.
Disimpulkan indeks moderasi beragama Enzo cukup memuaskan, mencapai poin 5,9 dari maksimal 7.
Adapun dalam video yang diunggah pada Selasa (6/8) di akun Instagram Puspen TNI, @puspentni, menjelaskan banyak mengenai prestasi dan sosok Enzo.
"Ada banyak selama ini yang harus diberhentikan di tengah jalan karena akhirnya ketahuan ideologinya tidak sejalan dengan Pancasila," lanjut Sisriadi.
Enzo bisa lari 3.000 meter selama 12 menit. Lalu pull up 19 kali, sit up 50 kali, push up 50 kali dalam waktu 60 detik. Dan, renang 50 meter dalam waktu 1 menit.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved