Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Hukum dan Advokasi Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ade Irfan Pulungan mengungkapkan pihaknya mempertimbangkan untuk melakukan proses hukum bagi para saksi yang memberikan keterangan palsu dalam persidangan sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi
"Kita konsentrasi dulu terhadap hasil putusan MK. Tetapi jika memang ini menjadi wacana kuat di publik terhadap keterangan palsu ini, kami akan memikirkannya untuk melakukan proses hukum lebih lanjut. Jadi bukan tidak mungkin dilakukan, itu mungkin saja," terang Ade dalam konferensi persnya di Jakarta, Selasa (25/6).
Ade menerangkan, secara hukum, kesaksian palsu dalam persidangan memang dapat dijerat pidana. Ia pun menegaskan, ada beberapa contoh kasus, saksi yang memberikan keterangan palsu terkena hukuman pidana karena perbuatannya.
Salah satunya menimpa saksi dalam sengketa Pilkada Kotawaringin Barat. Kala itu, Bambang Widjajanto yang saat ini menjadi ketua tim hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN ) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, juga ikut menjadi kuasa hukum pemohon.
Baca juga : Bukti Kecurangan Lemah, TKN Optimis MK Tolak Gugatan BPN
Ade menjelaskan, pihaknya akan lebih dulu menelaah konten kesaksian yang diutarakan di hadapan majelis hakim MK. TKN akan melihat, apakah keterangan yang diberikan bagian dari skenario atau saksi justru tidak memahami fungsi dan situasinya dalam memberi keterangan di MK.
Keterangan palsu yang diperkarakan TKN, lanjut Ade, tidak berhubungan dengan hasil sidang PHPU di MK yang akan dibacakan pada Kamis (27/6) nanti.
"Ini bukan persoalan menang dan kalah dari putusan itu. Ini persoalan adanya pelanggaran hukum yang dilakukan para saksi tersebut. Kita harus mengedepankan hal itu, bukan persoalan kalau kami menang tidak usah lagi di proses, tidak," tegas Ade.
Dngan memproses para saksi yang memberikan keterangan palsu, ujar Ade, akan menjadi peringatan kepada saksi lainnya yang akan bersaksi di MK agar memberikan keterangan sebenarnya sebagaimana iatur dalam UU.
Hal tersebut juga menjadi pendidikan politik bagi masyarakat agar menghormati proses yang berlangsung dengan berkata jujur sesuai dengan fakta yang ada dalam memberikan kesaksian.
Baca juga : MK diprediksi Tolak Permohonan Prabowo-Sandi
Ade mengungkapkan, pihaknya saat ini memang sudah mengidentifikasi sejumlah keterangan yang tidak sesuai dengan fakta atau peristiwa yang terjadi. Namun hal tersebut belum dapat disampaikan secara terbuka.
Ade memastikan pihaknya akan mengacu kepada rilsalah persidangan dalam mencari keterangan yang tidak benar.
"Karena semua percakapan kita itu semua ada dalam risalahnya. Risalah itu akan menjadi acuan dasar kami untuk mengamatinya, sejauh mana keterangan-keterangan saksi itu, apakah keterangan yang direkayasa atau benar apa adanya," tutur Ade. (OL-7)
KPK menetapkan Hasto Kristiyanto sebagai tersangka suap terkait buronan Harun Masiku. Hasto disebut aktif mengupayakan Harun memenangkan kursi anggota DPR pada Pemilu 2019.
Bagi Mahfud, batalnya memakai kemeja putih tersebut lima tahun lalu menyimpan pesan tersendiri.
KPID Sulawesi Selatan mengaku belum bisa menindak caleg dan parpol yang mulai mencuri start pada Pemilu 2024.
PENDUKUNG Joko Widodo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kini berbalik mendukung calon presiden (capres) Prabowo Subianto jelang Pilpres 2024.
Beberapa upaya dari KPU untuk mencegah terjadinya kembali korban jiwa dari petugas KPPS.
"Mas Ganjar kan enggak nyapres, enggak nyapres beliau," kata Immanuel di Jakarta, Minggu.
UJI materiil Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan di MK memunculkan perdebatan mengenai kewenangan pembukaan dan tata kelola pendidikan dokter spesialis.
Mereka meminta Polri ditempatkan di bawah Kemendagri agar penyidikan dan penuntutan lebih independen, serta menghindari intervensi politik.
Mahkamah Konstitusi menggelar uji materi UU APBN 2026 terkait dugaan pemangkasan anggaran pendidikan akibat masuknya program Makan Bergizi.
MK soroti praktik kuota internet hangus yang dinilai berpotensi melanggar hak rakyat. Saldi Isra pertanyakan dasar hukum dan tanggung jawab negara.
Pemerintah menegaskan kuota internet hangus bukan pelanggaran hukum dalam sidang MK terkait uji materi UU Cipta Kerja.
DPR menegaskan kuota internet hangus bukan diatur UU Cipta Kerja, melainkan ranah kontrak operator dan pelanggan dalam sidang MK.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved