Sabtu 22 Juni 2019, 07:50 WIB

Beda Nasib Soenarko dan Kivlan

Fer/Gol/Ant/X-8 | Politik dan Hukum
Beda Nasib Soenarko dan Kivlan

Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto
Kabiro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Dedi Prasetyo

 

POLRI memutuskan untuk menangguhkan penahanan terhadap tersangka mantan Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko setelah mendapatkan jaminan dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

Kabiro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, selain jaminan dari Hadi dan Luhut, penyidik juga punya alasan lain sehingga menangguhkan penahanan Soenarko. "Memang ada penjaminnya, yaitu Bapak Panglima TNI dan Bapak Menko Kemaritiman, juga ada pertimbangan-pertimbangan lain,'' jelasnya di Mabes Polri, kemarin.

Dedi menambahkan, sikap Soenarko yang kooperatif ikut menjadi dasar pertimbangan penyidik. "Pertimbangan berikutnya secara subjektif, bahwa beliau tidak akan mengulangi perbuatannya, tidak akan menghilangkan barang bukti, dan tidak akan melarikan diri.''

Soenarko ditetapkan sebagai tersangka kepemilikan senjata api ilegal sejak Mei 2019 dan ditahan di Rutan POM Guntur, Jakarta. Ia dinilai berpotensi mengancam keamanan nasional karena diduga senjata api itu untuk diselundupkan dalam kerusuhan pada 21-22 Mei 2019.

Setelah penangguhan penahanannya dikabulkan, Soenarko kemarin keluar dari Rutan Guntur. Kuasa hukum Soenarko, Ferry Firman, mengatakan kliennya sempat bertemu mantan Kepala Staf Kostrad TNI-AD Mayjen (Purn) Kivlan Zein yang juga ditahan di Rutan Guntur. Dia berpesan kepada koleganya itu untuk berhati-hati dalam berbicara agar tidak menimbulkan pro-kontra. ''Hati-hati juga kepada tamu-tamu yang datang, siapa tahu ada yang merekam dan menviralkan obrolan itu.''

Kivlan ialah tersangka kasus makar, kepemilikan senjata api ilegal, dan permufakatan jahat. Dia sempat meminta perlindungan hukum kepada sejumlah pejabat dan penangguhan penahanan, tapi ditolak.

Menurut Dedi, penyidik menolak menangguhkan penahanan Kivlan karena pertimbangan objektif dan subjektif. "Salah satunya ada hal yang tidak kooperatif menyangkut masalah pokok perkara yang saat ini sedang didalami oleh penyidik,'' terangnya. (Fer/Gol/Ant/X-8)

Baca Juga

Ilustrasi

Jokowi Instruksikan Kapolri Usut Tuntas Teror di Sigi

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Senin 30 November 2020, 18:36 WIB
Presiden menyebut tindakan teror hingga menewaskan empat warga itu di luar batas kemanusiaan dan ditujukan untuk merusak kerukunan...
Ilustrasi

Pejabat KKP Masuk Bursa Pengganti Edhy Prabowo

👤Cahya Mulyana 🕔Senin 30 November 2020, 18:12 WIB
Sebagai orang yang berpengalaman di bidang kelautan dan perikanan, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan 1961 itu patut dipertimbangkan...
MI/Ramdani

Sampaikan Duka, Jokowi Akan Beri Santunan korban Teror di Sigi

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Senin 30 November 2020, 17:51 WIB
Presiden menyebut aksi pembunuhan dan pembakaran itu sebagai teror yang ditujukan untuk merusak kerukunan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya