Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Gerakan Kawal Pemilu Ajak Masyarakat Wujudkan Pemilu Jurdil

Golda Eksa
02/4/2019 18:45
Gerakan Kawal Pemilu Ajak Masyarakat Wujudkan Pemilu Jurdil
Ruly Achdiat (dua dari kiri), salah satu penggagas Kawal Pemilu Jaga Suara (KPJS) 2019 di Jakarta, Selasa (2/4).(Golda Eksa/MI)

GERAKAN Kawal Pemilu Jaga Suara (KPJS) 2019 yang diluncurkan oleh Kawal Pemilu dan Network for Democracy and Electoral Integrity (Negrit) mengajak masyarakat untuk terlibat secara aktif mengawal jalannya proses penghitungan suara pada pesta demokrasi, serta memastikan jalannya pemilu secara jujur, adil, dan terpercaya.

Demikian dikatakan Ruly Achdiat, salah satu penggagas Kawal Pemilu, disela-sela diskusi Media Updates, di Jakarta, Selasa (2/4). Acara tersebut juga menghadirkan relawan Kawal Pemilu Sely Martini dan seniman Nia Dinata.

Gerakan tersebut, sambung Ruly, memerlukan partisipasi masyarakat secara sukarela di 809.500 TPS di penjuru Tanah Air. Masyarakat diharapkan bisa bersama-sama mengawal jalannya pemilu presiden, DPD, DPR RI, DPRD I, dan DPRD II.

Menurut dia, ada tiga alasan mengapa pemilu presiden dan DPR RI harus dipantau dan perlu keterlibatan masyarakat. Pertama, pesta demokrasi di Indonesia sangat kompleks, rumit, dan terbesar di dunia. Kedua, Pilpres dan Pileg 2019 untuk pertama kali dihelat di hari yang sama. Ketiga, integritas hasil pemilu akan meningkatkan kepercayaan publik.

Ruly menjelaskan, proses penyalinan hasil penghitungan suara dari C1 plano ke C1 scan harus dikawal karena di tahap tersebut rawan kecurangan dan human error. "Gerakan KPJS 2019 yang nonpartisan ini mengajak komunitas pro-data dan seluruh elemen masyarakat untuk turut terlibat dalam pengawalan suara. Gerakan KPJS 2019 akan menggabungkan tech skills KawaIPemiIu.org dan technical expertise Netgrit untuk menjaga suara rakyat dalam skala besar," ujarnya.

Mekanismenya pun cukup sederhana. Ia menambahkan, pada hari pencoblosan, relawan datang ke TPS untuk memantau penghitungan suara, lalu ambil foto formulir C1 plano menggunakan ponsel. Setelah mendapat koneksi internet yang stabil, upload foto C1 plano ke upload.kawalpemilu.org. Setiap relawan juga bisa mengawal lebih dari satu TPS #PantauFotoUpload.

Baca juga: Masyarakat Sipil Mesti Bersatu Kawal Pemilu

”C1 plano merupakan data paling otentik karena dihitung di depan publik. Selain itu, sulit dimanipulasi karena memiliki banyak indikator keaslian, seperti hologram, nama TPS, kelurahan, kecamatan. Konsistensi goresan tangan pun merupakan indikasi keaslian,” katanya.

Relawan Nia Dinata, menambahkan semua orang bisa menjadi relawan dengan meng-upload foto C1 plano ke situs upload.kawalpemilu.org. Produser film Arisan! dan Ca Bau Kan, itu menilai upaya menjaga suara rakyat melalui pengumpulan data dari lapangan bukan hal mustahil.

Realitas itu, sambung dia, karena KPU membolehkan pemantau dan warga untuk mengambil foto C1 plano setelah proses penghitungan selesai. Salinan C1juga akan ditempel di TPS dan di kantor desa/Iurah keesokan harinya. ”Kami tidak tanya relawan akan memilih siapa di pemilu nanti, yang penting berpihak pada kebenaran data,” ujar Nia.

Kawal Pemilu Jaga Suara 2019, imbuhnya, akan memantau rekapitulasi suara sampai hasil akhir pemilu diumumkan oleh KPU. "Dengan demikian, kami berharap publik akan punya tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap hasil perolehan suara akhir," tandasnya.

Kawal Pemilu merupakan proyek urun daya (crowdsourcing) netizen prodata Indonesia yang didirikan 2014. Tujuannya untuk menjaga suara rakyat di pemilihan umum melalui penggunaan teknologi untuk melakukan real count secara cepat dan akurat. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya