Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Angka Golput Dibagi Proporsional, Jokowi-Ma'ruf Unggul Dua Digit

Rahmatul Fajri
02/4/2019 17:00
Angka Golput Dibagi Proporsional, Jokowi-Ma'ruf Unggul Dua Digit
Dua peneliti LSI dalam paparan mengenai survei terkait sebaran suara golput, di Jakarta, Selasa (2/4).(Bary Fathahilah/MI)

LINGKARAN Survei Indonesia (LSI) merilis survei elektabilitas capres per 26 Maret. Hasilnya, dengan membagi angka golput secara proporsional, Jokowi-Ma'ruf unggul dengan rentang elektabilitas sebesar 56,8%-63,2%. Sedangkan Prabowo-Sandi elektabilitasnya pada rentang 36,8%-43,2%.

"Pilpres kurang dari 20 hari lagi. Dengan tampilan elektabilitas memperhitungkan angka golput dan margin of error, Jokowi-Ma'ruf menang dua digit," kata peneliti LSI, Ardian Sopa ketika konferensi pers di Graha Dua Rajawali, LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (2/4).

Ardian mengatakan pada survei kali ini pihaknya menggunakan rentang suara, lantaran telah membagi angka golput secara proporsional ke kedua kubu dan menghitung plus minus margin of error.

Selain itu, dengan pertimbangan pilpres digelar ketika survei dan menggunakan simulasi kertas suara, maka menghilangkan angka golput karena pemilih telah menentukan pilihannya.

Baca juga: Relawan Jangan Terlena Hasil Survei

"Range ini juga untuk melihat potensi pemilih yang awalnya golput itu seperti apa. Juga lebih memberikan gambaran yang lebih utuh posisi yang sekarang, dibanding menggunakan single number seperti biasanya," kata Ardian.

Maka dari itu, Ardian mengatakan perlu menjadi catatan bahwa persentase bisa bergeser jika kemudian angka golput terjadi secara nonproporsional, yakni ketika mayoritas berada di salah satu kubu. Ini akan menjadi kerugian bagi kandidat lantaran dukungannya tidak berujung di surat suara di TPS.

"Kalau nonproporsional adalah terjadi golput di salah satu kandidat itu lebih banyak tidak datang ke TPS, sehingga tidak menjadi suara, padahal itungan nantinya adalah suara," kata Ardian.

Maka dari itu, Ardian mengatakan kedua kubu perlu mencermati dinamika golput, lantaran sangat berpengaruh terhadap elektabilitas.

"Ini bagaimana timses melihat satu suara. Bagaimana satu suara sangat berharga. Jangan sampai sudah merasa menang dan kemudian tidak datang ke TPS untuk ambil bagian," kata Ardian.

Seperti diketahui, LSI melakukan survei dari 18 hingga 26 Maret 2019 dengan menggunakan 1200 responden. Survei dilakukan di 34 provinsi di Indonesia dengan metode multistage random sampling dan wawancara tatap muka dengan menggunakan kinesioner. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya