Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Miskin Gagasan, Tim Paslon 02 Lakukan Praktik Politik Daur Ulang

Micom
01/2/2019 10:20
Miskin Gagasan, Tim Paslon 02 Lakukan Praktik Politik Daur Ulang
(MI/ROMMY PUJIANTO)

BERAGAM fitnah yang ditujukan kepada Joko Widodo adalah pengulangan politik fitnah tahun 2014. Demikian halnya serangan terhadap KH Ma'ruf Amin, kesemuanya menggunakan isu masa lalu. Pun beredarnya foto silaturahmi paslon Prabowo-Sandi dengan Wapres Jusuf Kalla yang diklaim secara sepihak seolah Pak JK dukung Prabowo-Sandi.

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Amin, Hasto Kristiyanto, menyebut kesemua ocehan itu manipulatif dan merupakan cerminan praktik politik daur ulang (PPDU). Semua isu dan fitnah yang dipakai substansi tidak beda jauh dengan Tabloid Obor Rakyat sebagai induk semang serangan fitnah.

"Tumpulnya fitnah yang ditujukan ke Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf Amin melahirkan Politik Daur Ulang. Maka dicari-carilah dokumen digital guna membangun persepsi banyak dukungan," kata Hasto dalam keterangan resmi, Jumat (1/2).

Baca juga: Pidato Prabowo Hanya Daur Ulang Isu Lama

Bagi paslon Jokowi-Ma'ruf Amin, lanjut Hasto, dukungan sebenarnya adalah rakyat bukan dukungan manipulati sampai JK yang menjadi Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye 01 pun diklaim memberi dukungan ke mereka hanya karena sebuah foto. Hasto pun mengatakan cara tersebut tidak akan berhasil, tim kampanye Prabowo-Sandi tidak berkaca dari kegagalan Obor Rakyat pada 2014 lalu.

"Menjadi calon bupati saja harus ke depankan prestasi dan rekam jejak baik seperti keluarga, prestasi dalam karir apakah mulus atau diberhentikan di tengah jalan, retorika atau kerja, juga visi misinya. Itu untuk kepala daerah, apalagi menjadi presiden. Tidak heran, dengan strategi menyerang dan miskin peradaban membuat elektabilitas Prabowo-Sandi selalu berada pada kisaran 25,4-34,6%, atau ketinggalan paling tidak 22% di bawah Jokowi-Ma'ruf Amin", ujar Hasto.

Sekretaris Jenderal PDIP ini pun berharap sisa waktu kampanye dapat diisi dengan kontestasi gagasan dalam berbagai hal seperti kebijakan fiskal, energi, pangan, peningkatan SDM, akselerasi penguasaan teknologi, kebijakan industri manufaktur, hingga program kesehatan dan road map menjadi bangsa pelopor .

"Sampaikan isu yang jauh lebih menarik kepada publik, daripada produksi konten serangan negatif melalui praktik politik daur ulang dan memanipulasi dukungan tokoh," pungkasnya.(RO/OL-5)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya