Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan hasil hitung cepat lembaga-lembaga survei untuk pemungutan suara di Pilkada Jawa Barat tidak akan jauh berbeda dengan hasil rekapitulasi resmi yang dilakukan oleh KPU Jabar.
Qodari mengatakan berkaca dari Pilkada sebelumnya pada 2013, hasil hitung cepat berbagai lembaga survei yang memenangkan pasangan Ahmad Heriyawan-Deddy Mizwar sejalan dengan hasil rekapitulasi suara KPU Jabar.
Hal ini ia ungkapkan untuk menanggapi pernyataan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jabar Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang menduga hasil hitung cepat yang saat ini mengunggulkan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum akan beda dengan hasil rekapitulasi KPU Jabar.
Dalam hitung cepat Indo Barometer di Jabar 2013 didapati pasangan Ahmad Heryawan - Deddy Mizwar unggul dengan perolehan 32,38% atas paslon Rieke-Teten yang mendapat 27,18%.
"Hasil hitung cepat di hari pencoblosan itu ternyata mirip dengan hasil akhir menurut hitungan resmi KPUD Jabar, di mana paslon Ahmad Heryawan - Deddy Mizwar mendapatkan 32,39% suara sedangkan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki mendulang 28,41% suara. Selisih persentase suara kedua paslon adalah 3,98%. Adapun selisih suara riil adalah 800.316 suara," kata Qodari dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/6).
Sementara itu, untuk memperkirakan hasil penghitungan pada Pilkada 2018 Qodari menyebut simulasi penghitungan suara dapat dilakukan mengacu pada tingkat partisipasi pemilih, jumlah suara sah serta persentase suara yang didapat dari hasil hitung cepat.
Untuk ilustrasi, dalam hitung cepat Indo Barometer, tingkat partisipasi pilkada gubernur Jabar 2018 menurut KPU Jabar adalah 67,88%. Jika dikalikan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 2018 sebanyak 31.781.089 orang maka didapatkan angka partisipasi 21.573.003 pemilih.
Di antara angka partisipasi ini ada suara tidak sah 3,01%, sehingga suara sah berjumlah 64,87% dari DPT yang jika dikalikan dengan DPT sama dengan 20.616.392 suara.
"Jika suara sah 20.616.392 dikalikan perolehan Rindu 32,40% didapat suara 6.679.711 orang. Sementara suara Asyik 5.883.918 didapat dari 28,54% dari 20.616.392 suara sah maka selisih Rindu dan Asyik dengan demikian 795.793 suara," ujarnya.
Menurutnya angka perolehan suara tersebut tidak akan berbeda jauh dengan KPU Jabar. Karena berkaca pada Pilkada 2013 menurut hitung cepat Indo Barometer dengan jumlah partisipasi sebanyak 64.24% hanya berbeda 0,79% dengan angka riil dari KPUD 63.45%.
Namun demikian, Qodari menegaskan untuk memperoleh hasil yang pasti dan final masyarakat diharap menunggu hitungan resmi KPUD sampai diumumkan pada 9 Juli nanti.
"Jika masyarakat dan media ingin memantau, proses perhitungan secara elektronik sudah dimulai dan dapat diakses via alamat https://ppid.kpu.go.id.," terangnya. (OL-3)
Selama korupsi kepala daerah hanya dipandang sebagai kasus sporadis tanpa menyentuh akar permasalahan, praktik lancung ini akan terus berulang.
Dalam situasi tersebut, kemunculan partai baru justru memunculkan tanda tanya besar soal tujuan pendiriannya.
Pembaruan UU Pemilu merupakan mandat yang telah diberikan pimpinan DPR RI kepada Komisi II untuk dibahas secara mendalam.
DOSEN Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM, Dr. Mada Sukmajati menilai, argumen Pilkada melalui DPRD atau Pilkada tidak langsung masih perlu didukung data ilmiah.
WAKIL Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menegaskan bahwa DPR RI bersama Pemerintah telah sepakat tidak melakukan revisi UU Pilkada
WAKIL Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad mengatakan penerapan pemungutan suara elektronik atau e-voting dalam pelaksanaan pilkada dapat menghemat anggaran secara signifikan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved