Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Kita bukan Lato-Lato

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
18/1/2023 05:00
Kita bukan Lato-Lato
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ALKISAH pada suatu masa yang katanya sudah modern, serbadigital dengan dukungan kecanggihan teknologi 5.0 bahkan lebih, muncullah sebuah permainan tradisional yang tiba-tiba menjadi tren.

Namanya lato-lato. Permainannya biasa saja, tidak neko-neko, sama sekali tidak mencerminkan kecanggihan atau modernitas. Cara mainnya hanya membentur-benturkan dua bola plastik yang terhubung oleh tali atau gagang tipis yang juga terbuat dari plastik. Amat sederhana.

Namun, entah kenapa permainan lama itu mendadak kembali digandrungi banyak orang. Sepertinya gara-gara Tiktok, sebuah medium yang memang kerap kali membuat sesuatu yang kita pikir biasa saja tiba-tiba menjadi viral tanpa rumusan sebab musabab yang pasti.

Hari ini, lato-lato dimainkan banyak orang, bahkan hampir semua orang. Tidak pandang usia, tidak kenal kasta, tidak pula melihat strata, apalagi agama. Dari anak SD sampai mahasiswa, dari pekerja kantoran sampai pelaku UMKM, dari yang mungkin sedang merintis bisnis startup hingga pengangguran, ujug-ujug semua jadi pemain lato-lato.

Tentu ada yang bisa memainkannya dengan fasih, tapi kebanyakan tidak. Yang penting mencoba; bisa atau tidak, urusan lain. Selanjutnya yang ada hanya tertawa dan gembira. Sepertinya tidak ada orang yang jadi stres atau depresi gara-gara gagal memainkan lato-lato.

Lantas, sekadar permainan yang sedang populer tanpa maknakah lato-lato? Mestinya, sih, tidak. Kata pujangga, selalu ada makna pada setiap putaran bumi berikut seluruh isinya. Lato-lato pasti punya makna di balik kesederhanaannya. Minimal ia mampu membuat orang senang, sejenak melupakan kepenatan hidup yang saban hari rajin menghampiri.

Lato-lato ialah sarana untuk jeda sekaligus instrumen bagi kita untuk mau menertawakan ketidakmampuan kita sendiri. Bukankah orang bijak pernah bilang, level tertinggi manusia itu terjadi ketika ia sudah mampu menertawakan kebodohan atau kekurangan diri sendiri? Tanpa kita sadari, lato-lato mungkin sedang membawa kita menuju derajat kearifan tertinggi sebagai manusia. Amin.

Dengan sudut pandang lain, lato-lato juga memberi pesan sebagai sindiran bagi kehidupan. Itu kiranya yang barangkali ingin disampaikan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus melalui posting-an di akun Instagram-nya, awal pekan ini. Gus Mus memasang gambar alat permainan lato-lato disertai caption yang pendek, tapi menusuk, '#FatwaAhad: Jika bukan mainan, jangan mau dibentur-benturkan'.

Singkat, padat, lugas. Kalau boleh kita menafsirkan, konteks kalimat pendek itu sepertinya merujuk pada kondisi masyarakat belakangan ini yang begitu mudah dibentur-benturkan. Publik gampang sekali dihadap-hadapkan, coba dikutub-kutubkan tangan-tangan kuat tak kasatmata. Analoginya mirip dengan lato-lato, rakyat ibarat bolanya, sedangkan sang penguasa yang memegang gagangnya, memainkannya sesuka hati sembari terkekeh.

Karena itu, lato-lato sejatinya alat untuk mengingatkan kita sebagai insan berjiwa agar jangan pernah mengerdilkan diri sendiri dengan memosisikan diri hanya sebagai mainan. Jika ia pasrah menjadi mainan, nasibnya tidak akan jauh-jauh seperti bola lato-lato. Dibenturkan terus-menerus sampai yang memainkannya bosan dan berhenti.

Lantas bagaimana ikhtiar kita supaya tidak berakhir sekadar menjadi lato-lato? Salah satu jawabannya, jika merujuk pada penelitian Sulfikar Amir, associate professor bidang sosiologi di Nanyang Technological University, Singapura, yang ditulis di kolom opini Media Indonesia, Senin (16/1), ialah memperkuat kohesi sosial.

Kohesi sosial yang kuat, sesuai dengan hasil penelitian yang dia lakukan untuk wilayah Jakarta, akan menutup ruang munculnya fenomena pengutuban (polarisasi). Itu berarti pula ketahanan fondasi sosial yang tinggi akan meminimalkan celah bagi kekuatan-kekuatan tak terlihat yang terus berniat membentur-benturkan rakyat.

Jadi, silakan mainkan terus lato-lato Anda karena itu bisa membahagiakan Anda. Namun, jangan lupa resapi pula maknanya.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan