Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Pemikiran Sempit sang Gubernur

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
05/9/2019 05:10
Pemikiran Sempit sang Gubernur
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI)

MENYEMPITNYA pembuluh darah bisa bikin orang stroke atau mengalami serangan jantung. Apa yang dialami warga kalau gubernurnya mengalami penyempitan pemikiran?

Sempit atau luasnya pemikiran seorang gubernur tertangkap antara lain dari kata-katanya. Semakin spontan kata-kata itu meluncur dari mulutnya, kiranya kian mencerminkan 'aslinya' sang gubernur.

Dalam bicara, orang memproduksi teks. Dalam kedudukannya sebagai gubernur, tentu diharapkan teks yang diproduksi bermakna kepublikan cukup luas, paling tidak seluas wilayah kekuasaannya.

Cukup luas karena figur gubernur sebetulnya sebuah potret besar dalam ruang lingkup besar yang melampaui batas-batas teritori 'kediamannya' sebagai pemimpin Bayangkanlah orang yang berkedudukan sebagai gubernur bank sentral, gubernur akademi militer, gubernur Lemhannas, bahkan gubernur Hindia Belanda.

Gubernur berada di sebuah ketinggian yang tidak terlalu jauh dari luasnya bumi tempat dia berpijak. Tidak terlalu jauh, sekalipun lebih tinggi daripada bupati/wali kota.

Dalam keluasan dan ketinggian itu gubernur tidak boleh tercerabut dari bumi tempatnya berpijak sampai lupa 'daratan' bahwa mereka dipilih warga yang beraneka ragam identitasnya. Mereka terpilih untuk mengabdi bagi sebesar-besarnya kemaslahatan warga yang beraneka ragam, yang plural.

Pilgub (seperti juga pilpres) dapat menyebabkan terciptanya sebuah lanskap politik yang terpolarisasi di daerah pemilihan tertentu. Setelah sang gubernur terpilih, seyogianya dia segera mencairkan kutub-kutub polarisasi, menegakkan integrasi regional, bahwa dia gubernur bersama, gubernur bagi semua warga di provinsi itu, apa pun suku, ras, dan agamanya.

Bahkan, sang gubernur dituntut untuk berpikir besar, berkemampuan mencandrakan wilayah yang dipimpinnya sebagai bagian dari cakrawala global. Memacu pertumbuhan ekonomi dari sektor turisme, umpamanya, tiada lain membawa bumi tempat berpijak menjadi juga tempat warga dari dunia lain untuk 'sementara waktu' hidup bersama kita.

'Sementara waktu' dapat bermakna 'beberapa hari' atau lebih. Makin lama makin baik karena makin panjang length of stay turis makin banyak devisa dihasilkan.

Dalam cakrawala besar itu tiba-tiba ada seorang gubernur yang menyempitkan pemikirannya menjadikan wisata Danau Toba sebagai wisata halal. Gubernur itu Gubernur Sumatra Utara. Namanya Edy Rahmayadi. Dia jenderal berbintang tiga. Sekarang dia berkilah menyatakan ada yang mendramatisasi pernyataannya. Akibatnya, katanya, informasi yang menyebar jadi salah.

Gubernur silakan berkelit. Namun, makin Anda meluruskan omongan Anda, hasilnya malahan semakin bengkok, semakin dolak-dalik. Orang yang datang ke Bali tahu mana makanan halal, mana makanan haram, tanpa perlu gubernurnya memproklamasikan diri bahwa Bali sebagai wisata halal.

Orang yang datang ke Danau Toba pun tahu benar mana restoran halal, mana restoran haram, dan hanya dari pemikiran gubernur sekarang ini tercetus untuk membahasakan wisata Danau Toba sebagai wisata halal. Bukan pendapat berlebihan kalau ada yang menilai sang gubernur belum move on dari polarisasi pilkada.

Setelah terpilih dan dilantik, seorang gubernur diharapkan bijak mendengar dan berpengertian dalam perkataannya sehingga dirinya terhindar dari cemooh. Dari mulutnya warga rindu mendapat kata-kata bermakna untuk semua. Bukan malah bicara yang menunjukkan sempitnya pemikiran.

Kata orang arif, yang saya suka mengutipnya dan sulit melaksanakannya, di dalam banyak bicara akan ada pelanggaran. Karena itu, pemimpin diminta berkemampuan menahan bibirnya, bahkan tekapkanlah tangan pada mulut.

Yang boleh banyak omong itu warga biasa yang sudah bayar pajak, tapi gubernurnya banyak omong dan ngawur akibat sempit pemikirannya.



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."