Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Investasi dan Ekspor

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
22/6/2019 05:10
Investasi dan Ekspor
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI)

PRESIDEN Joko Widodo kembali menyampaikan kekecewaannya terhadap kinerja investasi dan ekspor. Sudah enam kali rapat terbatas kabinet membahas dua persoalan itu, tetapi tidak pernah ada hasil nyata yang bisa dirasakan.

Inti persoalannya sebenarnya terletak pada kemauan kita untuk menyamakan cara pandang terhadap yang namanya investasi dan kemudian melepaskan ego sektoral. Mustahil kita akan bisa menarik investasi apabila setiap kementerian hanya memikirkan agendanya sendiri dan tidak peduli terhadap arah besar yang ingin kita capai.

Dalam kolom terakhir kita sudah angkat bagaimana menariknya Indonesia di mata investor asing. Perusahaan Jepang, Inpex dan Shell, berani untuk menanamkan modalnya sampai US$20 miliar atau hampir Rp300 triliun untuk menggarap Blok Migas Masela di Maluku. Kalau tidak ada jaminan mendapatkan keuntungan, siapa mau bertaruh dengan uang yang begitu besar.

Hal yang sama dilakukan pengusaha Indonesia. Prajogo Pangestu misalnya, berani investasi US$3,2 miliar untuk mengambil alih pembangkit panas bumi dari Chevron. Pabrik Petrokimia Chandra Asri pun terus berekspansi meningkatkan produksi. Bersama Michelin, Prancis, Prajogo juga sedang membangun pabrik bahan baku ban sintetis di Serang, Banten.

Banyak pengusaha asing dan juga Indonesia berminat menambah investasinya di sini. Namun, mereka tidak mendapatkan dukungan yang penuh dan optimal dari pemerintah.

Sering kali dukungan dari satu kementerian, tidak diikuti dukungan kementerian yang lain. Dalam eksplorasi migas untuk meningkatkan kapasitas produksi misalnya, hambatan datang dari Direktorat Jenderal Pajak serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Orang yang baru mau memulai kegiatan produksi sudah dihadang biaya-biaya di depan. Memang ada janji untuk mendapatkan restitusi, tetapi kita tahu mengurus restitusi itu bukan hanya lama, melainkan juga biayanya yang tidak murah.

Tidak bosan kita angkat pengalaman anak perusahaan Perusahaan Gas Negara, Saka Energi, untuk melakukan eksplorasi di Perairan Lamongan. Waktu untuk mengurus izin pengurusan penyewaan rig dari luar negeri membutuhkan waktu 2 tahun. Padahal, biaya sewa rig satu hari itu mencapai US$200 ribu.

Pengusaha tidak pernah dilihat sebagai partner pembangunan. Kita sering kali hanya melihat pengusaha sebagai orang yang sekadar mencari untung. Tidak pernah kita mau melihat, untung itu hasil dari sebuah proses. Tidak sedikit pengusaha yang sudah berupaya membesarkan usahanya, akhirnya malah kehilangan modalnya.

Tidak usah heran apabila persepsi pejabat kepada yang namanya pengusaha sering kali negatif. Yang sering kali dibangun ialah kecurigaan. Akibatnya, pejabat cenderung menghindar dan bahkan tidak mau membantu pengusaha mencarikan jalan keluar ketika menghadapi masalah.

Padahal, seharusnya pengusaha dilihat dari rekam jejaknya. Pengusaha yang telah merintis usahanya sejak lama dan jelas kegiatan usahanya, pasti tidak berani mempertaruhkan reputasi untuk kegiatan-kegiatan yang bisa merusak nama baiknya.

Penegak hukum kita kalau sudah menjadikan seorang pengusaha sebagai target operasi, tidak pernah mau melihat fakta-fakta itu. Bahkan mereka tidak peduli kepada kelangsungan usaha orang itu, padahal ada ribuan orang yang bisa terpengaruh kehidupannya ketika hukum diterapkan secara membabi buta.

Tidak terkecuali terjadi juga pada badan usaha milik negara. Tidak sedikit Direksi BUMN harus berurusan dengan penegak hukum hanya karena kebijakan korporasi yang ia lakukan. Padahal, tidak ada niatan jahat atau kick-back yang diterima dari investasi yang dilakukan.

Kalau presiden berharap investasi mengalir lebih deras ke Indonesia, persoalan ini harus diselesaikan. Selanjutnya kita perlu fokus kepada lima sektor industri yang sudah ditetapkan untuk dibangun dan semua pihak harus berkontribusi agar tujuan besar itu bisa tercapai.

Dengan adanya fokus pembangunan industri yang kita lakukan, maka cara untuk mendorong ekspornya pun bisa dibuat lebih terarah. Apalagi jika pada pemerintahan mendatang ada pemisahan antara perdagangan dalam negeri dan perdagangan luar negeri yang berorientasi ekspor.

Kementerian Perdagangan ke depan tidak salah apabila tugasnya hanya mengendalikan urusan perdagangan dalam negeri agar tingkat inflasi bisa dikendalikan. Urusan perdagangan luar negeri diserahkan kepada Kementerian Perindustrian sehingga kita memiliki Kementerian Industri dan Perdagangan Internasional yang akan lebih memudahkan kita mengukur kinerja ekspornya.



Berita Lainnya
  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.

  • Untung Ada Lebaran

    30/3/2026 05:00

    ADA celetukan sangat viral pada 1980-an dari almarhum Gepeng. Pelawak Srimulat itu berucap, "Untung ada saya."

  • Tahanan Istimewa

    26/3/2026 05:00

    YAQUT Cholil Qoumas memang telah kembali dijebloskan ke balik jeruji besi rumah tahanan KPK.

  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik