Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA tiga urusan besar bangsa dan negara ini. Pertama, negara kompeten. Kedua, penegakan hukum kuat. Ketiga, warga kompeten.
Tanpa ketiga kualitas itu, demokrasi kita rawan diambrukkan dengan cara-cara inkonstitusional. Ditangkapnya tersangka makar pasca-Pilpres 2019 menunjukkan hal itu.
Kiranya benar penilaian bahwa demokrasi kita dalam stagnasi. Bila meletus huru-hara yang tidak terkendali, demokrasi berumur 20 tahun dapat habis seketika.
Untunglah kita punya negara kompeten. Negara kompeten itu terekspresikan melalui kerja KPU dan Bawaslu. Sekarang giliran MK menunjukkan bahwa negara kompeten menangani sengketa pemilu.
Sudah tentu negara kompeten terekspresikan dengan efektif melalui kerja Polri yang dibantu TNI sehingga keamanan dan ketertiban terjaga dan terkendali.
Negara kompeten bakal tergerogoti apabila tidak disertai dengan kuatnya penegakan hukum. Hukum kuat menghadapi siapa pun, apakah elite sipil yang menganggap dirinya tokoh berpengaruh ataupun jenderal purnawirawan yang dirinya berjasa bagi bangsa dan negara.
Orang-orang tersangka makar, sipil ataupun purnawirawan militer, cepatlah dibawa ke pengadilan. Selebihnya biarlah kekuasaan majelis hakim yang bebas dan merdeka memutus apakah mereka bersalah atau tidak. Apa pun keputusan hakim pengadilan, seperti juga apa pun keputusan hakim MK, kita sama-sama menghormatinya.
Demokrasi tentu juga tidak dapat tegak selamanya tanpa warga kompeten. Semakin baik kompetensi warga, semakin baik bagi demokrasi langsung ataupun perwakilan. Apa tanda-tandanya?
Warga kompeten ialah warga peduli seberapa baik institusi politik bekerja. Mereka ingin membuat institusi itu sebaik mungkin.
Tanda yang lain mereka tahu bagaimana melibatkan diri dalam perbincangan publik dengan sesama warga, sesama anak bangsa. Bahkan, membawanya ke ruang privat. Singkatnya, demokrasi dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.
Keributan setelah Pilpres 2019 menunjukkan kompetensi warga belum mencerminkan predikat yang kita sandang sebagai negara demokratis terbesar berpenduduk muslim terbesar di dunia. Sejujurnya kompetensi warga masih buruk, bahkan diperburuk oleh elite yang sebetulnya paham benar apa itu 'keadaban politik', tetapi malah hendak merusaknya karena kalah dalam pilpres.
Hemat saya, diperlukan kerendahan hati sesama anak bangsa untuk mengakui bahwa untuk mempertahankan demokrasi langsung dalam pilpres di masa depan yang tidak terlalu jauh (2024), kita perlu bersama-sama meningkatkan kompetensi warga. Rasanya ini pekerjaan rumah amat berat. Untuk apa? Agar di satu pihak warga berlapang dada menerima kekalahan, di lain pihak warga berkemampuan memisahkan mana elite yang mengeruhkan, mana elite yang mencerahkan.
Kita menghadapi paradoks yang absurd, yaitu bagaimana menjadikan warga kompeten menyiangi elite, bahkan warga pula yang menyadarkan elite di ruang publik. Bukan sebaliknya. Dalam duka, kiranya bersinar harapan, kemarin mereka yang pernah bertarung berkumpul dan bertemu mengantarkan Ibu Ani Yudhoyono ke peristirahatannya yang terakhir. Bukankah publik dapat membayangkan betapa indahnya pertemuan elite itu seandainya ada Prabowo di situ?
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved